Sunday, December 21, 2014

Seri TDL Kristologi: Antara penamaan Isa dan Yesus

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
"Antara penamaan Isa dan Yesus"
Oleh. Armansyah
Penulis Buku "Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih" dan "Jejak Nabi Palsu"


Al-Qur'an menulis nama dari putra Maryam yang terlahir secara parthenogenesis itu dengan nama 'Isa al-Masih. Penamaan diri beliau dengan nama yesus atau jesus seperti yang kita jumpai sekarang ini, sebenarnya berasal dari pendekatan para misionarisnya di tengah masyarakat yunani pada masa lalu. Kita tahu bila masyarakat yunani sangat gandrung dengan kepercayaan dewa-dewanya.


Bukti tentang ini dapat kita lihat dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 14 bahwa Barnabas dan Paulus (Saul) telah disebut sebagai Zeus dan Hermes oleh masyarakat disana. Tidak heran bila kemudian dilakukan pendekatan terhadap kepercayaan tersebut dengan menisbatkan nama 'Isa sebagai 'Iesous,' yang mana kemudian dari bentuk inilah diperoleh sebutan 'Jesus' dalam bahasa Inggris atau 'Yesus' dalam bahasa Indonesia.


Nama 'Isa sendiri dalam bahasa yahudi adalah Yaohushua diucapkan 'yao-hóo-shua' - tekanan pada suku kata kedua, dengan pengucapan huruf hidup pada suku kata pertama seperti pada pengucapan kata 'how' dalam bahasa Inggris. Arti dari Yaohushua ini adalah kuasa Yaohu menyelamatkan. Yaohu sendiri berasal dari kata Yáohu UL, yaitu sebutan untuk Allah dalam bahasa Yahudi sehingga nama itu bisa diartikan Nabi yang akan menyelamatkan umatnya (yaitu Bangsa Israel) dengan kuasa Allah (seperti yang juga bisa dirujuk ke Injil Matius pasal 1 ayat 21 : karena dialah yang akan menyelamatkan umatnya dari dosa mereka.)


Bahasa Ibrani purba tidak ada huruf 'J', sehingga dapat kita pertanyakan pula bila ada orang menyebut nama Tuhan dalam bahasa Ibrani = Jehovah. Kalau ada Jehovah, maka Isa dalam bahasa Ibrani purba bukan yaohushua tetapi Jehoshua (dengan huruf J bukan Y). Yahudi juga begitu, akan menjadi Jahudi.


Menarik untuk diingat bahwa bahasa yang digunakan oleh beliau pada waktu itu adalah bahasa Aram (yaitu bahasa ibunya bangsa semit kuno), maka nama Yaohushua tersebut dalam bahasa Aramnya adalah Eesho (bukan Esau). Istilah Aram Eesho sama dengan istilah Arab 'Isa, karena antara bahasa Arab dengan bahasa Aram merupakan satu rumpun. Jadi, dalam hal ini, penggunaan nama 'Isa yang dijumpai dalam al-Qur'an, jauh lebih mendekati aslinya dibanding dengan istilah Yesus yang merupakan adaptasi terhadap nama dewa-dewa yunani.


Kata 'jehovah' adalah satu rekaan kata atau satu ciptaan kata yang muncul dahulu kala dengan cara menyelipkan huruf hidup yang terdapat dalam 'adonai' diantara huruf mati tetragram 'YHWH'. Didalam adat-istiadat masyarakat Phoenician-Babylonian purbakala, berhala 'Adonis' dipercaya sebagai nama berhala yang paling populer bagi mereka, dan kata 'adonai' itu juga berasal dari nama berhala 'Adonis'. Dalam tulisan Ibrani, huruf hidup dalam kata 'Adonai' dipindahkan kedalam tetragram (YHWH) dan menghasilkan 'jehovah.' Lebih dari itu kata 'Adonai' sebenarnya tidak ada dalam Tanakh, yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani.


Kenapa sekarang menjadi Jehovah? Indikasi kuatnya karena orang Yahudi menghindari kemungkinan menyebut nama Tuhan secara sembarangan atau sia-sia. Dan juga melindungi dari hujatan oleh orang bukan YAOHU-di, yaitu kaum penyembah berhala.


