Sunday, December 14, 2014

Saran untuk Pipik Dian Irawati

Sebenarnya risih bicaranya tetapi mudah-mudahan dapat menjadi ibroh untuk yang lainnya. Saya hendak menyoroti masalah ini dari sudut kacamata agama. Yaitu terkait adanya isyu kedekatan istri alm. Uje dengan salah seorang artis pria berinisial HK.


Fakta, kita tidak dapat menghalangi sebuah hubungan yang dapat terbentuk kearah pernikahan antara seorang janda dan duda. Apalagi janda tersebut sudah lepas dari masa iddahnya, masih muda dan punya banyak tanggungan anak. Ada pertimbangan psikologis yang harus dijadikan acuan dalam menyikapinya dan memakluminya. Bagaimanapun, janda seorang ustadz --baik ia ditinggal mati suaminya itu ataupun cerai hidup dengan berbagai alasannya-- sama sekali tidak terlarang untuk menikah dan dinikahi kembali oleh pria manapun, ditinjau dari sudut agama. Hanya janda Rasulullah SAW saja yang terlarang untuk dinikahi sesudah wafatnya beliau.




Tetapi meski demikian, hendaknya istri alm. Uje juga mampu untuk menjaga dirinya dari fitnah yang dapat diterbitkan oleh setan. Terlepas apakah diantara mereka saat ini ada hubungan kearah pernikahan atau tidak, fakta isyu itu sudah muncul bahkan dilengkapi dengan foto-foto berdua yang mengindikasikan keakraban --jika tidak ingin ditulis sebagai bentuk kemesraan-- diantara mereka.


Pipik Dian Irawati adalah public figure yang sering dijadikan panutan oleh banyak orang, terlebih beliau adalah istri seorang ustadz terkenal dan juga terlihat beberapa kali memberikan tausiyah keagamaan pasca kematian suaminya. Fitnah ini adalah preseden yang buruk dan mestinya dihindari. Setidaknya, jika memang tidak dapat dihindari dan dicegah, Pipik jangan mau berfoto hanya berduaan saja dengan laki-laki yang bukan mahromnya, apalagi disertai oleh pose-pose --maaf, terkesan menggoda.


Kita di batasi oleh norma agama, apalagi sekali lagi, eksistensi beliau selama ini selalu dikaitkan dengan hal-hal keagamaan. Jika memang ingin kembali melangsungkan pernikahan, maka lakukanlah sesuai syari'at Islam dan jangan menerbitkan fitnah dimasyarakat. Jikapun tidak ada sama sekali kemauan kearah sana, maka bersikaplah sesuai tuntunan agama dalam menjalin komunikasi dan interaksi secara hablumminannas terlebih pada non mahromnya.


Semoga posting ini bermanfaat, mohon maaf-lahir batin bila ada kekhilafan dalam penyampaian. Bila tulisan ini dapat diteruskan pada pihak-pihak yang bersangkutan, saya akan sangat senang hati sebagai bagian dari tawasaubilhaq.


Palembang Darussalam. 14 Des 2014


Armansyah 



Saturday, December 6, 2014

Antara Aceh, Timor-Timur dan Papua (Bag.2)

Antara Aceh, Timor-Timur dan Papua
Oleh : Armansyah


2 dari 2 tulisan
Diposting di TL FB, 06 Des 2014


Sikap rakyat dan tokoh-tokoh Aceh yang awalnya gigih untuk membebaskan diri dari NKRI melalui GAM yang pada akhirnya menerima kesepakatan bersama dengan pemerintah NKRI tidak dapat dilepaskan dari contoh yang pernah dilakukan oleh junjungan utama mereka dalam beragama, yaitu insan mulia yang bernama Muhammad ibni Abdillah, Rasul Allah.


Dulu, pada tahun 628 M, Rasul yang mulia ini pernah memberikan keteladanan politik melalui perjanjian Hudaybiah dengan kaum kafir Quraisy. Sebuah kesepakatan perdamaian yang sebenarnya tidak adil untuk kaum muslimin dan cenderung merugikan mereka. Tidak sedikit sahabat yang merasa tidak puas dengan perjanjian yang disetujui oleh Nabi kala itu, tetapi kesepakatan itu terus berjalan meski Beliau SAW sadar betul atas seluruh konsekwensi yang akan dihadapinya.


