Wednesday, October 12, 2016

Fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Dimas KTP)

Oleh. Armansyah


Masih menyoal fenomena Dimas Kanjeng. Sebetulnya saya sudah malas bahasnya. Tetapi terdorong rasa ingin berbagi pengetahuan maka sayapun menulisnya  disini.


Aslinya tulisan ini  dalam bentuk posting berseri di facebook saya


https://web.facebook.com/armansyah/posts/10154487248268444.




Semoga bermanfaat.


Jadi begini. Soal dia bisa menggandakan uang itu sebagaimana video serta cerita-cerita yang jamak beredar dipublik maka saya jawab kemungkinan itu tetap ada. Memang sebagai manusia biasa Dimas pasti punya keterbatasan. Namun toh jika dia bersekutu dengan Jin dalam prakteknya maka hal itu tentu melampaui keterbatasan kemampuan dari kemanusiaan sang Dimasnya sendiri.


Mungkinkah manusia berserikat dengan Jin sehingga bisa melakukan suatu perbuatan adikodrati?


Jawab: Sangat mungkin sekali.
Dalil, Ingat salah satu firman Allah:


Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan. (QS.Al Jin:6)


Jadi yang melakukan itu sebetulnya bukan orang yang bernama Dimas KTP melainkan Jin yang telah mengikat perjanjian tertentu terhadapnya.


Biasanya sebagai bentuk timbal baliknya maka Dimas KTP harus melakukan semacam ritual tertentu sebagaimana disyaratkan dalam awal perjanjian kerjasamanya dengan bangsa Jin tersebut.


Mempersamakan kasus penggandaan uang secara ghaib yang dilakukan oleh Dimas KTP dengan kasus dimana Rasulullah SAW melalui mukjizatnya yang mampu menggandakan makanan kepada para sahabatnya atau memancarkan air dari jarinya sangat tidaklah tepat, kebablasan jika tidak ingin disebut tolol dalam berpikir.




Pertama, apa yang dilakukan Rasul adalah mukjizat yang datang dari Allah. Sementara Dimas KTP berasal dari Jin yang bersekutu dengannya.


Apa yang datang dari Allah selain untuk menjadi hujjah kebenaran Rasul dihadapan umat juga memiliki landasan yang rasional kemanfaatan secara instan pada umat diwaktu mukjizat itu terjadi.


Contoh. Kasus penggandaan makanan. Ini dilakukan oleh Nabi SAW manakala beliau diundang dalam satu jamuan pribadi dan beliau SAW mengajak serta jemaah yang ada bersama beliau kala itu sehingga tuan rumah kaget sebab makanan yang tersedia hanya cukup untuk menjamu Rasulullah.


Karena tidak ingin mengecewakan banyak orang dan membuat malu si tuan rumah yang telah mengundangnya maka Rasulullah melakukan mukjizat beliau. Makanan yang disajikan dapat menampung semua jemaah hingga tak ada satupun diantara mereka yang tidak kebagian. ).


Kemudian juga saat air memancar dari jari Rasul.
Kasusnya saat itu Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan sementara waktu sholat sudah masuk dan para sahabat kehausan, sementara persediaan air tidak mencukupi. Maka Rasulullahpun atas idzin Allah mengeluarkan mukjizat beliau SAW. (Hadist yang ini juga silahkan lihat dibagian komentar).


Intinya apa?
Karomah Rasulullah, mukjizatnya Rasulullah digunakan bukan untuk memperkaya dirinya sendiri atau melakukan sesuatu demi kebutuhannya terpenuhi dengan memanfaatkan orang lain sehingga orang tersebut menjadi mudharat. Sebaliknya semua itu dilakukan oleh Rasul untuk kepentingan orang banyak dan berlaku langsung pada waktu itu juga, tidak ditunda-tunda dengan beragam alasan.


Lalu karomah Rasul seperti diatas mau disamakan dengan kleniknya Dimas KTP? Demi Allah bedanya bak langit dan bumi.


Satu dari sisi Allah sementara lainnya dari sisi setan datangnya.


Berapa banyak Dimas KTP meminta uang dari orang-orang? apa tujuannya? cek rasionalitas tujuannya, masuk akal gak? apakah tindakan si DImas KTP memberi kemaslahatan atau justru kemudhoratan pada orang-orang yang ia mintai uang-uang itu?


Jawab dengan akal sehat saja, gak usah panjang lebar pake argumen ini atau itu... kita sudah dikaruniai Allah akal agar berpikir secara benar, bukan akal itu diletakkan di dengkul kaki. Orang yang tidakdapat menggunakan akal artinya dia gila, anak kecil atau orang pingsan.