Kembali lagi, nama Isa al-Masih, uniknya sempat tercatat dalam perjalanan raja Shalivahan di pegunungan Himalaya dimana beliau bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menyebut dirinya sebagai Isa Masih, putra dari seorang perawan dan telah datang dari sebuah negeri dimana kebenaran tidak lagi dihargai. Peristiwa ini terjadi setelah berlalunya tragedi penyaliban yang merupakan bentuk hukuman mati atas diri Nabi 'Isa di Yerusalem oleh kaum yahudi yang disponsori oleh para rabi dan tentara romawi.


Wallahua'lam.
InsyaAllah bersambung pada seri Tauhid dan Logika Kristologi selanjutnya.
Mohon Maaf lahir dan batin.


Palembang Darussalam.
Armansyah


Diposting pertama kali di Timeline Facebook saya, 18 Desember 2014


Sumber utama penulisan :
1. al-Qur'an
2. http://www.eliyah.com/Scripture/preface.htm
3. http://tombofjesus.com/…/historica…/68-bhavishya-maha-purana
4. http://e-sword.net

Seri TDL Kristologi: Antara Wahyu dan kitab suci

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
"Antara Wahyu dan kitab suci"
Oleh. Armansyah
Penulis Buku "Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih" dan "Jejak Nabi Palsu"


Selain membekali para Nabi dan Rasul dengan mukjizat tertentu sebagai hujjah mereka dalam bertabligh ditengah umatnya, Allah juga menurunkan wahyu yang berupa kabar, petunjuk serta ajaran terkait proses perjalanan hidup manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya maupun terhadap sang penciptanya.


Dalam sejarah kenabian al-Qur'an, kita mengenal adanya 4 istilah yang sering dikategorikan sebagai nama dari wahyu Allah pada Nabi dan Rasul tertentu. Yaitu, Taurat yang merupakan wahyu Allah kepada Nabi Musa, Zabur yang turun kepada Nabi Daud, Injil sebagai nama wahyu yang diturunkan kepada Nabi Isa serta al-Qur'an untuk nama wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.


Taurat menjadi wahyu yang besar peranannya dalam proses karya penyelamatan para Nabi-nabi ditengah bangsa Israel. Ia menjadi induk ajaran yang dipatuhi oleh seluruh generasi kenabian bangsa tersebut sesudah berlalunya masa kenabian Musa hingga sampai kepada lahirnya Nabi Isa dengan berbekal Injilnya.


Zabur yang oleh sebagian besar ulama dianggap sebagai kitab suci yang turun kepada Nabi Daud, juga tidak merubah hal kecil apapun dari ajaran Taurat. Bahkan bila kita mengacu pada kitab Perjanjian Lama, maka jika Zabur dipersepsikan sebagai Mazmur, konten didalamnya lebih banyak seperti kidung atau prosa pujian kepada Allah ketimbang sebuah kitab berisikan ajaran alias syari'at.


Ketika Injil turun kepada Nabi Isa 'alayhissalam, maka ada sejumlah larangan yang pernah diberlakukan kepada bani Israil didalam Taurat di cabut. Hal ini sesuai pula dengan perubahan keadaan jaman dari kenabian Musa dan kenabian Isa al-Masih. Lamanya jarak antara masa Musa ke masa Isa tentu saja merubah banyak hal pada keseharian bani Israil sehingga akan logis pula bila terjadi perubahan hukum ditengah mereka. Bagaimanapun, syari'at Musa hingga Isa hanya khusus berlaku untuk kalangan bani israil saja alias wahyunya bersifat lokal dan terbatas.


Setelah diutusnya Rasulullah Muhammad, maka semua wahyu yang pernah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum beliau, termasuklah didalamnya wahyu-wahyu kepada bani Israil maupun wahyu-wahyu yang turun kepada para Rasul diluar bangsa ini yang namanya tidak seluruhnya tercantum dalam al-Qur'an menjadi putus dan tidak berlaku lagi. Hal ini karena wahyu al-Qur'an tidak lagi berciri kedaerahan tetapi bersifat universal. Mencakup seluruh wilayah dan bangsa dibumi ini.