Kejadian ini merupakan perdamaian Islam pertama yang ditulis dengan tinta emas dalam torehan sejarah. Terbukti kemudian, strategi politik yang digunakan oleh Rasulullah dalam menerima perdamaian yang berat sebelah itu pada akhirnya mampu menghasilkan pertambahan kesadaran kaum kafir terhadap kesalahan mereka sehingga berbalik arah menjadi pendukungnya. Atas kejadian-kejadian ini timbullah pengkhianatan dari kaum Quraisy yang mendapat dukungan dari kaum Yahudi sehingga kemudian terjadilah Fathul Mekkah dua tahun setelahnya, yaitu 630 M. Kota Mekkah berhasil ditundukkan dibawah kekuatan Islam tanpa pertumpahan darah.


Belajar dari kejadian tersebut maka umat Islam dinegeri ini, bukan tidak mungkin untuk melakukan hal yang sama sebagai bagian dari tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam proses penaklukkan NKRI kedalam wadah syari'ah sebagaimana Mekkah dijaman itu. Kejadian Aceh bukanlah kejadian pertama dalam sejarah bangsa ini dimana umat Islam menunjukkan kesetiaan serta penghormatan mereka pada nilai-nilai kemanusiaan dan kenegaraan berdasar asas mufakat.


Saat Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto di pertengahan tahun 80-an memaksakan ideologi Pancasila sebagai ideologi tunggal dalam bernegara, berorganisasi dan berserikat, meski diawali dengan sikap pemberontakan serta perdebatan dikalangan para cendikiawan muslim yang hidup pada masa itu tetapi akhirnya dengan alasan yang sama pula, umat Islam bersedia menerima tawaran dari pemerintah. Hal yang sama juga terjadi ketika terjadi pemaksaan fusi partai-partai eks Masyumi kedalam wadah PPP.


Terlepas dari semuanya, saat ini kita sebagai bangsa tengah menghadapi berbagai gejolak yang tidak sederhana. Terkadang apa yang kita sepakati dimasa lalu dapat saja ditinjau ulang dan dirubah apabila hal tersebut sudah tidak lagi memungkinkan untuk diterapkan dimasa sekarang ini. Dunia terus berubah, kondisi juga ikut berubah. Tidak ada hal yang stagnan dalam hidup ini karena memang hidup adalah suatu dinamika yang terus bergerak maju dan berubah-ubah.


NKRI terus diambang perpecahan dari waktu kewaktu. Pasca bebasnya Timor-Timur dijaman pemerintahan Presiden Habibie, sekarang giliran Papua yang menuntut kebebasan serupa. Perlu ada sikap yang tegas dalam penanganan masalah pemberontakan ini. Baik pendekatan diplomasi atau juga melalui pendekatan kekuatan Militer.


Tidak ada negara lain yang berhak mendikte kedaulatan NKRI, termasuk Amerika dan PBB sekalipun. Jika dulu Presiden Soekarno pernah memproklamirkan slogan "Ganyang Malaysia" yang notabene masih bersaudara dengan Indonesia dalam rumpun melayu dan Islam, maka jika hari ini Amerika atau sekutunya bermaksud untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga NKRI, harusnya Presiden Joko Widodo yang terangkat secara politik dari Partai besutan anaknya Soekarno juga dapat memproklamirkan hal serupa pada Amerika atau sekutu-sekutunya. "Kita Ganyang Amerika"!


Pilihan referendum pada masyarakat Papua bukanlah jalan keluar dalam menjaga keutuhan NKRI. Kita perlu belajar dari sejarah lepasnya Timor-Timur. Pemerintah setidaknya punya sejumlah solusi untuk memecahkan kemelut Papua pada hari ini jika tidak ingin mengadakan operasi Militer disana secara besar-besaran. Diantaranya adalah menawarkan otonomi khusus atau mungkin juga pemberlakuan daerah khusus pada Papua sebagaimana terjadi pada Aceh dan Yogyakarta.


Disatu sisi lain, mungkin bentuk negara kesatuan yang merujuk pada jenis Republik di Indonesia ini dapat saja ditinjau ulang. Toh tidak ada yang abadi dan betul-betul sakral dalam kehidupan ini. Hanya kematian saja yang tak dapat kita rubah atau kita mundurkan waktunya. Selain itu segala hal dimungkinkan untuk terjadi. Sebagai bangsa, kita dapat kembali membentuk federasi seperti dulu pernah terwujud pada 1949 dengan sejumlah perbaikan yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing pada jaman ini.


