Wednesday, April 8, 2015

Nasehat untuk muslimah yang bermotor

Dear muslimah. Wanita itu sangatlah indah dan senantiasa diliputi oleh keindahan. Meski demikian, Islam sudah memberikan batasan-batasan keindahan wanita yang boleh untuk "dinikmati" oleh pria yang bukan mahromnya. Untuk itu kemudian kita kenal dengan hukum hijab yang sifatnya menutupi aurat itu sendiri. Nah, bicara soal hijab, jujur saja saya lebih suka melihat kawan-kawan muslimah mengenakan hijab syar'inya. Mereka tampak lebih anggun dan berwibawa. Jilbabnya lebar menutupitonjolan dada hingga pantatnya dan juga mengenakan rok panjang menjuntai. Begitu terlihat feminisme dan keibuannya. Tapi, bicara soal rok yang panjang.... nah, saya ingin mengingatkan juga nih, cukup sering dijalan, saya menemukan kawan-kawan muslimah yang mengenakan hijab syar'inya secara baik plus kaos kaki namun sayangnya tidak lagi dibalut oleh celana panjang, Sehingga ketika ia naik motor ada kalanya betisnya tersingkap lebar dan memperlihatkan aurat yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh pria yang bukan mahrom mereka.


jilbabmotor


Ingat sis, naik motor itu ada berhentinya, misalnya lampu merah atau sedang macet. Nah disaat seperti itu, biasanya kalian khan menurunkan kaki, paham khan jika kaki naik-turun dimotor pasti akan ikut menyingkapkan betis kalian bila tidak menggunakan celana panjang lagi didalamnya? Bukankah kriteria dari hijab itu meliputi wajhihi wakaffaih (muka dan telapak tangan)?


Terkait hijab syar'inya... sekalian mau promosi juga, boleh khan ya... buat para ukhti, jika sedang jalan, silahkan mampir ke Gerai Ukhti untuk melihat koleksi hijab dan pakaian syar'i kita. Alamatnya Jalan Sosial Km.5 Palembang no. 166. InsyaAllah ukhti disana akan bertemu dengan istri saya,Mitha Tanjung atau juga karyawan kita yang sedang bertugas.


Boleh juga add pin BB Gerai Ukhti di nomor : 538fbb54


Semoga bermanfaat.
Salam dari Palembang Darussalam.
07 April 2015, Ori Posted: FB


Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan, M.Pd

Antara Ruh, Nafs, Jasad dan Bayangan...

Sekali-kali saya ingin menulis hal yang sifatnya njelimet, misteri tetapi menggoda akal untuk ditelusuri.


Manusia secara umum dibagi atas 2 macam, fisik dan non fisik. Tubuh fisik adalah jasmani kita sedangkan non fisik diartikan sebagai jiwa. Terkadang orang menyamakan jiwa dengan ruh. Tetapi apakah ruh memang serupa dengan jiwa? Sebaliknya, saya sendiri membedakan antara ruh dan jiwa. Hal ini karena memang al-Qur'an menggunakan term berbeda untuk menyebut keduanya. Dimana untuk Ruh, al-Qur'an tetap menggunakan kata-kata ar-Ruh, seperti Ruhul Qudus, Ruhul Amin dan lain-lain. Tetapi untuk jiwa, al-Qur'an menggunakan kata-kata nafs dan anfus.




Kata-kata jiwa atau nafs selalu ditujukan kepada sesuatu yang sifatnya menyeluruh dari diri manusia (al-insan) tetapi ia bersifat abstrak, bukan bersifat fisik atau nyata. Pengilhaman taqwa dan fujur di instalasikan kedalam an-Nafs, bukan kedalam Ruh. Sehingga secara singkat --meski sebenarnya bahasan ini rumit dan panjang lebar-- tetapi ruh sebutlah saja dapat dibedakan dengan an-Nafs.


Sekarang, jika ada yang mengatakan bahwa dia dapat merogo sukma atau melakukan proyeksi astral. Apa yang sebenarnya terjadi? Proses merogo sukmo itu fisiknya masih hidup, jantungnya berdenyut (artinya dalam fisik itu ar-Ruh masih mengalir baik), hanya an-Nafsnya yang berupa jiwa kesadaran telah keluar meninggalkan kerangka cashing jasmani tersebut. Lalu apakah an-Nafs juga memiliki Ruhnya sendiri sehingga ia dapat bergentayangan diluar wadagnya? Lalu apa hubungan semua ini dengan dzilaluhum atau bayangan dari diri yang disebut juga hakekatnya ikut bersujud kepada Allah (yaitu tunduk pada ketentuan serta hukum-hukum yang diberlakukan Allah)?


Apakah dzilaluhum sang bayangan ini juga merupakan bagian unsur diri yang terpisah dari fisik, ruh dan nafs? Nah, selamat berpikir secara logis tanpa terlepas dari kitabullahnya.