Contoh hadist memperganda makanan oleh Rasulullah SAW:





Shahih Muslim 3801: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata; Aku mebaca Hadits Malik bin Anas dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah; Bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata; Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim; "Aku mendengar suara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat lemah, yang aku tahu bahwa beliau sangat lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?" Dia menjawab; 'Ya.' Kemudian dia mengeluarkan beberapa roti pipih dari gandum, lalu meraih kerudungnya. Kemudian dia menyusupkan ke bawah tanganku, dan menyelendangkan kerudungnya (yang berisi roti). Dia mengutusku kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Anas berkata; 'Aku membawanya menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aku mendapati beliau sedang duduk di masjid bersama para sahabat. Aku berdiri di hadapan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: 'Apakah Abu Thalhah yang menyuruhmu? ' Anas menjawab; 'Ya', Beliau bertanya: 'Untuk membawakan makanan? ' Aku menjawab; 'Ya, ' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya; 'Berdirilah! ' Anas berkata; 'Beliau berangkat dan aku berada di bagian depan mereka, hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal itu.' Abu Thalhah berkata; 'Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki makanan yang cukup untuk menjamu mereka? ' Ummu Sulaim menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Anas berkata; 'Abu Thalhah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau tiba dan Abu Thalhah menghampiri beliau hingga memasuki rumahnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kemarilah, Wahai Ummu Sulaim, apa yang kau miliki? ' Dia datang dengan membawa roti itu, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar roti tersebut dilumatkan. Roti pun dilumatkan dan Ummu Sulaim menuangkan minyak samin pada wadah tersebut. Sehingga menjadi lauk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan beberapa kalimat lalu bersabda: 'Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.' Abu Thalhah mempersilahkan mereka. Mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda: 'Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.' Abu Thalhah mempersilahkan mereka, dan mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Kemudian beliau bersabda: 'Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.' Hingga mereka mereka bisa makan dan kenyang. Jumlah mereka ada tujuh puluh orang atau delapan puluh orang."


Shahih Bukhari 4962: Telah menceritakan kepada kami Isma'il ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata; Abu Thalah berkata kepada Ummu Sulaim, "Aku mendengar suara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melemah, dan aku tahu bahwa beliau sedang lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?" Maka Ummu Sulaim pun mengeluarkan beberapa bulatan gandum, dan mengeluarkan tudungnya lalu menutup roti itu dan meletakkannya di balik pakaianku. Ia juga memberikan sebagiannya padaku lalu mengutusku untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aku pun membawa dan aku dapati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di dalam masjid yang sedang bersama orang-orang. Aku berdiri di tengah-tengah mereka, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya padaku: "Apakah kamu diutus oleh Abu Thalhah?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi: "Dengan membawa makanan?" Aku berkata, "Ya." Akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang yang saat itu sedang bersamanya: "Beranjaklah." Maka mereka pun segera beranjak pergi (ke tempat Abu Thalhah) dan aku segera bergegas ke hadapan mereka, hingga aku sampai di tempat Abu Thalhah. Maka Abu Thalhah pun berkata, "Wahai Ummu Sulaim. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah datang bersama orang-orang sementara kita tidak memiliki persediaan makanan untuk menjamu mereka." Ummu Sulaim berkata, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Akhirnya Abu Thalhah pergi hingga bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Abu Thalhah menyambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga keduanya masuk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Ummu Sulaim, keluarkanlah makanan yang kamu punyai." Maka Ummu Sulaim pun mengeluarkan roti itu. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh untuk diremukkan sementara Ummu Sulaim meremas-remas samin untuk lauk roti. Kemudian Rasulullah Shallallah membacakan sesutu padanya sekehendak Allah. Sesudah itu beliau bersabda: "Izinkanlah untuk sepuluh orang." Lalu ia pun mengizinkan mereka dan mereka pun makan hingga kenyang dan keluar. Beliau bersabda lagi: "Izinkan untuk sepuluh orang lagi." Ia pun mengizinkan mereka hingga mereka makan sampai kenyang dan keluar. Beliau bersabda lagi: "Izinkan untuk sepuluh orang lagi." Ia pun mengizinkan mereka hingga mereka semua makan sampai kenyang lalu keluar. Setelah itu, beliau mengizinkan lagi untuk sepuluh orang. Akhirnya mereka semua makan dan kenyang. Padahal jumlah mereka adalah delapan puluh orang.

Contoh Hadist-hadist keluarnya air dari jari beliau SAW :




Sunan Darimi 30: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abu Al Jawwab dari 'Amar bin Ruzaiq dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah ia berkata; telah terjadi gempa pada masa Abdullah dan kejadian tersebut diberitahukan kepada Abdullah lalu beliau berkata: Kami para sahabat menganggap tanda-tanda (kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala) sebagai suatu keberkahan, sementara kalian menganggapnya sebagai hal yang menakutkan. Pernah ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba waktu shalat tiba, sementara kami tidak membawa air kecuali sedikit. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta air di bejana yang besar, dan beliau meletakkan telapak tangannya padanya. Secara mengejutkan air memancar diantara jari-jemarinya kemudian beliau menyeru: "Hai, Kemarilah untuk mengambil air wudhu dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala." Maka semuanya orang-orang mengambil wudhu sementara saya tidak mempunyai keinginan apa-apa kecuali saya hanya ingin meminumnya dan memasukkan air tersebut ke dalam perut saya karena beliau bersabda: keberkahan dari Allah. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Salim bin Abu Al Ja'd, maka ia berkata; mereka (waktu itu) berjumlah lima belas orang.


