Kesurupan Jin, Sihir dan Ruqyah
Oleh : Armansyah
Beberapa waktu terakhir ini, istilah ruqyah mendadak populer kembali ditengah kecamuk kehidupan kota besar yang sarat dengan teknologi canggih dan peradaban modernnya. Meski demikian, istilah ini biasanya selalu dihubungkan dengan fenomena kejadian adikodrati terkait kesurupan Jin yang mengenai satu atau sejumlah orang pada tempat tertentu.

Sebelum berbicara panjang lebar tentang ruqyah, saya hendak mencoba berbicara dulu mengenai fenomena kerasukan Jin.
Untuk mengingatkan sejenak, dulu saya pernah membahas panjang lebar tentang Jin disini :
https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/11/melihat-jin/
begitupula akan halnya dengan setan, disini :
https://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/01/18/mengenal-setan/
Nah, adanya fenomena kerasukan Jin, entah apapun masyarakat menyebut entitasnya (ada yang menyebut dengan nama genderuwo, kuntilanak, pocong, lelembut, dedemit, ratu ini ratu itu, prabu anulah, leak dan sebagainya) adalah dimungkinkan dari sisi ilmiah maupun dalam nash agama Islam.
Wujud Jin dalam sejumlah nash agama disebut berasal dari api dan dengan wujudnya itu ia tak dapat terlihat oleh mata lahiriah manusia namun sebaliknya ia dapat melihat manusia.
Perbedaan bentuk fisik dan asal penciptaan ini juga yang pernah membuat Iblis (salah satu dari jenis Jin) merasa dirinya lebih mulia dan menolak tunduk pada ketentuan Allah agar bersujud terhadap bapak moyang manusia, Adam. Atas pembangkangannya itu, Iblis akhirnya di usir dari syurga (Jannah) setelah terlebih dahulu Allah menyetujui permintaan Iblis agar diberi kebebasan dalam mempengaruhi anak keturunan Adam kepada apa yang dikehendaki oleh Iblis.
Selanjutnya Iblis mulai menebar racun-racun tipu dayanya pada Bani Adam dengan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari Jin-jin kafir (pembangkang) serta manusia-manusia jahat yang selanjutnya disebut sebagai setan-setan.
Musnad Ahmad 21257: Telah bercerita kepada kami Abu Mughirah telah bercerita kepada kami Mu'an bin Rifa'ah telah bercerita kepadaku 'Ali bin Yazid dari Al Qasim Abu 'Abdur Rahman dari Abu Umamah berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam duduk di masjid, mereka mengira wahyu turun pada beliau lalu mereka mengerumuni beliau hingga Abu Dzarr datang dan masuk kemudian duduk didekat Rasulullah Shallallahu 'alaihiWasallam. Nabi Shallallahu'alaihiWasallam menghampiri mereka dan bersabda; "Hai Abu Dzarr! Apa kau sudah shalat hari ini?" Ia menjawab; Belum.
Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Berdiri lalu shalatlah." Seusai shalat empat rakaat dhuha, Abu Dzarr mengampiri beliau. Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Hai Abu Dzarr! Berlindunglah dari setan-setan jin dan manusia." Ia berkata; Hai nabi Allah, apa ada setan manusia? Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Ya, setan-setan manusia dan jin saling membisikkan kata-kata yang dihiasi satu sama lain. Ucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah." Ia berkata; Saya pun mengucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah.
Permusuhan antara manusia (dalam hal ini hamba-hamba Allah yang sholeh dan taat) terhadap Jin yang kuffar, tidak hanya dari sudut godaannya mempermainkan hati manusia -- yuwaswisufi sudurinnas-- atau melalui penampakan visual dan suara tetapi juga dalam peperangan yang sesungguhnya sebagaimana hadis Rasulullah SAW berikut :
مسند أحمد ١٨٧٠٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاءُ أُمَّتِي بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الطَّاعُونُ قَالَ وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَفِي كُلٍّ شُهَدَاءُ
Musnad Ahmad 18707: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad bin Ilaqah dari seorang laki-laki dari Abu Musa ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kehancuran umatku adalah karena Tha'n (fitnah) dan Tha'uun." Kemudian ditanyakanlah, "Wahai Rasulallah, mengenai Ath Tha'n kami telah mengetahuinya, namun apakah yang dimaksud dengan Tha'un?" Beliau menjawab: "Tikaman musuh kalian dari golongan jin. Dan keduanya termasuk mati syahid."
Oleh karena itu sangatlah dimungkinkan bagi kedatangan Jin kuffar pada tubuh manusia dan merasukinya, baik dalam makna membuat dia kesurupan seperti menimpa kesadarannya sehingga mendadak orang itu meraung-raung, tertawa terkekeh-kekeh atau bergerak seolah sedang melakukan jurus-jurus silat tertentu, mendadak dapat berbahasa asing yang sebetulnya tidak ia kuasai ataupun dalam bentuk paket-paket tertentu di didiri manusia sejenis santet dan guna-guna.
