Monday, June 15, 2015
Petunjuk Manasik Umroh/Haji
[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=nu23cI0G_zo]
Umroh
https://www.youtube.com/watch?v=9EURG9AbOSg
Dokumentasi Perjalanan ditanah suci
[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=9co-JFpok_s]
Semoga bermanfaat.
Wednesday, June 10, 2015
Marah dan pesan Rasul mengatasinya
Seringnya kita itu menghakimi seseorang secara subyektif dengan melupakan semua kebenaran serta kebaikan yang ada pada dirinya dan yang telah mereka lakukan untuk diri kita. Faktor emosional yang meledak-ledak sering membuat kita nyaris tak ada sisi positip yang mampu terlihat. Oleh sebab itu cukup banyak pesan dan nasehat Rasul bagi kita terkait masalah ini, misalnya membaca ta'awudz, diam, merubah posisi tubuh hingga berwudhu. Marah itu merupakan api yang membakar dan api adalah asalnya setan, oleh sebab itu orang yang sedang marah tak ubahnya orang yang kerasukan setan.
Musnad Ahmad 17302: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kemarahan itu datangnya dari setan dan setan tercipta dari api, sedangkan api hanya dapat dipadamkan oleh air, maka jika salah seorang di antara kalian marah hendaklah ia berwudlu."
Sunan Abu Daud 4150: Dari Sulaiman bin Shurd ia berkata, "Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, salah seorang dari mereka matanya tampak memerah dan urat lehernya tampak menegang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Sungguh, aku tahu sebuah kalimat yang jika dibaca oleh seseorang maka akan hilang apa yang dirasakannya (rasa marah). Yaitu, A'UUDZU BILLAAHI MINAS SYAITHAANIR RAJIIMI (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)."
Sunan Abu Daud 4151: Dari Abu Dzar ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada kami: "Jika salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, hendakah ia duduk. Jika rasa marahnya hilang (maka itu yang dikehendaki), jika tidak hendaklah ia berbaring."
Musnad Ahmad 2425: Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "hendaklah kalian Mengajar, mempermudah dan jangan mempersulit. Bila engkau marah maka diamlah. Dan Bila engkau marah maka diamlah. Bila engkau marah maka diamlah."
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sering berlaku seperti setan.
Salam dari Palembang Darussalam.
10 Juni 2015
Armansyah
Sejadah bergambar Ka'bah (Sebuah kritik)
Kita sering marah bila mendapati seseorang berkesan melecehkan ajaran Islam atau juga simbol-simbol yang umumnya dihormati oleh umat Islam. Tapi pernahkah kawan-kawan berpikir bila kebanyakan dari kita, saya ulangi ya --artinya dipertegas loh, kebanyakan dari kita justru seringnya menjadi pelaku dari pelecehan itu sendiri.
Bukti?
Coba lihat sejadah yang kita pakai dirumah, dikantor, atau lihat sejadah yang terbentang diumumnya masjid. Apakah ada gambar Ka'bah atau masjidnya? Jawab dengan jujur, pernahkah kita --entah sengaja atau tidak sengaja-- menginjak gambar itu dengan kaki kita?
Apa yang hati dan iman anda katakan saat menginjak simbol-simbol tersebut? biasa saja? bingung lalu mencari-cari alasan pembenaran? merasa berdosa?
Itu saja sebagai introspeksi untuk masing-masing kita, cukup jawab dengan hati sajalah, karena Rasulullah bersabda "Istafti qolbak, mintalah fatwa kepada hatimu ".... kelihatannya sepele namun ternyata dapat jadi "uswatun hasanah" bagi pelaku pelecehan lainnya.
Ditilik dari sisi perbuatan atau amaliyah maka sejadah bergambar masjid apalagi Ka'bah adalah perbuatan bid'ah atau mengada-ada, dijaman Rasulullah dan para Khalifah beliau dahulu tidak ada alas sholat yang digambar seperti ini. Mereka jikapun menggunakan alas buat sholat maka akan menggunakan kain pakaian mereka atau juga tikar.
Musnad Ahmad 2264: Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; "Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada saat turun hujan, beliau menghindari tanah ketika sujud. Beliau menggunakan pakaian sebagai alas untuk menghalangi kedua tangannya menyentuh tanah jika beliau sujud."
Shahih Bukhari 368: Dari 'Abdullah bin Syaddad dari Maimunah ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas tikar kecil."