Musnad Ahmad 12040: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid dari Tsabit dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam berdo'a di air yang diletakkan dalam bejana. Rasulullah meletakkan jari-jarinya dalam bejana tersebut, dan air mulai memancar, maka orang-orang mulai berwudlu dengan air dan ternyata air memancar dari sela-sela jarinya. Kata Anas bin Malik, "Orang-orang bergegas berwudlu." Dia berkata lagi, "Lalu saya mengira jumlah kaum (yang berwudlu), jumlahnya antara tujuh puluh sampai delapan puluh (orang)."

Sunan Darimi 27: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid Al Thayalitsi dan Sa'id bin Ar Rabi' keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Amr bin Murrah dan Hushain keduanya mendengar Salim bin Abu Ja'd berkata; saya mendengar Jabir bin Abdullah Radliyallahu'anhu berkata; kami merasa sangat kehausan dan kami berjalan dengan cepat sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau memasukkan tangannya ke bejana kemudian air memancar dari jari-jemari beliau seperti mata air, dan beliau berkata: sebutlah nama Allah Subhanahu wa Ta'ala (maka kamipun menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan kami minum sampai kami kenyang dan cukup, Dalam hadits Amru bin Murrah, kami bertanya kepada Jabir Radliyallahu'anhu; berapa jumlah kalian (waktu itu)? ia menjawab; kami berjumlah seribu lima ratus orang, kalaupun sekiranya kami (waktu itu) seratus ribu orang niscaya air itu cukup bagi kami.


Armansyah, M.Pd



Saturday, September 19, 2015

Memahami hikmah eksistensi Hajarul Aswad

Proses Tawaf harus dimulai dari tempat dimana Hajarul Aswad berada.


ilustrasi_hajarul_Aswad


Hajarul Aswad dipercaya oleh sebagain umat Islam merupakan batu yang berasal dari syurga yang dibawa turun oleh malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim. Menurut sejumlah kalangan lainnya lagi --dan ini menjadi pemahaman saya pribadi juga-- Hajarul Aswad adalah batu meteor yang diturunkan oleh Allah kebumi yang menjadi petunjuk arah kepada Nabi Ibrahim ketika pertama kali beliau hendak meninggalkan istri dan anak tertuanya, Siti Hajar dan Isma'il 'alayhissalam.


Kembali kepada proses tawaf tadi, dari tempat Hajarul Aswad inilah kita memasuki sistem alam semesta. Kita harus mengikuti pergerakan orang-orang lain yang sudah ada lebih dahulu dari kita disana dan berasimilasi bersama-sama mereka. Inilah jalan keselamatan dan cara untuk menemukan orbit kita.


Jika kita tidak menyertai orang-orang lain maka kita tidak akan sanggup untuk bergerak didalam orbit kita ataupun menghampiri Allah ta'ala. Itulah sebabnya saya sering mengulang-ulang dalam banyak status di media sosial, dibuku maupun diberbagai kesempatan tabligh bahwa untuk dapat sukses, kita mesti membantu orang lain juga untuk sukses. Kita membuka jalan buat orang lain bersama-sama menuju kepada kebahagiaan, menggapai ridho ilahi.


Dari titik batu hitam Hajarul Aswad inilah kita memiliki kesempatan untuk memilih. Kita harus memilih jalan, tujuan dan masa depan kita. Kita harus menentukan orbit dimana kita akan bergerak dalam lautan manusia yang bertawaf mengelilingi Ka'bah sebagai baitullah.


Hajarul Aswad menjadi tonggak patokan dimana kita memulai ikrar kita kepada Allah untuk tidak menyekutukan DIA dengan apapun. Kita tidak menjadi hamba makhluk manapun kecuali menjadi hambanya Allah. Kita tidak menjadikan manusia manapun sebagai tuhan-tuhan tandingan disisi Allah, tidak ada makhluk yang dapat dan boleh dinisbatkan sebagai tuhan anak, tuhan ibu, tuhan bapak ataupun jelmaan dari Tuhan itu sendiri, karena semua makhluk tetaplah dalam posisinya sebagai makhluk. Tidak pula hajarul aswad maupun Ka'bah. Hajar Aswad hanya sebagai simbol dari titik awal perjalanan menuju kepada Allah dan Ka'bah merupakan media pemersatunya.