Selain itu, opsi khilafah bagi umat Islam juga merupakan opsi yang menarik dan menjadi kebutuhan tersendiri bila kita melihat dari sudut kacamata fiqh dan nurbuat Rasulullah. Saya percaya teman-teman dari HTI sudah punya cetak biru yang jelas terkait dari konsep khilafah ini. Tinggal kita duduk bersama saja lagi dan membahas hal-hal yang dapat dibicarakan terkait pendirian khilafah di Republik Indonesia.


Toh ini hanya perspektif seorang anak bangsa saja yang boleh dikatakan sedang galau melihat berbagai perkembangan di negaranya. Sebagai seorang Muslim, tentu harapannya adalah sama, yaitu ingin menegakkan syari'at Islam pada seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bertanah air serta pribadi sehingga kita semua dapat menjadi insan-insan kaffah dalam beragama. Tetapi bila kemudian masih harus melewati jalanan terjal berbelok dengan pemerintah yang bersifat taghut maka tetap jadi keniscayaan tersendiri bagi umat Islam untuk dapat duduk dan berunding memikirkan kemaslahatan umat secara lebih besar.


Kembali kepada kasus Papua... kita do'akan pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan baik sehingga Pancasila dan nasionalisme yang sering dijadikan jargon-jargon saat kampanye politiknya dulu benar-benar direalisasikan, bukan malah pada akhirnya berkata : ‪#‎bukanurusansaya‬


Palembang Darussalam, 06 Des 2014


Armansyah

Antara Aceh, Timor-Timur dan Papua (Bag.1)

Antara Aceh, Timor-Timur dan Papua
Oleh : Armansyah


1 dari 2 tulisan
Diposting di TL FB, 06 Des 2014


Maraknya tuntutan Papua untuk merdeka hari ini dan meminta opsi referendum tentu mengingatkan kita kembali terhadap kejadian lepasnya Timor-Timur tahun 1999 yang juga bermula dari opsi referendum yang sama ditawarkan oleh pemerintah Indonesia kala itu. Jika satu demi satu NKRI ini dipreteli oleh gerakan kemerdekaan daerahnya masing-masing maka niscaya lambat laun NKRI pasti akan bubar, sebab bukan tidak mungkin bagi daerah-daerah lain juga menuntut opsi yang sama pada pemerintah pusat.


Adalah menjadi tidak adil bagi rakyat Aceh jika kemudian setelah lepasnya Timor-Timur maka Papua juga akan memperoleh hak kemerdekaannya. Dulu untuk sikap mereka yang menuntut kemerdekaan daerahnya dari NKRI, pemerintah melakukan penanganan dengan operasi Militer yang dikenal sebagai DOM. Setelah melalui proses tawar menawar dan negoisasi yang alot akhirnya terjadilah perdamaian antara GAM dengan pemerintah NKRI. Aceh pun kembali kepangkuan NKRI serta melupakan niat mereka untuk bebas merdeka dari Indonesia.


Jika kemudian Aceh dapat tetap terjaga kedaulatannya sebagai bagian dari NKRI, maka kenapa hal yang sama tidak dapat juga terjadi pada Papua? Jika kemudian gerakan kemerdekaan Papua Barat harus ditangani secara Militer sebagaimana dulu Aceh melalui DOM-nya, maka kenapa sekarang ada perlakuan berbeda terhadap Papua?


Bila pada akhirnya Papua dengan semua trik dan dukungan luar negeri berhasil memaksa terjadinya referendum yang menghasilkan pembebasan mereka dari NKRI maka ini akan menjadi preseden yang tidak baik bagi daerah lain di Indonesia. Mari kita lupakan saja sila ke-3 dari Pancasila, Persatuan Indonesia.


Menarik kemudian jika kita lihat dari kacamata agama, bahwa orang-orang Islam ternyata lebih setia dan terbuka untuk menerima negoisasi ketimbang umat diluarnya. Mereka yang sangat idealis untuk menerapkan syari'at Islam dalam kehidupan bermasyarakat ternyata juga mampu duduk bersama dan melakukan kesepakatan dengan pemerintah yang dianggap bagian dari taghut demi keutuhan NKRI. Berbeda dengan umat lain yang ada di Timor-Timur serta Papua. Ini pun mau tidak mau mengingatkan saya juga pada kejadian Piagam Jakarta yang akhirnya tidak diberlakukan.