Salam dari Palembang Darussalam.
06 April 2015.
Armansyah Azmatkhan


Original posted : FB, 06 April 2015.




Monday, April 6, 2015

Kita ingin, Allah juga ingin

Sebagai manusia adalah wajar jika kita punya begitu banyak keinginan dan berharap agar seluruh keinginan kita itu dapat terwujud seperti apa yang kita mau. Tapi pada akhirnya, kita harus paham bahwa nahnu nuridu, wallahu yurid, wallahu fa'alun lima yurid, kita berkeinginan, Allah juga berkeinginan tetapi Allahlah yang melaksanakan keinginan-Nya. Tetap berbaik sangka atas semua takdir yang berlaku, entah itu takdir baik atau takdir buruk dalam pandangan mata kita.


Salam dari Palembang Darussalam,
05 April 2015



Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai)

Sepintas saya ada baca berita terkait koordinator jasmev yang katanya melakukan penipuan publik dengan menggunakan gelar akademik palsu. Jika hal itu benar maka saya hanya mengucapkan Innalillahi wa inna ilayhirooji'un saja. Benarlah sabda Rasulullah ini: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai). Sesuatu yang sifatnya, karakternya hingga hobinya sama pasti akan saling berkumpul. Toh minyak tidak akan pernah bisa menyatu dengan air. Ibarat pepatah menyebutkan bila guru kencing berdiri maka murid kencing berlari. Begitulah tanpa perlu saya tulis panjang lebar lagilah maksudnya. Toh semua penuh dengan kebohongan, kemunafikan dan pencitraan. Hebatnya lagi itu dilakukan secara sistematis. Ya sudahlah.


Siapapun berhak untuk menyematkan gelar kesarjanaannya selama itu legitimate. Wajar dan sah sajalah dia ingin dikenal sebagai Sarjana dari keilmuan tertentu. Toh kita harus maklum jika untuk memperoleh gelar kesarjanaan itu tidaklah mudah. Penuh perjuangan waktu, biaya, tenaga hingga harga diri. Apalagi jika jenjang kesarjanaannya sudah dilevel Magister, Doktor atau Profesor. Terlepas dari kecerdasan EQ dan ketinggian akhlaknya, dia sekali lagi berhak menggunakan gelar akademik yang ia dapatkan tersebut.


Akan menjadi dagelan yang mengenaskan bila kemudian seseorang menyematkan gelar kesarjanaan tertentu di namanya yang ia sendiri tidak pernah berjuang untuk memperolehnya melalui proses pembelajaran normal. Bukan saja tidak menamatkan pendidikannya itu sama sekali namun tidak pernah studi disana. Cuma mencomot gelar secara sembarangan untuk membuat penipuan publik agar ia dikenal sebagai orang yang hebat, pintar, cerdas dan sejenisnya. Jadilah gelar Magister, Doktor, Ph.D atau Profesor ditambahkan diantara namanya lalu mengaku-aku lulusan dari universitas x, universitas y atau universitas z. Orang seperti ini, bukan hanya tidak waras tetapi juga sudah melakukan pelanggaran hukum pidana (KUHP) pasal 263 dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun serta melanggar Pasal 69 ayat [1] UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan/atau denda 500 juta. Belum lagi hukum agama yang sudah jelas terancam dengan status munafik. Na'udzubillahi mindzalik.


Semoga menjadi pelajaran bersama.


Bagaimanapun gelar kesarjanaan itu penting dan sangatlah penting tetapi kejujuran dan akhlakul karimah rasanya jauh lebih penting dari sebatas embel-embel gelar yang menyertai nama.


Sebagai penutup, Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “ Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4811.


Salam dari Palembang Darussalam.
05 April 2015


Armansyah, M.Pd


Original posted, FB 05 April 2015

Ketika himpitan membuat orang menjadi gila

Banyak orang semakin merasa gelisah jiwanya akibat himpitan perekonomian yang terus menggerus kestabilan pendapatan. Gelisah karena beban tanggungan dan keinginan tak lagi bisa diakomodasi akibat munculnya berbagai kebijakan rezim penguasa yang centang prenang. Nyaris tak lagi dapat bersikap idealis pada tatanan baku keagamaan dan pendidikan yang ditempakan sejak dini ketika fakta memaparkan kemunafikan rupa dan ragam para politikus, agamawan, akademisi hingga preman pasar. Pemberhalaan ego diri yang didasari oleh kepentingan pribadi maupun kelompok menjadikan manusia telah banyak sebagai kaum penyembah dirinya sendiri.