Bertawaf mengajarkan kita pada hidup yang aktif dan dinamis. Tawaf mengajarkan nilai-nilai sosial kepada kita. Tidak bergerak sendirian tetapi bergerak bersama orang-orang lain. Kita bergerak bukan karena alasan politik, bisnis, kekerabatan atau lainnya namun kita bergerak bersama-sama atas dasar cinta. Kita berjemaah karena cinta. Ya. benar, aktifitas kita secara jama'i itu didorong hanya karena cinta kita kepada Allah. Robbul 'aalamin.


Melalui cinta kita kepada Allah, maka Allah menghubungkan cinta-Nya juga kepada orang-orang lain yang bergerak dengan satu tujuan yang sama kepada-Nya. Dengan cara yang sedemikian dalam, halus, indah serta penuh nilai-nilai pengetahuan kosmik, Allah merajut silaturrahim kita dengan orang-orang dari berbagai negara diseluruh dunia melalui daya tarik cinta-Nya.


Tak ada sekatan kedaerah dalam menuju keridhoan Allah, tak ada pula halangan bahasa, warna kulit, perbedaan pandangan, beda ormas, beda partai politik, tidak pula ada beda status sosial antara si kaya dan si miskin.


Dalam bertawaf itu, Allah membuat kita lupa kepada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan hanyalah cinta dan daya tarik haru biru kepada-Nya. Kita larut dalam nuansa cinta bersama orang-orang lain yang ikut bertawaf, kita terpesona dengan totalitas penghambaan kepada Allah. Merasa terhormat dan tersanjung karena Allah telah mengundang kita secara pribadi untuk melakukan kunjungan kerumah-Nya. Dia telah mengundang kita secara pribadi untuk menziarahi Rasul yang Dia sayangi, Habiballah Muhammad ibn Abdillah al-Mustofa. Penutup para Nabi.


Mari kita sama-sama hijrah niat, sama-sama memantapkan niat untuk menjadi para tamu Allah di tanah suci.


Bagi para sahabatku dimanapun anda berada, saya mengajak anda semua untuk bergabung bersama saya dan keluarga insyaAllah tahun depan kita memohon kepada Allah dimudahkan jalannya untuk berumroh.


DP Umroh : Rp. 3,5 Juta dan selebihnya bisa anda cicil sesuai kemampuan anda. Alangkah naifnya kita jika untuk mencicil kendaraan, mencicil gadget, mencicil rumah saja kita bisa lalu untuk proses ke baitullah kita tidak mau.


Silahkan lihat jadwalnya disini : http://armitravel.com/paket-umroh-haji-plus


peluangusaha


Jika anda mampu mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama dalam lautan cinta-Nya sebanyak 10 orang, insyaAllah ada bonus menanti anda.


tabelkomisiarmitravel


Salam cinta Baitullah,
Salam sukses dunia dan akhirat.


Armansyah, Palembang Darussalam.

Memahami hikmah Tawaf

Ka'bah, ia bagaikan matahari yang merupakan pusat sistem tata surya ini, dan manusia-manusia yang mengelilinginya bak bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Dengan Ka'bah ditengah-tengah, gerombolan manusia tersebut mengelilinginya didalam sebuah gerakan yang sirkular.


ilustrasi-semesta


Ka'bah melambangkan konstansi dan keabadian Allah, sedang jutaan manusia dalam berbagai bentuk, rupa, warna kulit, bahasa dan asal negara yang berbeda-beda yang bergerak mengelilinginya itu melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang terjadi secara terus-menerus.



tawaf-sekeliling-Baitullah




Dalam perjalanan waktunya, Ka'bah akan tetap konstan ada disana sementara jutaan manusia yang bertawaf mengitarinya akan saling silih berganti dan berubah-ubah dari waktu kewaktu.


Tawaf mengajarkan arti kehidupan kepada jemaahnya. Perhatikan ritme gerakan kita ketika sedang bertawaf. Posisi kita senantiasa berubah-ubah ditengah arus jutaan manusia yang bersama-sama berputar mengelilingi baitullah. Bisa jadi pada titik tertentu kita berada sangat dekat dengan Ka'bah dan bahkan dapat menyentuhnya serta mencium Hajarul Aswad. Namun pada kesempatan lain kita boleh jadi tersingkir menjauh dan berjarak dengan Ka'bah. Seberapa jauh jarak antara kita dan Ka'bah tergantung dari jalan dan konsistensi kekuatan kita dijalan sistem tawaf itu.


Inilah hakekatnya. Didalam hidup kita kadang merasa jauh dari Tuhan. Kita seolah berjarak dengan-Nya. Terombang-ambing oleh arus kehidupan dunia yang memaksa kita terlempar jauh dari Allah.