Sunan Darimi 1303: Dari Bakr bin Abdullah dari Anas ia berkata, "Kami pernah melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada waktu yang sangat panas, apabila salah seorang di antara kami tidak mampu menempelkan keningnya di tanah maka ia menghamparkan kain dan melakukan shalat di atasnya."
Shahih Bukhari 360: Dari 'Urwah dari 'Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas kain yang bergambar. Lalu beliau melihat kepada gambar tersebut. Selesai shalat beliau berkata: "Pergilah dengan membawa kain ini kepada Abu Jahm dan gantilah dengan pakaian polos dari Abu Jahm. Sungguh kain ini tadi telah mengganggu shalatku." Hisyam bin 'Urwah berkata dari Bapaknya dari 'Aisyah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat pada gambarnya dan aku khawatir gambar itu menggangguku."
Mungkin sudah umum hari ini dimana-mana ada sejadah bergambar dan terkadang kita tidak dapat menghindari dari kepemilikannya, entah itu sengaja membelinya atau juga hadiah dari seseorang. Khusus tentang gambar yang merupakan visualisasi Ka'bah yang terletak pada sulaman sejadah, sebisa mungkinlah untuk menghormatinya dengan jalan tidak menginjak gambar tersebut, sebab itu adalah simbol dari Baitullah.
Jika kita marah terhadap para penista simbol-simbol Islam yang diletakkan sembarangan atau bahkan menginjak-injaknya, maka seharusnya juga kitapun memperhatikan adab terhadap simbol Ka'bah yang terdapat pada sejadah kita (jika ada). Jangan menginjak bagian gambar tersebut dan setelah selesai sholat, mari lipat atau sampirkan disebuah tempat yang tidak akan terinjak oleh kaki ketika melangkah (kecuali mungkin di masjid.... apa boleh buatlah frown emoticon ).
Demikian.
Salam dari Palembang Darussalam.
Armansyah, 09 Juni 2015.
Kelulusan/ Graduation

Graduation is only a concept. In real life every day you graduate. Graduation is a process that goes on until the last day of your life. If you can grasp that, you'll make a difference. Just like the Prophet Muhammad said, "Those who state their deeds today worse than yesterday are cursed. They who today are the same as yesterday are losser. And whoever today is better than yesterday, they are the lucky ones".
Ada yang pergi dan ada pula yang datang. Sama halnya ada yang hidup dan ada yang mati. Hal-hal demikian hanyalah perputaran hukum kausalita yang telah ditetapkan Allah.
Masa sekarang secara perlahan akan berganti menjadi masa lalu, dan setiap masa lalu adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap insan. Bagian dari prosesnya menuju masa depan.
Sulit melupakan masa lalu dalam titian selanjutnya tetapi memang masa lalu bukan sesuatu untuk dilupakan. Masa lalu justru sebagai pegangan atau bekal yang menjadi penguat langkah-langkah yang akan dijejakkan. Masa lalu tidak hanya mengajarkan pengalaman atau pengetahuan, namun masa lalu juga mewariskan nilai.
Armansyah, S.Kom, M.Pd.
Kontroversi Nisyfu Sya'ban (Tanggapan)
Ramai saya menerima BC tentang malam nisfu sya'ban bahkan ada yang bertanya pendapat saya terkait hal tersebut. Secara ringkas, jika saya tidak terlihat mengucapkan atau juga mempostingnya maka dapat dipastikan bila saya tidak mengamalkannya. Ada beberapa hadis dalam Kutubus Sittah menyinggung masalah ini namun hadis-hadis itu berderajat maudhu' (palsu) serta dho'if (lemah), hadis dengan derajat paling kuat adalah hasan.
Hadis-hadis itu antara lain (rantai sanad saya potong untuk memperingkasnya):
Sunan Ibnu Majah 1378: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila malam nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. " ---> Maudhu' / Dhoif Jiddan
Sunan Ibnu Majah 1379: Dari 'Aisyah ia berkata, "Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi' menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: "Wahai 'Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?" ia menjawab, "Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. " Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya'ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. " ---> Dho'if
Sunan Ibnu Majah 1380: Dari Abu Musa Al Asy'ari dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama'ah (murtad). " Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad An Nadlr bin Abdul Jabbar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Az Zubair bin Sualim dari Adl Dlahhak bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata; aku mendengar Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits. " ---> Hasan
Musnad Ahmad 24825: TDari Aisyah berkata; "Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan Rasul-Nya? ' Aisyah berkata; "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu." Beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah Azzawajalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Sya'ban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'."