Sifat universalitas al-Qur'an dapat dipahami dari sudut kacamata sejarah wahyu sebelumnya yang telah banyak mengalami distorsi tangan manusia sehingga tidak lagi jelas mana ajaran yang betul-betul wahyu dari Allah dan mana yang sudah dirombak oleh manusia. Orang-orang yang dianggap sebagai guru spiritual umat diluar para Nabi dan Rasul, telah banyak menyimpangkan ajaran Tuhan untuk kepentingan mereka pribadi.


Dari sudut kacamata Islam, apa yang hari ini disebut sebagai Perjanjian Lama dengan seluruh kitab-kitab didalamya bukanlah Taurat ataupun Zabur yang dulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Daud. Begitupula halnya dengan Injil yang saat ini termaktub dalam Perjanjian Baru. Ia bukanlah wahyu yang dulu turun pada Nabi Isa 'alayhissalam.


Injil-injil yang dinisbahkan pada Nabi Isa saat ini adalah karangan-karangan manusia lain diluar Isa yang ditulis berdasarkan cerita verbal dimasyarakat kala itu. Oleh sebab itu jumlah kitab yang disebut Injil ada banyak sekali jumlahnya. Diantara jumlah itu tersebutlah 4 kitab yang diakui oleh pihak gereja trinitas dan disebut sebagai kanonikal. Sementara kitab-kitab Injil lain diluarnya disebut sebagai kitab Injil Apokripa dan pernah terlarang oleh gereja untuk dibaca oleh umum pada masa dahulu. Sebut saja misalnya yang sekarang kita kenal dengan nama Gospel of Mary, Gospel of Judas, Protoevangelium Jacobus dan sebagainya.


Dijaman sekarang, penyelidikan terhadap validitas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai sebuah kitab yang diklaim berasal dari Tuhan telah banyak digugat oleh para sarjana biblika sendiri. Yaitu orang-orang terpelajar yang secara khusus membidani ilmu kitab suci. Maka seperti kita lihat dalam sejarah muncullah kaum protestan yang menolak sejumlah kitab dalam Perjanjian lama yang disebut sebagai Deuterokanonika karena dianggap tidak otentik alias palsu.


Ada pula Jesus Seminar pada 1985 dibawah pimpinan Robert Funk yang bertujuan secara khusus untuk menelaah jumlah keaslian ucapan Isa didalam ke-4 Injil Kanonik. Kemudian yang juga sempat mengguncangkan selain Jesus Seminar adalah penelitian dari Bart D. Ehrman, seorang Profesor Perjanjian Baru yang menyatakan dalam bukunya berjudul "Misquoting Jesus" bahwa Perjanjian Baru bukanlah bentuk murni wahyu tanpa adanya distorsi dalam hal penulisannya seperti yang diasumsikan banyak orang selama ini.


Menariknya, penelitian-penelitian itu meski tidak ada kaitan apapun terhadap doktrin Islam, secara tidak langsung justru membenarkan pernyataan al-Qur'an sendiri tentang status originalitas kitab-kitab masa lalu tersebut terhadap manusia.


Salam dari Palembang Darussalam.
InsyaAllah bersambung pada kajian Kristologi Tauhid dan Logika selanjutnya.


Diposting pertama kali di Timeline Facebook pribadi saya, 17 Desember 2014


Armansyah.

Seri TDL Kristologi: Mengenal Mukjizat para Nabi dan Rasul

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
"Mengenal Mukjizat para Nabi dan Rasul"
Oleh. Armansyah
Penulis Buku "Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih" dan "Jejak Nabi Palsu"


Dalam memperkuat hujjah dakwah mereka ditengah umat, para Nabi dan Rasul dibekali dengan kelebihan khusus yang sifatnya menakjubkan dan sulit ditandingi oleh kaum mereka. Kelebihan tersebut berupa mukjizat yang datang dari sisi Allah.


KBBI mendefenisikan istilah mukjizat sebagai kejadian (peristiwa) ajaib yg sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.


Sebagai seorang muslim yang mengedepankan rasionalisasi berpikir, saya sepakat dengan pendapat Choa Kok Sui, seorang ahli tenaga dalam dari Philipina yang memberikan komentarnya mengenai mukjizat :


"Mukjizat adalah kejadian fantastis yang mendayagunakan hukum alam tersembunyi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Dan mukjizat sama sekali tidak melanggar hukum alam, ia sesungguhnya berlandaskan hukum alam".