Islam adalah ajaran yang penuh fitrah. Tidak bersifat doktrinal semu yang hanya dapat dimengerti oleh segelintir orang bergelar kyai, ustadz, syaikh, habaib atau lainnya. Jalan Allah adalah jalannya umat manusia. Untuk dapat menghampiri Allah terlebih dahulu kita harus menghampiri manusia, menghampiri makhluk-Nya. Untuk mencapai kesalehan kita harus benar-benar terlibat dalam permasalahan yang dihadapi oleh umat, oleh masyarakat.


Kita tidak boleh bersikap sebagai rahib yang memencilkan diri didalam biara, menjauh dari kompleksitas dunia, menghindari peliknya kehidupan berumah tangga, berpolitik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Kita harus terjun kelapangan dan terlibat secara aktif. Melalui cara inilah kita dapat menghampiri Allah.


menghadap_Kabah


Renungkanlah lagi posisi kita dalam bertawaf disekeliling baitullah. Kita tidak boleh berhenti dibagian manapun dari Ka'bah selama arus perputaran aktivitas manusia yang bertawaf kepadanya terus berjalan. Kita harus ikut terbenam dan hanyut dalam gelora lautan manusia yang gegap gempita mengitari Ka'bah atau jika kita nekad berhenti maka kita akan binasa karena terinjak dan tertabrak. Kita harus aktif berkarya, berbuat dan menjalankan semua aktifitas hidup ini dalam lingkaran ibadah kepada-Nya, sebab kita merupakan Khalifah Allah.


Salam dari Palembang Darussalam.
18 September 2015.


Armansyah, M.Pd
http://armitravel.com
http://arsiparmansyah.wordpress.com



Thursday, September 17, 2015

Hukum memaafkan tapi tak mau bertemu muka lagi

Memaafkan itu perkara yang mulia. Tetapi bolehkah kita memaafkan seseorang yang telah berbuat salah dengan kita namun kita sendiri enggan untuk berjumpa lagi dengannya?


Mungkin banyak dari kita akan mengatakan "... itu tidak benar... " ; "... jangan memutus silaturrahim... berdosa ..." atau "... jika demikian halnya berarti kita belum ikhlas memaafkan orang itu.... " ..." wah itu namanya kita dendam...." dan kata-kata lain yang sejenis. Iya khan?


Kata maaf, meminta maaf atau memberi maaf memang mudah dilisankan. Toh lidah tak bertulang khan? Namun sekali lagi, maaf dilisan kadang tetap membekas juga dihati. Tahukah anda, bahwa ada hal-hal tertentu yang kadang tidak mudah bagi kita untuk melupakan peristiwa yang membuat hati kita sakit, terluka dan malah jika teringatnya justru akan membuat diri kita sendiri terjebak akan dosa?


Ini perkara hati yang terluka, perkara psikologis kejiwaan.


Ada sebuah cerita....
Seorang anak diminta oleh ayahnya untuk memasang paku sebanyak mungkin disebuah papan. Setelah selesai, ayahnya justru kembali meminta sang anak mencabut paku-paku yang sudah ia tancapkan dipapan itu.


Meskipun heran, si anak akhirnya melakukannya juga. Lalu si ayah mengatakan, bahwa begitulah sebenarnya hidup ini bila kita sudah menyinggung orang lain nak. Memasang paku dipapan itu mudah dan melepasnya lagipun itu tidak begitu sulit..... tetapi apakah papan itu akan tetap sama mulusnya seperti dulu?


Hem. Lalu kembali lagi kepermasalahan awal kita.... salahkah, berdosakah bila kita memaafkan seseorang tetapi kita tidak mau melihat wajahnya lagi? Salahkah bila kita memaafkan seseorang namun kita ingin menjauh dari diri orang itu?


Yuk kita lihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW terhadap Wahsyi.


Anda tahu siapa Wahsyi? Dialah orang yang membunuh paman Rasul yang bernama Hamzah pada waktu perang Uhud atas permintaan Zubair bin Muth'im dengan jaminan pembebasan dirinya dari statusnya sebagai budak.


Riwayat berikut ini aslinya sangat panjang matnnya tetapi saya ringkas saja seperlunya, ia merupakan penuturan dari Wahsyi sendiri kepada sahabat Rasul yang bernama Ja'far bin 'Amr Ad-Dlamry dan 'Ubaidullah bin 'Ady bin Hiyar.




Sumber : Shahih Bukhari No. 3764 Bab Perang:


Wahsyi berkata, "Aku tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana, aku lalu keluar menuju Thaif, ketika penduduk Tha'if mengutus beberapa utusan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka salah seorang utusan berkata kepadaku, "Beliau tidak akan menyakiti utusan." Wahsyi melanajutkan, "Aku pun pergi bersama mereka sampai aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya: "Apakah engkau wahsyi?" aku menjawab, "Benar." Beliau bersabda: "Apakah kamu yang telah membunuh Hamzah?" Wahsyi menjawab, "Perkara itu sebagaimana yang telah sampai kepada anda." Beliau bersabda: "Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?"