Rasulullah SAW sendiri serta istri beliau, 'Aisyah pernah terkena serangan Jin kuffar seperti hadist-hadist berikut ini:
Shahih Bukhari 2939: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Mutsannaa telah bercerita kepada kami Yahya telah bercerita kepada kami Hisyam berkata telah bercerita kepadaku bapakku dari 'Aisyah radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir sehingga terbayang oleh beliau melakukan sesuatu padahal tidak."
Sunan Nasa'i 4012: Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sari dari Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Ibnu Hayyan yaitu Yazid dari Zaid bin Arqam, ia berkata; terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi yang menyihir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga beliau beberapa hari sakit Karena hal tersebut. Kemudian beliau di datangi Jibril 'alaihissalam dan berkata; sesungguhnya terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi Yang menyihimu. Ia mengikat buhul di sebuah sumur ini, dan ini. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan orang dan mereka mengeluarkannya dan didatangkan kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri seolah-olah beliau terbebas dari ikatan. Dan beliau tidak menyebutkan hal tersebut kepada orang Yahudi itu dan beliau tidak melihatnya di wajahnya sama sekali.
Musnad Ahmad 22996: Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Akhi Amrah tapi aku tidak tahu apakah benar dia atau selainnya, dari Amrah berkata; "Pernah 'Aisyah mengeluh sakit dan sakitnya terus berkepanjangan. Maka seorang ahli kedokteran datang ke Madinah, lalu keponakan-keponakan Aisyah bertanya kepada si dokter tentang sakit yang diderita Aisyah. Si dokter menjawab; 'Demi Allah, kalian menyifati seorang wanita yang terkena sihir, sungguh wanita ini terkena sihir oleh seorang budak permpuannya. Si budak perempuan mengaku terus terang dengan mengatakan; 'Benar, saya ingin dia mati hingga saya bisa merdeka.'" Kata Amrah, budak tersebut adalah budak yang dijanjikan merdeka jika Aisyah meninggal, maka Aisyah berkata; "Juallah dia kepada orang Arab yang paling mulia dan jadikan harganya dengan harga pantas."
Muwatha' Malik 1481: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id dari 'Amrah binti Abdurrahman bahwa Abu Bakar As Shiddiq pernah menemui Aisyah yang saat itu sedang sakit, sementara di sisinya ada seorang wanita Yahudi sedang meruqyahnya. Kemudian Abu Bakar berkata; "Ruqyahlah dia dengan Kitabullah."
Jika seorang Rasul saja dapat terkena sihir dan pengaruh Jin, walau hal itu tidak membahayakan atau mengganggu beliau SAW maka pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan diri kita? Tentu sangat besar sekali kemungkinan untuk dapat terkena serangan-serangan Jin kuffar tersebut.
Sejak jaman dahulu hingga jaman sekarang ini, pada hakekatnya ada sejumlah cara untuk melakukan pengusiran Jin yang merasuki diri seseorang. Salah satu cara yang kemudian kita jadikan judul utama dari posting ini adalah rukyah. Nah, apa itu rukyah?
Pengertian dari istilah ruqyah sendiri diambil dari bahasa Arab "raqa, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan". Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus Arab-Indonesia menerjemahkannya sebagai mantra. John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell tersebut artinya jampi, mantra (sihir).
Ruqyah selanjutnya diartikan sebagai bacaan mantra atau jampi-jampi yakni kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatangkan kekuatan gaib tertentu melalui susunan kata-katanya. Mantra biasanya dibaca oleh orang yang mempercayainya guna meminta bantuan kekuatan yang melebihi kakuatan natural, boleh jadi digunakan untuk meraih manfaat atau menampik mudhorat.
Beranjak dari pengertian ini, maka jampi-jampi atau mantra atau ruqyah itu sendiri ada yang bersifat syar'i dan ada pula yang bersifat syirik ataupun mungkar. Bersifat syar'i apabila mantra, jampi dan ruqyah itu ditujukan kepada Allah Azza Wajalla dan disebut syirik atau mungkar bila ia mengandung ucapan dan kata-kata yang memohon perlindungan kepada Jin, alam, bebatuan atau berhala-berhala lainnya diluar Allah.
Dengan demikian, maka pengertian rukyah syar'i itu tidak harus selalu menginduk sama persis pada bacaan dan cara rukyah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam proses yang pernah beliau lakukan. Boleh saja menggunakan metode ruqyah lain asalkan tidak bertentangan dengan syari'at Islam yang dibawa oleh Rasul.