Jadi bila kemudian muncul tudingan Muslim itu tidak setia pada NKRI, tanyakan kembali pertanyaan itu pada mereka melalui kacamata sejarah bangsa ini. Janganlah menggunakan pepatah Buruk Rupa Cermin Dibelah. Umat Islam adalah umat paling setia terhadap NKRI. Umat Islam adalah umat yang siap untuk melakukan proses perundingan demi mencapai kemufakatan untuk kemaslahatan bersama. Umat Islam adalah umat yang toleransinya paling tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kenegaraan.


Bersambung 2
Salam dari Palembang Darussalam,
Armansyah

Thursday, December 4, 2014

Belajar dari keseimbangan alam

Oleh : Armansyah


Suatu kekuatan yang dibiarkan menjadi dominan cenderung akan bersikap brutal dan otoriter, olehnya oposisi harus dibangkitkan sebagai penyeimbang langkahnya. Hal ini berlaku dalam semua lini kehidupan kita sebab memang hanya dengan mengkombinasikan kutub positif dan negatif maka tata kerja jagad raya berjalan secara seimbang prosesnya. Begitupula dalam hal agama. Terkadang ada orang yang menganggap alirannya sendiri mutlak benar dan tidak ada tempat bagi orang-orang diluar alirannya itu untuk mengklaim diri memiliki unsur kebenaran juga. Maka timbullah arogansi madzhab seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.




Pengikut syafi'i cenderung menganggap merekalah yang benar dan lainnya salah. Pengikut Hanafi juga begitu, lalu pengikut Maliki dan Hanbali tak ketinggalan. Akhirnya berbuntut-buntut juga ke Indonesia.... qunut tak qunut jadi masalah, baca Bismillah jahr dan sirr dipersoalkan, niat dilafaskan atau tak dilafaskan bisa bersitegangan, sayyidina tak sayyidina saling pelototan mata, tahlilan dan tak tahlilan bisa saling tak bertegur sapa. Ini NU yang itu Muhammadiyah lalu beda masjid.


Tapi ya sebenarnya ada bagusnya juga.... pikiran lama-lama jadi terbuka. Khasanah semakin berkembang dan kedewasaan untuk saling menghargai meski tidak saling mengamini dapat terwujud. Toh bukan cuma di Islam saja.... dulu Kristen juga begitu. Antara Katolik dan Protestan pernah perang. Antara Unitarian dan penganut trinitas pernah gontok-gontokan dan seterusnya. Mudah-mudahan kita tidak cuma menjadi katak dalam tempurung atau melihat dengan kacamata kuda. Baik dalam hal politik, agama atau lainnya. Toh ayat-ayat Allah itu tersebar luas disemesta raya ini. Ada ilmu-Nya yang kita ketahui namun ada jauh lebih banyak lagi ilmu-Nya yang belum kita ketahui.


Salam dari Palembang Darussalam.
04 Desember 2014.


Armansyah.



Kesurupan Jin, Sihir dan Ruqyah

Kesurupan Jin, Sihir dan Ruqyah 


Oleh : Armansyah


 


Beberapa waktu terakhir ini, istilah ruqyah mendadak populer kembali ditengah kecamuk kehidupan kota besar yang sarat dengan teknologi canggih dan peradaban modernnya. Meski demikian, istilah ini biasanya selalu dihubungkan dengan fenomena kejadian adikodrati terkait kesurupan Jin yang mengenai satu atau sejumlah orang pada tempat tertentu.


ilustrasiruqyah


Sebelum berbicara panjang lebar tentang ruqyah, saya hendak mencoba berbicara dulu mengenai fenomena kerasukan Jin.


Untuk mengingatkan sejenak, dulu saya pernah membahas panjang lebar tentang Jin disini :


https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/11/melihat-jin/


begitupula akan halnya dengan setan, disini :


 https://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/01/18/mengenal-setan/


Nah, adanya fenomena kerasukan Jin, entah apapun masyarakat menyebut entitasnya (ada yang menyebut dengan nama genderuwo, kuntilanak, pocong, lelembut, dedemit, ratu ini ratu itu, prabu anulah, leak dan sebagainya) adalah dimungkinkan dari sisi ilmiah maupun dalam nash agama Islam.