Pernyataan ini selaras pula dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang tokoh Kristen bernama St. Augustine. "Keajaiban yang bertentangan dengan alam tidak akan terjadi, melainkan hanya bertentangan dengan apa yang kita ketahui secara alami"


Dan memang kita seringkali menisbahkan sesuatu yang terjadi pada kehidupan para Nabi maupun orang-orang yang dekat dengan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara akal sehat dan senantiasa berusaha menghindarinya dengan dalih kebesaran Tuhan semata.


Padahal al-Qur’an secara tegas menyatakan akan keberlakuan hukum kausalitas didalam setiap tindak dan kejadian yang ada diseluruh kehidupan semesta raya ini.


Allah sebagai dzat yang Maha Kuasa tidak memperlakukan hukum-hukum-Nya secara sewenang-wenang dan melanggar rasionalitas yang Dia ciptakan sendiri terhadap makhluk-makhluk-Nya (ingat : Dalam menciptakan alam semesta ini Tuhan melakukannya dengan bertahap yaitu selama 6 hari –dan satu hari sama seperti 1000 tahun- logika sederhananya, apakah Tuhan tidak sanggup menciptakan hanya dengan “satu kedipan saja” –Kun Fayakun- ?).


Hal ini setidaknya membuat kita berpikir bahwa dibalik semua kejadian yang berproses dan penuh tahapan-tahapan itu Allah sebenarnya hendak mengajak kita berpikir secara sehat sesuai fitrah insani kita selaku manusia yang sudah Dia karuniakan akal. Oleh sebab itu, Allah selalu mengulang-ulang ajakan-Nya untuk memikirkan penciptaan alam semesta dengan berbagai redaksinya didalam al-Qur'an.


Nah, kembali pada mukjizat, diantara mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul tersebut, ada yang sifatnya sama dan ada pula yang unik atau khusus antara satu dengan lainnya.


Beberapa mukjizat yang pernah berulang diantara mereka misalnya adalah kemampuan untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati. Melalui rujukan al-Qur'an kita melihat bahwa mukjizat ini pernah terjadi pada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa. Jika kita melihat dalam Perjanjian Lama, maka disana ada cerita tentang Nabi Elisa yang juga disebut-sebut memiliki kemampuan tersebut. Mukjizat lainnya yang sama misalnya adalah tentang interaksi kedalam dunia Jin. Hal ini bisa dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad. Kemudian memperbanyak makanan untuk disantap oleh para sahabat mereka juga pernah terjadi pada Nabi Isa dan Nabi Muhammad (yang terakhir ini juga selain makanan, Nabi Muhammad pernah mengucurkan air dari jari jemari tangan beliau untuk digunakan berwudhu sejumlah sahabatnya dalam perjalanan). Selanjutnya kemampuan mengeluarkan Jin dari diri manusia yang kesurupan pernah dilakukan oleh Rasulullah Isa dan Muhammad SAW.


Adapun contoh-contoh mukjizat khusus yang sifatnya hanya diberikan pada Nabi dan Rasul tertentu saja adalah seperti kasus mukjizat tongkat berubah menjadi ular dalam kisah Nabi Musa melawan tukang sihir Fir'aun, Masih dalam kisah Nabi Musa adalah mukjizat tongkat yang dihentakkan kebumi sehingga membuat air laut terbelah dan dapat dilalui serta keluarnya sinar putih dari kepitan ketiak beliau 'alayhissalam. Tubuh yang tidak hancur dan mati saat dibakar api pada kisah Nabi Ibrahim. Proses kelahiran secara parthenogenesis, berbicara dalam buaian serta kemampuan untuk mengetahui apa yang dimakan dan disimpan oleh orang-orang dirumah mereka pada cerita Nabi Isa. Mukjizat membelah bulan pada kisah Nabi Muhammad dan tentu saja mukjizat fenomenal yang terbesarnya adalah kitab suci al-Qur'an yang sampai hari ini tetap terjaga otentisitas tekstualnya sekaligus padanannya dengan ilmu pengetahuan modern.


Itu hanya sejumlah contoh kecil saja dari banyaknya mukjizat yang ada dan diberikan kepada para Rasul-Nya guna memperkuat hujjah mereka ditengah umat maupun untuk menambah kepercayaan diri para utusan itu sendiri dalam berdakwah menyampaikan risalah Allah.