Memang ada hadis yang menyebutkan tentang berpuasa di bulan Sya'ban, namun tidak dinyatakan tanggal tertentu. Misalnya:
Musnad Ahmad 23368: Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah ditanya tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka (Aisyah) Berkata: "Beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) berpuasa Sya`ban dan sangat menjaga puasa senin dan kamis."
Musnad Ahmad 23781: Dari Abdullah Al-Bahy dari Aisyah berkata; "Saya tidak pernah mengqodlo` puasa ramadhan kecuali di bulan sya`ban hingga Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam wafat."
Musnad Ahmad 23797: 'Abdullah bin Abi Musa berkata; Mudrik atau Ibnu Mudrik telah mengutusku kepada Aisyah supaya saya bertanya beberapa hal kepadanya. ('Abdullah bin Abi Musa) Berkata; ... Saya bertanya kepada (Aisyah) tentang hari yang diperselisihkan dari bulan Ramadhan, maka dia berkata; "Berpuasa satu hari dari Sya`ban lebih saya sukai dari pada saya tidak puasa satu hari dari bulan Ramadhan."
Tentang berpuasa diluar Romadhon sendiri, Rasulullah diberitakan senantiasa melakukannya dan menganjurkan umat beliau untuk juga mengamalkannya.
Shahih Bukhari 1845: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Abu At-Tayyah berkata, telah menceritakan kepada saya Abu 'Utsman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Kekasihku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mendirikan shalat Dhuha dua raka'at dan shalat witir sebelum aku tidur".
Sunan Abu Daud 2094: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari 'Ashim dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan.
Puncaknya, ada pula hadis lain berderajat shahih yang justru melarang orang untuk berpuasa karena menyambut Romadhon.
Sunan Tirmidzi 669: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muhammad dari Al 'Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: " Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya'ban, maka janganlah kalian berpuasa." Abu 'Isa berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits diatas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya'ban baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan." Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan.
Demikian kiranya.... namun seperti biasa, terhadap kawan-kawan yang mengamalkan puasa di Nishfu Sya'ban, saya tak mungkin juga melarangnya. Silahkan melakukan apa yang diyakini kebenarannya. Saya menghormatinya meskipun saya tidak mengamininya. Ini adalah pendirian dan keyakinan saya.
Semoga bermanfaat dan menjelaskan.
Palembang Darussalam. 01 Juni 2015
Armansyah.
Fenomena mengumpat di Medsos
Mungkin ini adalah fenomena media sosial. Saya sering melihat orang nyaris tidak dapat lagi membedakan antara kritik dan hinaan.
Banyak saya membaca status-status yang isinya --mohon maaf-- penuh hujatan dan caci maki kepada orang-orang tertentu. Baik dalam kapasitas "rival privasinya" maupun terhadap "public enemy". Tak dapat saya pungkiri, terkadang ada juga rasa jengkel dan eneg melihat tingkah maupun kebijakan the common enemy ini, ya you know who-lah ya, gak usah dimentioned namanya.... cuma saya berusaha untuk mengontrol kata maupun tulisan saya tersebut.
Hal itu bukan perkara UU ITE atau hal-hal lainnya, itu mah sepele, urusan dunia. Tak perlu ditakuti. Makhluk kok ditakuti? UU ITE itu khan juga buatan makhluk. Yang pantas untuk ditakuti itu cuma Allah Azza Wajalla, bukan makhluk-Nya.
Saya semata melakukannya karena tidak ingin pahala dari amal baik yang saya lakukan satu demi satu dialihkan pada orang tersebut. Bayangin tuh, tiap buka beranda FB atau TW, pasti banyak saja yang nulis atau share berita berisi caci maki pada orang yang sama. Wah, enak bener orang itu. Sudah buat dosa, zalim eh dapat transferan pahala lagi. Ujung-ujungnya dia yang bikin dosa eh dia yang masuk syurga. Lah, kita... sudah terzalimi eh nyemplung di neraka gara-gara ngata-ngatain ame ngehujat dia melulu.
Kalo saya sih, tak rela amal sholeh saya didonasikan sama orang-orang ntuh. Jikapun ingin menulis sesuatu sebagai ekspresi kebencian kita pada sifatnya, usahakan untuk menempatkan kata-kata sindiran atau kritik yang memperlihatkan bahwa kita seorang muslim terpelajar. Kritik tidaklah mencaci maki, kita mesti dapat membedakan, mana kalimat kritikan dan mana kalimat cacian.
Shahih Muslim 4678: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.'