Wahsyi berkata, "Lalu aku kembali pulang. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal, muncullah Musailamah Al Kadzab, aku berkata, "Aku akan berusaha mencari Musailamah, semoga aku dapat membunuhnya dan menebus kesalahanku karena membunuh Hamzah, "


Musnad Ahmad 15497: Wahsy berkata; dan itulah apa yang akan menjadi janjiku. Ketika orang-orang balik pulang, sayapun bersama mereka. (Wahsy) berkata; saya tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana. Saya keluar ke Thaif. lalu Rasulllah Shallallahu'alaihiwasallam mengirimkan suatu utusan kepadaku, dan mengajakku bicara, sang utusan mengatakan bahwa beliau tidak marah terhadapnya. Aku pun pergi bersama mereka sampai aku temui Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, "Apakah engkau wahsy?" saya menjawab, "Benar". Beliau bersabda: "Kamu yang telah membunuh Hamzah?" (Wahsy) berkata; urusan tentang pembunuhan itu telah sampai kepada anda, Wahai Rasulullah", dan beliau bersabda: "Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?" (Wahsy) berkata; lalu saya kembali pulang, ketika Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam meninggal dan muncul nabi palsu Musailamah Al Kadzab, saya bertekad, "Sayan akan menjumpai Musailamah, semoga saya dapat membunuhnya dan menebus kesalahan karena membunuh Hamzah",



Adakah salah seorang dari kita akan berani menyebut Rasulullah SAW seorang pendendam hanya karena beliau menolak melihat wajah Wahsyi didekatnya atas kesalahan dia membunuh Hamzah? Saya rasa, riwayat seperti ini harus dibaca dengan pertimbangan ilmu psikologi juga sehingga kita tidak kemudian salah menjatuhkan fitnah terhadap sikap Rasulullah.


Intinya, sah dan boleh-boleh saja bila pada satu kesempatan ada orang yang berbuat salah pada kita dan hal itu kita anggap sangat melukai hati kita, susah buat kita untuk tidak terjebak pada dosa atau khilaf bila melihat orang tersebut didepan kita maka maafkanlah ia namun berilah jarak antara kita dan mereka, jarak bukan dalam artian hendak memutus silaturrahim, tetapi jarak untuk saling menjaga perasaan saja, jarak yang membuat pihak yang telah bersalah untuk belajar dan melakukan perbaikan dirinya secara sungguh-sungguh.


Salam dari Palembang Darussalam.


Mgs Armansyah Azmatkhan, M.Pd


Redaksi Asli :


صحيح البخاري ٣٧٦٤: حَدَّثَنِي أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ قَالَ
خَرَجْتُ مَعَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ فَلَمَّا قَدِمْنَا حِمْصَ قَالَ لِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَدِيٍّ هَلْ لَكَ فِي وَحْشِيٍّ نَسْأَلُهُ عَنْ قَتْلِ حَمْزَةَ قُلْتُ نَعَمْ وَكَانَ وَحْشِيٌّ يَسْكُنُ حِمْصَ فَسَأَلْنَا عَنْهُ فَقِيلَ لَنَا هُوَ ذَاكَ فِي ظِلِّ قَصْرِهِ كَأَنَّهُ حَمِيتٌ قَالَ فَجِئْنَا حَتَّى وَقَفْنَا عَلَيْهِ بِيَسِيرٍ فَسَلَّمْنَا فَرَدَّ السَّلَامَ قَالَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ مُعْتَجِرٌ بِعِمَامَتِهِ مَا يَرَى وَحْشِيٌّ إِلَّا عَيْنَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ يَا وَحْشِيُّ أَتَعْرِفُنِي قَالَ فَنَظَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ لَا وَاللَّهِ إِلَّا أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ الْخِيَارِ تَزَوَّجَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا أُمُّ قِتَالٍ بِنْتُ أَبِي الْعِيصِ فَوَلَدَتْ لَهُ غُلَامًا بِمَكَّةَ فَكُنْتُ أَسْتَرْضِعُ لَهُ فَحَمَلْتُ ذَلِكَ الْغُلَامَ مَعَ أُمِّهِ فَنَاوَلْتُهَا إِيَّاهُ فَلَكَأَنِّي نَظَرْتُ إِلَى قَدَمَيْكَ قَالَ فَكَشَفَ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا تُخْبِرُنَا بِقَتْلِ حَمْزَةَ قَالَ نَعَمْ إِنَّ حَمْزَةَ قَتَلَ طُعَيْمَةَ بْنَ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ بِبَدْرٍ فَقَالَ لِي مَوْلَايَ جُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ إِنْ قَتَلْتَ حَمْزَةَ بِعَمِّي فَأَنْتَ حُرٌّ قَالَ فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ النَّاسُ عَامَ عَيْنَيْنِ وَعَيْنَيْنِ جَبَلٌ بِحِيَالِ أُحُدٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ وَادٍ خَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ إِلَى الْقِتَالِ فَلَمَّا أَنْ اصْطَفُّوا لِلْقِتَالِ خَرَجَ سِبَاعٌ فَقَالَ هَلْ مِنْ مُبَارِزٍ قَالَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ يَا سِبَاعُ يَا ابْنَ أُمِّ أَنْمَارٍ مُقَطِّعَةِ الْبُظُورِ أَتُحَادُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثُمَّ شَدَّ عَلَيْهِ فَكَانَ كَأَمْسِ الذَّاهِبِ قَالَ وَكَمَنْتُ لِحَمْزَةَ تَحْتَ صَخْرَةٍ فَلَمَّا دَنَا مِنِّي رَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا فِي ثُنَّتِهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ وَرِكَيْهِ قَالَ فَكَانَ ذَاكَ الْعَهْدَ بِهِ فَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ رَجَعْتُ مَعَهُمْ فَأَقَمْتُ بِمَكَّةَ حَتَّى فَشَا فِيهَا الْإِسْلَامُ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى الطَّائِفِ فَأَرْسَلُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا فَقِيلَ لِي إِنَّهُ لَا يَهِيجُ الرُّسُلَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ آنْتَ وَحْشِيٌّ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ قُلْتُ قَدْ كَانَ مِنْ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي قَالَ فَخَرَجْتُ فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لَأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ لَعَلِّي أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ قَالَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي ثَلْمَةِ جِدَارٍ كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقُ ثَائِرُ الرَّأْسِ قَالَ فَرَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ قَالَ وَوَثَبَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَضَرَبَهُ بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ
قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْفَضْلِ فَأَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ فَقَالَتْ جَارِيَةٌ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ وَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَتَلَهُ الْعَبْدُ الْأَسْوَدُ