Wujud Jin dalam sejumlah nash agama disebut berasal dari api dan dengan wujudnya itu ia tak dapat terlihat oleh mata lahiriah manusia namun sebaliknya ia dapat melihat manusia.


Perbedaan bentuk fisik dan asal penciptaan ini juga yang pernah membuat Iblis (salah satu dari jenis Jin) merasa dirinya lebih mulia dan menolak tunduk pada ketentuan Allah agar bersujud terhadap bapak moyang manusia, Adam. Atas pembangkangannya itu, Iblis akhirnya di usir dari syurga (Jannah) setelah terlebih dahulu Allah menyetujui permintaan Iblis agar diberi kebebasan dalam mempengaruhi anak keturunan Adam kepada apa yang dikehendaki oleh Iblis.


Selanjutnya Iblis mulai menebar racun-racun tipu dayanya pada Bani Adam dengan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari Jin-jin kafir (pembangkang) serta manusia-manusia jahat yang selanjutnya disebut sebagai setan-setan.




Musnad Ahmad 21257: Telah bercerita kepada kami Abu Mughirah telah bercerita kepada kami Mu'an bin Rifa'ah telah bercerita kepadaku 'Ali bin Yazid dari Al Qasim Abu 'Abdur Rahman dari Abu Umamah berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam duduk di masjid, mereka mengira wahyu turun pada beliau lalu mereka mengerumuni beliau hingga Abu Dzarr datang dan masuk kemudian duduk didekat Rasulullah Shallallahu 'alaihiWasallam. Nabi Shallallahu'alaihiWasallam menghampiri mereka dan bersabda; "Hai Abu Dzarr! Apa kau sudah shalat hari ini?" Ia menjawab; Belum.


Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Berdiri lalu shalatlah." Seusai shalat empat rakaat dhuha, Abu Dzarr mengampiri beliau. Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Hai Abu Dzarr! Berlindunglah dari setan-setan jin dan manusia." Ia berkata; Hai nabi Allah, apa ada setan manusia? Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Ya, setan-setan manusia dan jin saling membisikkan kata-kata yang dihiasi satu sama lain. Ucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah." Ia berkata; Saya pun mengucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah.



Permusuhan antara manusia (dalam hal ini hamba-hamba Allah yang sholeh dan taat)  terhadap Jin yang kuffar, tidak hanya dari sudut godaannya mempermainkan hati manusia -- yuwaswisufi sudurinnas-- atau melalui penampakan visual dan suara tetapi juga dalam peperangan yang sesungguhnya sebagaimana hadis Rasulullah SAW berikut :


 




مسند أحمد ١٨٧٠٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاءُ أُمَّتِي بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الطَّاعُونُ قَالَ وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَفِي كُلٍّ شُهَدَاءُ


Musnad Ahmad 18707: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad bin Ilaqah dari seorang laki-laki dari Abu Musa ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kehancuran umatku adalah karena Tha'n (fitnah) dan Tha'uun." Kemudian ditanyakanlah, "Wahai Rasulallah, mengenai Ath Tha'n kami telah mengetahuinya, namun apakah yang dimaksud dengan Tha'un?" Beliau menjawab: "Tikaman musuh kalian dari golongan jin. Dan keduanya termasuk mati syahid."



Oleh karena itu sangatlah dimungkinkan bagi kedatangan Jin kuffar pada tubuh manusia dan merasukinya, baik dalam makna membuat dia kesurupan seperti menimpa kesadarannya sehingga mendadak orang itu  meraung-raung, tertawa terkekeh-kekeh atau bergerak seolah sedang melakukan jurus-jurus silat tertentu, mendadak dapat berbahasa asing yang sebetulnya tidak ia kuasai ataupun dalam bentuk paket-paket tertentu di didiri manusia sejenis santet dan guna-guna.


Rasulullah SAW sendiri serta istri beliau, 'Aisyah pernah terkena serangan Jin kuffar seperti hadist-hadist berikut ini:




Shahih Bukhari 2939: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Mutsannaa telah bercerita kepada kami Yahya telah bercerita kepada kami Hisyam berkata telah bercerita kepadaku bapakku dari 'Aisyah radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir sehingga terbayang oleh beliau melakukan sesuatu padahal tidak."


