Sunday, December 8, 2013

Saya izinkan istri ikut kajian Salaf.

Tadi pagi, istri izin untuk ikut kajian Salaf. Ya silahkan. Terus ditanya, apa saya tidak khawatir cara berpikir beliau akan berubah? saya senyum saja dan jawab, hidayah itu hak-Nya Allah. Kebenaranpun miliknya Allah. Sebagai bagian dari proses pendewasaan iman dan berpikir, selama itu baik, silahkan. Toh setelahnya kita bisa saling tukar pikiran kembali dan kita diskusikan apa-apa hasil dari pengajiannya. Kita kembangkan ulang wawasan yang ada, kita kaji nashnya secara utuh secara out of the box, lepas dari semua sekat madzhab dan sekterianismenya.


Jadi easy going sajalah. I'm an open minded person insyaAllah. Jika hanya mendapat ilmu dari satu sisi, juga kurang baik untuk latihan berpikir dan pengembangan wawasan.


Status FB, 08 Des 2013 

Maaf. Saya tidak berdebat secara doktrinal!

Saya membuka diri untuk berdiskusi lintas agama dan lintas madzhab, baik secara langsung tatap muka maupun melalui forum diskusi yang memang khusus mewadahi untuk ini, terutama dalam majelis Iqra yang saya dirikan sejak 2006 lalu. Tapi maaf, syarat saya ada satu. Kita diskusi tidak langsung doktrinal tetapi mari kita mulai pembahasan dari hal-hal yang sifatnya rasional dulu. Dari titik ini, kita bisa mengukur sedalam apa ilmu dan pengetahuan serta cara berpikir setiap orang dari kita. Jika anda tidak siap dengan konsep saya ini, maka sebaiknya batalkan saja diskusi dengan saya. Sebab saya tidak ingin mengobral nash-nash agama secara percuma hanya untuk mencari pembenaran dengan saling membenturkan doktrin. 


Untuk diskusi tatap muka langsung, silahkan kita atur jadwalnya. InsyaAllah, saya pastikan selama saya masih hidup, saya akan datang. Jika perlu kita open to public dan disaksikan oleh banyak orang.


Status FB, 08/12/2013

Saturday, December 7, 2013

Pada akhirnya kita menuju kubur!

Hidup cuma sementara, setinggi apapun ilmu kita, sebaik apapun status sosial kita, kemanapun kita pergi dipenjuru dunia ini pada akhirnya kita akan mati dan kita akan berakhir dengan pergi kekubur.

08,12.2013 | http://armansyah.net/


Dari status FB, 08 Des 2013

Apakah kita berbakti?

Sahabat, dulu waktu kita kecil, orang tua kita berpuluh bahkan mungkin sudah beratus kali memandikan jasad kita ini. Hal itu dilakukan berulang-ulang sejak kita bayi merah sampai kita mencapai akil baligh dan mampu mandi sendiri. Ingatkah anda saat-saat itu? saat dimana kita begitu gembira dimandikan oleh orang tua kita? tapi sahabat, sudahkah kita membalas hal yang sama pada orang tua kita? terutama saat mereka sakit dan tak mampu membersihkan tubuhnya dari kotoran? boleh jadi kita hanya satu kali seumur hidup ikut memandikan mereka, yaitu saat mereka terbujur kaku sebagai jenasah. Itupun, mungkin jika kita ikut memandikannya. Ya masih syukur jika bila kita yang mensholatkan mereka. Celakanya bila memandikan tidak, mensholatkanpun tidak, bahkan ikut turun kedalam kubur untuk meletakkan jasadnya ditanahpun kita tidak ikut. Semua orang lain yang melakukannya.


Alhamdulillah, saat almarhum orang tua saya wafat ditahun 2000 lalu, saya ikut memandikan beliau, menjadi imam sholat jenasahnya dan masuk keliang kubur untuk mengantarkan beliau tidur panjang didalam tanah merah yang basah. Maaf, saya ingin ini dijadikan motivasi bagi kawan-kawan lainnya, apalagi anda yang kedua orang tuanya masih hidup. Cepat atau lambat, mereka pasti akan kembali kepada Tuhan. Jika masih belum paham bagaimana cara memandikan jenasah, cara mensholatkannya dan cara menguburkannya, ayo sama-sama belajar. Setidaknya, ini satu bakti terakhir pada jasad orang tua kita. 


Ingat, jangan mengeluh. Mereka dulu memandikan kita setiap pagi dan sore tak pernah mengeluh. 


Status FB, 07 Des 2013


Okey?

Muktazilah: Evolusi terhadap kejumudan

Mungkin, banyak orang asing dan boleh jadi pula menyipitkan matanya saat saya menyebut istilah muktazilah. Bagi orang-orang doktrinal, konsep dan cara pandang Muktazilah dianggap sesat karena selalu bermain pada tataran akal didalam menyikapi nash-nash keagamaan maupun problem yang ada pada umat. Tapi bagi saya sendiri, apa yang dipelopori oleh kelompok Muktazilah pada masa dahulu merupakan evolusi besar ditengah kejumudan sebagian orang pada nash yang kadang mengantarkan orang beragama secara membabi buta dan taklid terhadap suatu kaidah tertentu tanpa berani membahasnya lebih jauh dan meninjau nash tersebut secara rasional.



Status FB, 07 Des 2013

Talfiq: Konsisten terhadap kebenaran

Ada yang pernah bertanya pada saya sekaitan konsep saya beragama secara talfiq yang menganggapnya sebagai bentuk ketidak konsistenan bermadzhab, apalagi sebagian ulama menurut mereka ini, tidak mendukung konsep talfiq itu sendiri. Buat saya bertalfiq justru menjadi jalan untuk berlaku konsisten terhadap kebenaran. Mungkin iya saya tidak konsisten terhadap salah satu madzhab tertentu secara khusus, tapi saya berusaha untuk konsisten pada kebenaran yang lebih condong diantara semua madzhab.


Bagaimanapun, madzhab-madzhab itu sendiri baru ada setelah Rasul wafat yang merupakan cara berpikir sejumlah ulama untuk menemukan solusi atas permasalahan yang timbul pada jamannya, baik itu menyangkut penafsiran nash agama maupun konflik yang timbul dan memerlukan ijtihad baru.


Jadi, sah saja bila kita tidak harus konsisten pada satu madzhab tertentu saja. Jika ada yang tidak suka, that is your problem, not mine.



Status FB saya, 07 Des 2013

Rasa dan Periksa

Rasa dan Periksa, ini dua hal penting yang harus selalu kita lakukan didalam hidup, tanpa terkecuali dalam beragama. Sebab rasa saja tanpa ada periksa hanya akan membuat kita beragama secara doktrinal atau beriman membabi-buta, tak jelas mana yang benar-benar al-Haq dan mana yang batil, mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang mubah dan sebagainya.


Status FB saya, 07 Des 2013