Shahih Bukhari 3764: Telah menceritakan kepadaku Abu Ja'far Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah dari Abdullah bin Al Fadl dari Sulaiman bin Yasar dari Ja'far bin 'Amru bin Umayyah Adl Dlamri dia berkata, "Aku keluar bersama 'Ubaidullah bin 'Ady bin Hiyar ke Syam. Ketika kami sampai ke Himsh, 'Ubaidullah bin 'Adi berkata kepadaku, "Bagaimana kalau kita menemui Wahsyi dan bertanya tentang (peristiwa) terbunuhnya Hamzah?" aku menjawab, "Baiklah."


Memahami Perintah Rasul membunuhi anjing

Ada stigma negatif terhadap Islam dan khususnya Rasulullah SAW terkait dengan satu kejadian disalah satu periode kenabian dimana beliau (Nabi) pernah memerintahkan sahabatnya untuk mencari dan membunuh jenis anjing tertentu.


Orang yang tidak paham dan tidak pernah membaca nash-nash tersebut secara keseluruhan dengan lengkap akan menjudge buruk terhadap agama Allah ini. Tidak itu saja, tetapi kurangnya sosialisasi para ulama sehubungan dengan permasalahan inipun ikut memberikan peranan terjadinya kebencian dan kezaliman sejumlah umat Islam sendiri terhadap anjing.


Sekarang Admin tampilkan satu hadist yang mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada semuanya mengenai latar belakang peristiwa tersebut.




Shahih Muslim 2938 Shahih: Dari Abu Az Zubair bahwa dia pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami supaya membunuh anjing, bahkan anjing milik seorang wanita badui yang selalu mengiringinya kami bunuh juga.


Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang membunuh anjing seperti itu, namun beliau bersabda: "Bunuhlah anjing yang berwarna hitam dengan dua titik putih dikeningnya, karena anjing itu adalah jelmaan dari setan."



Dari hadist ini diatas, jelas bahwa perintah Nabi ketika itu hanya tertuju pada anjing dengan kriteria tertentu saja, tidak untuk keseluruhan jenis anjing lain. Dan ini artinya bersifat kondisionil. Ada penyebab yang membuat beliau memerintahkannya (dalam ilmu hadist dikenal sebagai Asbabul Wurud).


Terkait dengan setan, kita tahu bahwa didalam terminologi Islam, kata "setan" sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada segala sesuatu yang bersifat jahat dan merugikan. Ia tidak pernah merujuk pada jenis individu tertentu. Silahkan simpulkan sendiri apa itu setan dalam terminologi Islam berdasar hadist-hadist ini:


Misalnya:




Sunan Tirmidzi 1092: Dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian menemui perempuan yang sedang ditinggal pergi suaminya (sendirian dirumah). Sungguh setan itu mengalir pada diri kalian semua dengan mengikuti aliran darah."