Tidak pada tempatnya lalu bila kita --berdasarkan mukjizat yang berbeda-beda ini-- ikut membeda-bedakan maqom masing-masing Rasul Allah. Biarlah itu menjadi urusannya Allah saja, sebab memang itu adalah otoritasnya DIA sebagai sumber pengutusan duta-dutaNya ketengah manusia. Tapi yang pasti, tidak ada diantara para Nabi dan Rasul itu yang dapat dipertuhankan atas dasar mukjizat yang ada pada diri mereka. Semua mukjizat itu datangnya dari Allah, bukan dari mereka. Semua apa yang mereka perbuat adalah atas idzin-Nya Allah. Para Nabi dan Rasul hanyalah manusia biasa yang diberi tambahan tugas bertabligh ditengah umat tentang ke-Esaan Allah, memperbaiki akhlak, mengatur tatanan kehidupan berpolitik, ekonomi, berumah tangga dan sebagainya melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada mereka.


Tidak ada satupun dari para Nabi dan Rasul itu yang merupakan anak biologis dari Allah atau bagian dari dzat ketuhanan Allah. Semuanya sama-sama makhluk yang diciptakan oleh Allah, mulai dari Adam hingga Muhammad SAW. Tanpa terkecuali siapapun.


Semoga bermanfaat. InsyaAllah berlanjut pada Seri Tauhid dan Logika Kristologi berikutnya.


Salam dari Palembang Darussalam.
Diposting pertama kali di timeline FB pribadi saya, 16 Desember 2014


Armansyah

Seri TDL Kristologi: Mengenal Nabi Isa

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
"Mengenal Nabi Isa al-Masih".
Oleh. Armansyah
Sumber penulisan: al-Qur'an




Nabi Isa, beliau terlahir secara parthenogenesis. Ibunya bernama Maryam, seorang perempuan yang sejak kecil dibawah pengasuhan Nabi Zakaria dan menghabiskan masa remajanya dalam pelayanan kepada Bait Suci.


Kelahiran putra Maryam secara parthenogenesis merupakan kehendak Allah sebagai bentuk ujian terhadap bani israil yang telah menyimpang jauh dari ajaran Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa.


Sejak kecil beliau telah dikaruniai nikmat kenabian, salah satunya adalah kemampuannya untuk berbicara sejak dalam buaian sang ibunda. Mukjizat beliau dimasa kecil lainnya adalah mampu membuat burung dari tanah dan dihidupkannya. Diusia dewasa, beliau juga diberi karunia ilmu pengobatan dan kemampuan untuk mengetahui apa yang disimpan didalam rumah serta apa yang dimakan oleh orang-orang.


Dalam beberapa kasus, beliau juga diberi mukjizat untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Salah satu kemampuan yang juga pernah diberikan Allah sebagai mukjizat kepada Nabi Musa 'alayhissalam.


Seluruh keistimewaan putra Maryam ini terjadi atas kehendak Allah yang mengutus beliau kepada Bani Israil untuk meluruskan akidah Tauhid mereka yang ternoda sejak berlalunya Nabi Musa 'alayhissalam sekaligus mengabarkan berita gembira akan kehadiran utusan selanjutnya yang bersifat universal, yaitu seorang Nabi dan Rasul bernama Ahmad.


Meski begitu banyaknya mukjizat diberikan untuk melengkapi misi kerasulannya, bani israil tetap berada dalam keingkaran mereka terhadap Tuhan. Puncaknya adalah upaya untuk menistakan beliau diatas kayu palang dengan membunuhnya.


Bersambung pada seri Pengantar Tauhid dan Logika Kristologi (TLK) selanjutnya, InsyaAllah.
Palembang Darussalam


Diposting pertama kali di Timeline Facebook pribadi saya tanggal 15 Des 2014


Armansyah



Monday, December 15, 2014

Jaga anak kita saat bulan Desember

Saya sarankan bagi para orang tua muslim untuk dapat menyempatkan waktunya barang 1/2 atau 1 jam bersama anak-anak mereka dan memberikan pemahaman agama yang benar terhadap mereka. Terutama terkait Tauhid atau masalah Ketuhanan. Kita tahu sekarang ini bulan Desember, sedang gencar-gencarnya acara natal di televisi dan bahkan boleh jadi dilingkungan sekitar kita, seperti di jalan-jalan, mall dan sejenisnya.