Sunan Nasa'i 4012: Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sari dari Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Ibnu Hayyan yaitu Yazid dari Zaid bin Arqam, ia berkata; terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi yang menyihir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga beliau beberapa hari sakit Karena hal tersebut. Kemudian beliau di datangi Jibril 'alaihissalam dan berkata; sesungguhnya terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi Yang menyihimu. Ia mengikat buhul di sebuah sumur ini, dan ini. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan orang dan mereka mengeluarkannya dan didatangkan kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri seolah-olah beliau terbebas dari ikatan. Dan beliau tidak menyebutkan hal tersebut kepada orang Yahudi itu dan beliau tidak melihatnya di wajahnya sama sekali.


Musnad Ahmad 22996: Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Akhi Amrah tapi aku tidak tahu apakah benar dia atau selainnya, dari Amrah berkata; "Pernah 'Aisyah mengeluh sakit dan sakitnya terus berkepanjangan. Maka seorang ahli kedokteran datang ke Madinah, lalu keponakan-keponakan Aisyah bertanya kepada si dokter tentang sakit yang diderita Aisyah. Si dokter menjawab; 'Demi Allah, kalian menyifati seorang wanita yang terkena sihir, sungguh wanita ini terkena sihir oleh seorang budak permpuannya. Si budak perempuan mengaku terus terang dengan mengatakan; 'Benar, saya ingin dia mati hingga saya bisa merdeka.'" Kata Amrah, budak tersebut adalah budak yang dijanjikan merdeka jika Aisyah meninggal, maka Aisyah berkata; "Juallah dia kepada orang Arab yang paling mulia dan jadikan harganya dengan harga pantas."


Muwatha' Malik 1481: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id dari 'Amrah binti Abdurrahman bahwa Abu Bakar As Shiddiq pernah menemui Aisyah yang saat itu sedang sakit, sementara di sisinya ada seorang wanita Yahudi sedang meruqyahnya. Kemudian Abu Bakar berkata; "Ruqyahlah dia dengan Kitabullah."



Jika seorang Rasul saja dapat terkena sihir dan pengaruh Jin, walau hal itu tidak membahayakan atau mengganggu beliau SAW maka pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan diri kita? Tentu sangat besar sekali kemungkinan untuk dapat terkena serangan-serangan Jin kuffar tersebut.


Sejak jaman dahulu hingga jaman sekarang ini, pada hakekatnya ada sejumlah cara untuk melakukan pengusiran Jin yang merasuki diri seseorang. Salah satu cara yang kemudian kita jadikan judul utama dari posting ini adalah rukyah. Nah, apa itu rukyah?


Pengertian dari istilah ruqyah sendiri diambil dari bahasa Arab "raqa, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan". Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus Arab-Indonesia menerjemahkannya sebagai mantra. John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell tersebut artinya jampi, mantra (sihir).


Ruqyah selanjutnya diartikan sebagai bacaan mantra atau jampi-jampi yakni kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatangkan kekuatan gaib tertentu melalui susunan kata-katanya. Mantra biasanya dibaca oleh orang yang mempercayainya guna meminta bantuan kekuatan yang melebihi kakuatan natural, boleh jadi digunakan untuk meraih manfaat atau menampik mudhorat.


Beranjak dari pengertian ini, maka jampi-jampi atau mantra atau ruqyah itu sendiri ada yang bersifat syar'i dan ada pula yang bersifat syirik ataupun mungkar. Bersifat syar'i apabila mantra, jampi dan ruqyah itu ditujukan kepada Allah Azza Wajalla dan disebut syirik atau mungkar bila ia mengandung ucapan dan kata-kata yang memohon perlindungan kepada Jin, alam, bebatuan atau berhala-berhala lainnya diluar Allah.


Dengan demikian, maka pengertian rukyah syar'i itu tidak harus selalu menginduk sama persis pada bacaan dan cara rukyah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam proses yang pernah beliau lakukan. Boleh saja menggunakan metode ruqyah lain asalkan tidak bertentangan dengan syari'at Islam yang dibawa oleh Rasul.


Mengenal diri untuk mengenal Tuhan

Melengkapi tulisan terdahulu kembali saya ingin mengajak kita semua merenungi sebuah kalimah bijak : Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu, barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.


Jika kita belum mengenal siapa diri kita sesungguhnya maka tidak heran bila kemudian kita melukiskan personifikasi Tuhan sesuai dengan gambaran pikiran kita yang sempit. Kita akan memberhalakan sosok Tuhan dalam rupa makhluk seperti adanya kita. Tuhan akhirnya menjadi dapat bicara, dapat merasa haus dan lapar, dapat ketakutan, dapat terluka bahkan Tuhanpun kita asumsikan dapat terbunuh.


