Sunday, November 3, 2013

'Iedul Ghadir, sebuah hari raya?

Ada yang bertanya pada saya sekaitan "Hari raya" iedul ghadir. Saya jawab, itu adalah tradisi umat Islam bermadzhab syi'ah. Apakah salah? Jawabnya sederhana, apa tradisi ini pernah disunnahkan oleh Rasul sebagai hari raya? Atau, sekurang-kurangnya apakah hal itu pernah di lakukan oleh imam Ali sendiri diwaktu beliau menjabat Amirul mukminin? Jika jawabnya tidak, maka, itu cuma sebuah perhelatan kultural madzhab biasa saja, bukan hari raya. Sebab suatu ibadah, harus punya landasan hukum yang jelas dan minimal pernah dilakukan oleh Rasul. Lalu, Sesatkah? Jika didalam acara tersebut ada kegiatan yang memuja makhluk secara berlebihan, mengkultuskan sesuatu terhadap Allah, menobatkan seseorang menjadi Nabi/Rasul sesudah Muhammad SAW, membuat ritual ibadah baru yg tak pernah dibuat dan dicontohkan Rasulullah, ya jelas itu menyimpang.


Nah, apakah aktivitas yg ada dalam penyelenggaraan iedul ghadir baru2 ini ada hal2 demikian? Wallahu a'lam. Saya tidak tahu, karena saya tidak hadir disana. Silahkan saja di kroscek sama orang-orang yang melakukan peliputan maupun mereka yang menghadirinya,


AKU (dari untaian hikmah untukku: Uje)

Saat ku bercermin
Masih kulihat wajah yang penuh dengan kesombongan

Saat ku bercermin
Masih kulihat diri yang ingin dipuji dan dihormati

Saat ku bercermin
Masih kulihat ketinggian hati yang tak mau direndahkan

Saat ku bercermin
Lalu kulepas seluruh pakaianku
Kulihat tubuhku yang telanjang

Barulah aku sadar
Ternyata itulah diriku yang sebenarnya

Tak punya apa-apa
Dan tak berarti apa-apa
Jika tanpa pakaian
Apalagi akal pikiran

(Taken from : Uje, untaian hikmah untukku)

Status FB saya, 03 November 2013.

Pamer Aurat...anda tak punya malu ya?

Jaman sekarang, memamerkan aurat sudah bukan hal yang tabu lagi ya? Sementara orang yang bicara agama, dianggap kolot. Gitu ya? Buka aurat lalu dipamerin di FB, Twitter, Path dan social media lainnya sambil ketawa emang sesuai dengan kaidah dan norma agama? 

#istighfar


Status FB saya, 03 November 2013

Kasus perzinahan siswa SMPN di Jakarta

Kasus perzinahan siswa salah satu SMP Negeri di Jakarta beberapa waktu lalu, menurut saya hanya sebuah kasus yang "kebetulan" saja terekspos kepublik. Jika kita lihat fakta dilapagan, terutama di Jakarta sendiri khususnya, pergaulan dikalangan pelajar (baik itu SMP maupun SMA) sudah sedemikian bebasnya. Bukan sekali dua kali saya bertemu dan melihat pelajar perempuan yang mengenakan rok sekolah pendek diatas lutut sembari berangkulan dengan lawan jenisnya yang juga berseragam sekolah. Baik itu memegang pundak maupun pinggang layaknya suami istri yang sedang dimabuk asmara yang tengah bermulan madu. Itulah potret kehidupan remaja pelajar di kota besar.


Pengalaman di Transjakarta: Dimana Adabnya?

Satu pengalaman saat didalam busway TransJakarta, semua orang sibuk dengan ponselnya sendiri. Ada yang buka games, ada yang buka path, line, fb, twitter dan sebagainya. Benar-benar individual sifatnya. Tak ada lagi senyum maupun tegur sapa. Bahkan, ya mohon maaf nih, beberapa kali saya memberikan tempat duduk saya sama perempuan yang berdiri, tidak ada ucapan terimakasih. Ini bukan tentang ikhlas tak ikhlas atau pamrihnya ya... tapi maksud saya, apa sudah sedemikian angkuhnya watak orang-orang kota besar sehingga melupakan adab ketimurannya? boro-boro kita bicara soal adab Islami ya, tapi dari hal yang terkecil sajalah dulu. Ternyata, kesibukan rutinitas, kerasnya pergulatan hidup, bisa membuat manusia berubah karakter. Nyaris tak ada lagi nuansa kekeluargaan, semuanya individual. 

#catatanperjalananku


Status FB saya, 02 November 2013

Friday, November 1, 2013

Tidak perlu membaca usholli

Pernah ada sahabat bertanya sama saya berkaitan dengan bacaan niat sholat tertentu. Bacaan niat disini dalam artian membaca lafash "Usholli fardhal/sunnaa ... raka'atin". Kemudian saya jawab bahwa saya tidak pernah membaca secara lafas demikian untuk niat sholat apapun, baik yang wajib maupun yang sunnah. 


Sebab pertama, hal ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya, jika memang perkara ini baik maka tentu beliau SAW lebih mengetahuinya. Ingat, ini perkara ibadah pokok. Fakta tidak ada satu hadispun bercerita tentang ajaran pelafasan niat semacam itu. Jadi, perbuatan tersebut tidak bersumber dari Rasul. Hal kedua, saat saya hendak melakukan sholat, maka pastinya sudah langsung terpatri didalam hati sejak lintasan pikiran itu terwujud, diamalkan dalam bentuk thaharah kemudian berdiri siap untuk takbir yang didahului oleh qomat.


Jangan menulis nama suami dibelakang nama istri

Status ini pengulangan dari status saya beberapa bulan lalu, dimana seorang perempuan muslimah jika ia bersuami maka sebaiknya dan sebenarnya, tidak menempelkan nama suaminya dibelakang namanya. Pakailah nama ayahanda kalian masing-masing, itulah nasab kalian, root kalian, identitas kalian, bukan suami kalian. Tidak pernah ada ditulis nama 'Aisyah Muhammad, Fatimah Ali dan semacamnya. Jadi, jangan ditulis Mita Arman, Ida Burlian, Dewi Angga dan seterusnya, kecuali ID Arman, Burlian dan Angga itu adalah nama ayah. Inilah kaidah yang benar menurut kitabullah, al-Qur'an.