Disana mereka akan melihat pohon cemara yang dihiasi berwarna-warni dengan lampu yang berkelap-kelip indahnya serta deretan kado-kado dalam bungkusan yang menyertainya. Disana juga mereka akan mendengar ucapan natal dan juga pengesanan natal sebagai sesuatu yang indah luar biasa.




Kita berada ditengah masa yang tak mungkin dapat terhindar dari ini semua. Masyarakat kita adalah majemuk ditambah lagi stasiun televisi serta pusat-pusat pembelanjaan juga sudah dimonopoli oleh orang-orang non muslim. Jadi kemana kita melangkah dan menatap, pasti disana pada bulan Desember ini akan dijumpai pernak-pernik natal hingga tahun baru (misalnya untuk yang terakhir ini adalah terompet).


Setiap orang tua muslim, wajib menanamkan akidah Tauhid yang bersih dan lurus pada anak-anaknya. Beri mereka pengertian terhadap ini semua. Ajak mereka diskusi dan sampaikan nash-nash agama sesuai dengan batasan akal mereka. Jika anak-anak kita masih kecil-kecil, carilah metode atau kata-kata yang sekiranya dapat menumbuhkan pengertian mereka terkait ke-Esaan Allah serta hubungannya dengan natal yang dirayakan orang-orang kristiani.


Mungkin ada yang menganggapnya sepele, tetapi percayalah, jika anda teledor untuk urusan ini, maka anda sudah tidak amanah atas titipan Allah pada anda. Bukan tidak mungkin, anak-anak anda kelak justru dapat berbalik menjadi murtad, entah secara langsung dan terang-terangan atau tanpa mereka sadari sebab isi kepala mereka sudah di brain wash sejak kecil oleh berbagai tayangan dan suasana tersebut.


Kita sebagai orang tua, juga hendaknya jangan ikut pula merayakan tahun baruan sampe beli-beli terompet segala. Jika mau beli terompet kenapa tidak dari bulan-bulan kemaren? kenapa tidak pertengahan bulan Januari atau februari saja? Biar rame? ya berarti sama saja dengan mengaminkan acara tersebut dan menganggapnya hal yang biasa dan wajar untuk dilakukan. Apakah itu yang hendak anda wariskan pada keturunan anda nanti? even setelah anda masuk kubur?


Ayo... sama-sama kita melakukan tarbiyah pada keluarga kita. Saya juga sama seperti anda. Sebagai seorang ayah dengan 3 anak, sayapun tak jemu-jemunya melakukan tarbiyah dan mencuci otak mereka dengan pelajaran-pelajaran Tauhid yang dikaitkan dengan logika sesuai dengan batas kemampuan mereka memahaminya.


Hidup dijaman ini ngeri... kita sangat boleh jadi kuat dalam akidah, tetapi apakah kita sudah mewariskan kekuatan akidah ini pada anak keturunan kita juga?


‪#‎introspeksi‬


Salam dari Palembang Darussalam


Armansyah.



Sunday, December 14, 2014

Ulil Amri vs Presiden, Gubernur dan sejenisnya

Jabatan presiden, gubernur, walikota, bupati, camat dan sejenisnya itu tidaklah sama dengan jabatan ulil amri minkum versi al-Qur'an. Seorang presiden dan semacamnya itu .... dia merupakan pemimpin seluruh golongan, ras, agama, suku dan sebagainya. Hukum dan gaya pemerintahannya belum tentu berdasarkan syari'at Islam. Bahkan jabatan presiden, gubernur, walikota dan sejenisnya itu sendiri dapat saja dipegang oleh orang non muslim.


Sementara ulil amri minkum jelas harus merupakan orang Islam, sebab istilah minkum yang dimaksud oleh al-Qur'an sekaitan dengan ini jelas merujuk pada alladziina aamanuu yaitu orang-orang yang beriman (muslim) dan pemerintahannyapun berdasarkan syari'at Islam (khusus bagi orang Islam tentunya).




Ulil amri dalam terminologi al-Qur'an juga dapat merupakan seorang rois, seorang leader, seorang pemimpin dari seluruh golongan, ras, agama, suku dan sebagainya. Itulah contoh yang dapat kita lihat pada masa kerasulan Muhammad serta Khulafaur Rasyidin memerintah (yaitu jaman-jamannya Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib).