Sakit hati karena pahamnya tereliminasi, luasnya jurang pemisah antara miskin dan kaya serta dagelan konspirasi papan atas membuat orang semakin brutal terhadap nilai-nilai kebenaran. Agama pada akhirnya cuma dianggap anekdot masa lalu yang tertulis dalam lembaran mushaf yang doktrinnya di instalasi bertahun-tahun. Maka ketidakwarasan berpikir menjadi madzhab baru yang disebar luaskan diranah sosial media melalui kitab seperti " facebook newsfeed", "twitter hashtag" dan semacamnya.


Itulah sejumlah milisi dajjal jaman akhir yang pastinya menawarkan sengsara dibalik nikmat, neraka berjubah syurga dan Iblis berwajah Mahdi.


Istiqomah pada syahadat dan tetap berpikir secara kritis dengan akal sehat menjadi keniscayaan menghadapi orang-orang sinting calon penghuni neraka jahim. Menjadi amunisi menyikapi begundal-begundal Iblis dalam wajah para akademisi, politisi hingga nabi dan rasul gadungan.


Akhirnya Tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Laa nabiyya ba'da. Ittaqullaha-haqqo tuqotihi wala tamutunna illa wa-antum muslimun,.


Armansyah Azmatkhan M.Pd
Palembang Darussalam, 04 April 2015


Original posted: 04 April 2015



Selamat jalan Mpok Nori

Bukankah status ini belum lama berlalu topiknya dari bahasan kematian? Hari ini, satu lagi tokoh populer dinegeri ini kembali kehadirat Allah. Semua kehidupan toh ujung-ujungnya pasti akan berakhir. Sebuah lirik lagu menyatirkan nasehat untuk kita bila orang kaya mati, orang miskin mati, raja-raja mati, rakyat biasa juga mati. Toh, tak ada jaminan orang yang lebih tua umurnya pasti akan lebih dahulu mengalami mati, bisa saja anak kecil yang duluan, boleh jadi usia kita-kita ini, pun tak harus pria selalu lebih dulu, bisa jadi perempuan duluan. Wallahua'lam.




Sebuah lirik lagu lainnya bertutur: Insyaflah wahai manusia, jika dirimu bernoda, dunia hanya naungan untuk makhluk ciptaan Tuhan. Dengan tiada terduga dunia ini kan binasa, kita kembali ke asalnya, Menghadap Tuhan yang Esa. Siapa selalu mengabdi, berbakti pada Ilahi, sentosa selama-lamanya, di dunia dan akhir masa.


Akhirnya, selamat jalan untuk Mpok Nori. Semoga Allah mengampuni dosa dan khilaf beliau semasa hidup serta melipatgandakan pahala amal sholehnya. Aamiin. Bagi kita semua yang masih hidup, mari terus berinvestasi di jalan Allah ta'ala agar ketika giliran kita tiba, kita dipanggil Allah dengan kalimah mesra-Nya: “Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila robbiki rhodhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),”.


Palembang Darussalam, 03 April 2015
Armansyah, M.Pd


Original Posted: FB, 03 April 2015



Nasehat untuk diriku sendiri

Wahay diriku...
Kau membuat angan-angan, padahal kematianmu amat dekat.
Kau membangun rencana untuk esok hari, padahal kain kafanmu hampir selesai ditenun siang ini.


Saat sang maut datang bersilaturahim, semua rencanamu segera hilang tiada berarti. Saat jasadmu perlahan-lahan diangkat dari tempatmu tidur ke dipan tempat tubuhmu itu dimandikan, kau hanya seonggok daging penutup tulang yang tidak punya kemampuan apapun lagi untuk bergerak. Sampai orang yang membawa kafanmu tiba dan satu demi satu bagian kulitmu diselimuti olehnya. Kuping dan hidungmupun ditutupi kapas. Tak lama kaupun digotong dikeranda sembari diantar isak tangis keluarga, kerabat hingga handai taulan. Tapi, tak satupun dari mereka akan bersedia menemani tubuhmu itu dalam himpitan tanah merah kuburan.




Jasadmu itu wahay diriku, akan mulai ditimbun oleh tanah yang sudah digali. Kaupun resmi berpindah dari keluasan menuju kesempitan. Kau berpindah dari tidur diatas bumi menjadi tidur didalam bumi, berselimutkan alam bertemankan hewan tanah.


Tak lagi ada kekerabatan, pertemanan, jabatan, kekayaan, senda gurau, pendidikan hingga sosial media. Yang ada hanya amalmu, amal baik dan amal yang buruk. Hartamu cuma ilmu yang kau wariskan pada orang-orang disekelilingmu, ilmu manfaat atau ilmu yang fasadat. Pembelamu hanya dzikirmu semasa hidup, baik dzikir dalam bentuk pikir, lisan hingga perbuatan.


Ah. Celakanya diriku....
Masih berapa lamakah lagi dirimu punya waktu tersisa untuk tinggal diatas dunia ini, Arman?


Renunganku, 02 April 2015
Bumi Palembang Darussalam.
Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.


Original posted: FB, 02 April 2015