Sunan Tirmidzi 2342: Dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bertanya: "Tahukah kalian siapa orang yang rugi itu?" mereka menjawab: Orang rugi di antara kami wahai Rasulullah adalah orang yang tidak memiliki dirham dan barang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Orang rugi dari ummatku adalah orang yang membawa shalat, puasa dan zakat pada hari kiamat, ia datang sementara ia dulu pernah mencela si anu, menuduh berzina si anu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu dan memukul si anu. Ia duduk lalu kebaikan-kebaikan si ini diqisas dari kebaikan-kebaikannya, bila kebaikan-kebaikannya habis sebelum sepadan dengan kesalahan-kesalahannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu dibuang kepadanya, setelah itu dia dilempar ke neraka." Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.
Semoga bermanfaat.
Armansyah, Palembang Darussalam.
31 Mei 2015
Monday, June 1, 2015
Pro-Kontra amalan Nisfu Sya'ban (Tanggapan)
Ramai saya menerima BC tentang malam nisfu sya'ban bahkan ada yang bertanya pendapat saya terkait hal tersebut. Secara ringkas, jika saya tidak terlihat mengucapkan atau juga mempostingnya maka dapat dipastikan bila saya tidak mengamalkannya. Ada beberapa hadis dalam Kutubus Sittah menyinggung masalah ini namun hadis-hadis itu berderajat maudhu' (palsu) serta dho'if (lemah), hadis dengan derajat paling kuat adalah hasan.
Hadis-hadis itu antara lain (rantai sanad saya potong untuk memperingkasnya):
Sunan Ibnu Majah 1378: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila malam nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. " ---> Maudhu' / Dhoif Jiddan
Sunan Ibnu Majah 1379: Dari 'Aisyah ia berkata, "Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi' menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: "Wahai 'Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?" ia menjawab, "Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. " Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya'ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. " ---> Dho'if
Sunan Ibnu Majah 1380: Dari Abu Musa Al Asy'ari dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama'ah (murtad). " Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad An Nadlr bin Abdul Jabbar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Az Zubair bin Sualim dari Adl Dlahhak bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata; aku mendengar Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits. " ---> Hasan
Musnad Ahmad 24825: TDari Aisyah berkata; "Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan Rasul-Nya? ' Aisyah berkata; "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu." Beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah Azzawajalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Sya'ban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'."
Memang ada hadis yang menyebutkan tentang berpuasa di bulan Sya'ban, namun tidak dinyatakan tanggal tertentu. Misalnya:
Musnad Ahmad 23368: Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah ditanya tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka (Aisyah) Berkata: "Beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) berpuasa Sya`ban dan sangat menjaga puasa senin dan kamis."
Musnad Ahmad 23781: Dari Abdullah Al-Bahy dari Aisyah berkata; "Saya tidak pernah mengqodlo` puasa ramadhan kecuali di bulan sya`ban hingga Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam wafat."
Musnad Ahmad 23797: 'Abdullah bin Abi Musa berkata; Mudrik atau Ibnu Mudrik telah mengutusku kepada Aisyah supaya saya bertanya beberapa hal kepadanya. ('Abdullah bin Abi Musa) Berkata; ... Saya bertanya kepada (Aisyah) tentang hari yang diperselisihkan dari bulan Ramadhan, maka dia berkata; "Berpuasa satu hari dari Sya`ban lebih saya sukai dari pada saya tidak puasa satu hari dari bulan Ramadhan."
Tentang berpuasa diluar Romadhon sendiri, Rasulullah diberitakan senantiasa melakukannya dan menganjurkan umat beliau untuk juga mengamalkannya.
Shahih Bukhari 1845: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Abu At-Tayyah berkata, telah menceritakan kepada saya Abu 'Utsman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Kekasihku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mendirikan shalat Dhuha dua raka'at dan shalat witir sebelum aku tidur".
Sunan Abu Daud 2094: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari 'Ashim dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan.
Puncaknya, ada pula hadis lain berderajat shahih yang justru melarang orang untuk berpuasa karena menyambut Romadhon.
Sunan Tirmidzi 669: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muhammad dari Al 'Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: " Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya'ban, maka janganlah kalian berpuasa." Abu 'Isa berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits diatas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya'ban baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan." Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan.
Demikian kiranya.... namun seperti biasa, terhadap kawan-kawan yang mengamalkan puasa di Nishfu Sya'ban, saya tak mungkin juga melarangnya. Silahkan melakukan apa yang diyakini kebenarannya. Saya menghormatinya meskipun saya tidak mengamininya. Ini adalah pendirian dan keyakinan saya.
Semoga bermanfaat dan menjelaskan.
Palembang Darussalam. 01 Juni 2015