Apakah kemudian kita boleh taat pada pemerintahan yang jelas bukan ulil amri sebagaimana rujukan al-Qur'an? Jawabnya selama itu menyuruh pada kebaikan dan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tetap harus mengikuti mereka tapi bila kebijakan maupun hukum-hukum yang mereka berlakukan bertentangan dengan syari'at Islam apalagi mengajak bermaksiat pada Allah, maka hukumnya wajib untuk dilanggar atau tidak di taati.


Shahih Muslim 3423: Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Wajib setiap orang untuk mendengar dan taat, baik terhadap sesuatu yang dia suka atau benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat."


Apa contoh perintah untuk bermaksiat? misalnya muncul keharusan agar kita sebagai umat Islam, mencampur adukkan akidah. Ikut perayaan dan merayakan hari raya umat lain dalam berbagai bentuk dan konteksnya, melegalkan miras, melegalkan pelacuran alias perzinahan, melegalkan pemberhalaan, melarang sholat, puasa, zakat, haji dan sejenisnya.



Ritual Kematian, Kehamilan dan Kelahiran

Ada beberapa sahabat yang bertanya di inbox fb saya terkait dengan hukum "marhabanan" dikala sedang proses kelahiran bayi dan juga pemandian bunga-bunga tertentu bagi wanita yang sedang hamil hingga membawa-bawa gunting, paku, benang dan sejenisnya yang katanya untuk menangkal kuntilanak atau apalah namanya itu.


Karena kasus-kasus seperti ini cukup banyak ditanyakan, maka tidak ada salahnya bila --tanpa menyebut identitas sipenanya-- maka saya jawab saja melalui status ini agar dapat menjadi pembelajaran bagi rekan-rekan muslim lainnya.




Saya pribadi, sejak istri hamil anak pertama sampai lahiran anak ke-3, tidak pernah melakukan ritual apapun. Tidak ada prosesi selametan 3 bulan, 7 bulan, mandi kembang, mandi air sumur, mandi hujan atau semacamnya. Saya juga bersama istri tidak pernah membawa-bawa gunting atau benda-benda tajam lainnya seperti yang dimaksudkan itu, meskipun kadang kami pergi malam hari atau bahkan lewat kuburan sekalipun. Alhamdulillah sampai hari ini semua baik-baik saja bi-idznillah.


Terus selametan bayi.... ini juga kami tidak mengamalkan apapun, termasuk marhabanan, barzanzi dan semacamnya. Apa yang saya lakukan hanyalah mengakikahkan anak-anak kami. Untuk yang laki-laki 2 kambing dan untuk yang perempuan masing-masing 1 kambing. --Sudah, hanya itu saja.


Kenapa? jawabnya ya karena hanya itu tuntunan yang saya dapatkan bersumber dari Rasulullah SAW. Selebihnya adalah tradisi saja yang kadang-kadang masih harus di tinjau kembali validasinya. Sebab bukan tidak mungkin ada ritual dan bacaan-bacaan tertentu yang ada didalam tradisi itu justru bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur'an atau sunnah dari Rasulullah.


Sama halnya ketika ayah saya wafat sekitar 14 tahun lalu, saya juga tidak mengadakan tahlilan, tidak ada yasinan, tidak mengadakan 7 harian, 1000 harian atau semacamnya. Tidak ada makan-minum yang saya siapkan karena memang saya tidak membuat acaranya. Bagi kawan-kawan atau jemaah masjid yang ingin berbela sungkawa, silahkan bertakziah selama 3 hari dikediaman kami. Mohon bantu do'anya saja agar almarhum di ampuni dan mendapatkan ganjaran atas amal ibadah beliau semasa hidup. Agar kami para keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan iman, ketabahan jiwa dan keluasan rezeki untuk melanjutkan hidup kedepan. --Ya, itu saja.


Lalu bagaimana dengan orang yang melakukannya? --jawabnya seperti biasa... saya menghargainya tapi mohon maaf lahir-batin, saya tidak mengaminkannya.


Demikian. Semoga bermanfaat.
Selamat berakhir pekan.


Palembang Darussalam, 13 Des 2014


Armansyah