Kenapa demikian? ya karena kita sesungguhnya belum mengenal siapa sesungguhnya diri kita ini dengan baik sehingga entitas yang kita atributkan pada Tuhanpun akan mengikuti daya khayali yang terwujud oleh kebodohan kita tadi.


Sebaliknya orang yang mengenal dirinya secara baik, paham terhadap arti keberadaannya didalam kehidupan ini, mampu membaca seluruh penciptaan alam semesta besar yang terwujud disekitarnya serta mampu pula ia membaca miniatur alam semesta pada struktur tulang, daging, darah dan organ-organ penyusun badannya ialah yang kemudian dapat melepaskan sekatan keberhalaan akan entitas Tuhan.


Ia akan sampai pada satu pemahaman besar bahwa Tuhan tak mungkin berbilang, Tuhan menjadi sentral semua aktivitas harapan serta kejadian, Tuhan tak mungkin pula mempersonifikasikan diri-Nya kedalam sekat makhluk ciptaan-Nya yang penuh keterbatasan yang DIA tetapkan, Dia tak pula bersumber dari dzat lain yang memungkinkan keberadaan-Nya baru terwujud kemudiannya, Tuhan adalah alpha dan omega, DIA adalah yang Maha Awwal dan DIA adalah yang Maha Akhir serta Tuhan yang Maha Suci nan Tak Terbatas itu tak akan pula pernah bisa dipersonifikasikan dalam rupa dan bentuk-bentuk rendah kemakhlukan.


DIA tidak dapat diserupakan dengan manusia suci manapun, DIA tidak dapat disimbolkan dalam bentuk patung, batu, air, pepohonan dan berbagai entitas keberhalaan lainnya yang mungkin terlintas dipikiran manusia.


Hakekat inilah yang diperoleh oleh Ibrahim 'alayhissalam melalui perenungan mendalamnya terhadap penciptaan jagad raya, ketafakuran ini juga yang mengantarkan diri Muhammad Sallallahu 'alayhi wasallam pada derajat tertinggi kemakhlukannya sehingga sampai pada alam syurgawi menjadi penutup pintu generasi kenabian yang memperkenalkan entitas Tuhan semesta alam terhadap para hamba yang sedang mencari-cari keberadaan-Nya.


Akhirnya.... selamat menjalani hari yang penuh hikmah. Semoga tak ada celah kemusryikan dan kekufuran terselip menyelinap didalam jiwa kita. Sebab DIA-lah Allah yang tak ada tuhan kecuali DIA. Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak DIA mengantuk dan apalagi tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.



Palembang Darussalam, 04 Desember 2014


Armansyah

Wednesday, December 3, 2014

Lagi: Tak ada perayaan tahun baruan

Melengkapi dan mengulangi lagi posting saya terdahulu terkait perayaan tahun baru, maka lebih dari satu bulan jelang akhir tahun 2014 saat saya menulis ini di media sosial (24 Nopember 2014), saya kembali hendak mengingatkan pada kita semua umat Islam, terkait hukum penyelenggaraan perayaan tahun baru.


Cuplikan video ini merupakan salah satu tausiyah saya pada generasi muda Islam penerus bangsa pada waktu menyambut tahun baru hijriyah. Mudah-mudahan tetap aktual dan bermanfaat.


 
[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=02ypVfkKoQ4]
 


Intinya : Perayaan tahun baru itu tidak ada tuntunannya secara syari'at. Tahun baru hijriyah diputuskan berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari kota Mekkah menuju Madinah. Sementara momentum apa dibalik perayaan tahun baru masehi ?




Mohon maaf bagi para pengagung tahun baru masehi.... saya tidak ikutan. Jangan undang saya untuk memberikan doa penutup serta pembuka tahun, saya tak hapal dan tidak mau melakukannya. Saya juga tidak ingin ikut merayakannya. Buat saya itu bagian dari tasyabbuh yang dilarang oleh Rasulullah SAW. Malam tahun baru, jika umur ini masih dipanjangkan Allah, mungkin akan saya habiskan bersama anak dan istri dirumah tanpa bakar-bakar jagung, api unggun apalagi bakar rumah