Sunan Ibnu Majah 295: Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian hendak masuk ke kamar mandi, maka jangan merasa lemah untuk mengucapkan; ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAR RIJSIN NAJISIL KHABITSIL MUKHBITSISY SYAITHANIRRAJIIM (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kotoran yang najis, buruk lagi membahayakan, yaitu setan yang terkutuk)."


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menghabarkan kepada kami bahwasanya jin itu terdiri dari tiga kelompok. Pertama, jin yang selalu beterbangan (melayang) di udara, kedua, jin dalam wujud ular-ular dan anjing- anjing dan ketiga, jin yang mempunyai tempat tinggal dan suka bepergian. (Hadist ini riwayat Imam Thabrani, Hakim, Baihaqi dengan sanad yang shahih).



Juga ayat al-Qur'an berikut:




Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia. (Surah an-Naas ayat 1 s/d 6)



Dengan demikian maka setan dapat saja berupa penyakit berbahaya, dapat berupa nafsu yang merusak, dan dapat pula dirujuk kepada Manusia dan Jin apabila mereka senantiasa melakukan kejahatan.


Nah dalam konteks perintah Rasul untuk membunuh anjing berwarna hitam dengan dua titik putih dikeningnya, karena anjing itu adalah jelmaan dari setan, dapat saja kita pahami bahwa jenis anjing tersebut pada waktu itu merupakan anjing yang menyebarkan wabah penyakit tertentu, seperti rabies misalnya. Atau memang ada jenis Jin jahat yang berusaha untuk mengganggu ketentraman masyarakat. Wallahua'lam.


Bukankah dilain waktu Rasul juga pernah memerintahkan untuk membunuh jenis ular tertentu yang beliau katakan sebagai jelmaan Jin?




Sunan Abu Daud 4574: Dari Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya ular hitam itu dari jin, barangsiapa melihatnya dalam rumahnya hendaklah ia memintanya untuk keluar hingga tiga kali, dan jika tetap berada di dalam rumah hendaklah ia membunuhnya, karena itu adalah setan."


Musnad Ahmad 10942: Dari Abu As Sa`ib Bahwasanya ia berkata; aku mendatangi Abu Sa'id Al Khudri, ketika aku sedang duduk di sampingnya aku mendengar gerakan di bawah ranjangnya hingga akupun melihatnya, dan ternyata itu adalah seekor ular. Kemudian aku berdiri, namun Abu Sa'id berkata; "Ada apa denganmu?" Aku menjawab; "Ada ular di sini, " ia berkata; "kalau ada ular mau apa?" aku menjawab; "membunuhnya, " ia kemudian menunjuk ke sebuah rumah yang ada di depan rumahnya, kemudian ia berkata; "anak pamanku tinggal di rumah tersebut, ketika terjadi perang Ahzab ia meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menemui istrinya, dan dia seorang pengantin baru, beliau pun mengizinkannya dan memerintahkan kepadanya agar membawa senjata yang ia bawa. Dia pun pulang ke rumahnya dan mendapati istrinya sedang berada di depan pintu rumahnya, ia mengacungkan tombaknya kepada istrinya, maka istrinya pun berkata; "Jangan terburu-buru (menuduh) sampai kamu tahu apa yang menyebabkan aku keluar rumah." ia pun masuk ke dalam rumah dan mendapati seekor ular yang siap menerkam, lalu ia pun menikamnya dengan tombak, kemudian setelah ia lari keluar dengan kondisi tertombak." Abu Sa'id berkata; "Aku tidak tahu mana dari keduanya yang mati lebih dulu (laki-laki tersebut atau ular)."


Lalu kaumnya mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata; "Berdoalah kepada Allah, agar Allah mengembalikan saudara kami, " beliau bersabda: "Mintakanlah ampun untuk saudara kalian, " beliau ulangi hingga dua kali. Kemudian setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya ada sekelompok dari bangsa jin masuk Islam, jika salah seorang dari kalian mendapatkan salah satu dari mereka peringatkanlah hingga tiga kali, kemudian jika setelah itu menampakkan lagi kepada kalian maka bunuh, bunuh, yaitu setelah yang ketiga kalinya."


Shahih Bukhari 3065: Telah bercerita kepadaku 'Amru bin 'Ali telah bercerita kepada kami Ibnu Abi 'Adiy dari Abu Yunus Al Qusyairiy dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma pernah membunuh ular kemudian dia melarangnya. Dia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah merobohkan sebuah tembok milik Beliau lalu menemukan kulit ular di baliknya maka Beliau berkata: "Lihatlah dan cari dimana ular itu". Maka para shahabat mencarinya (dan menemukannya) maka Beliau berkata: "Bunuhlah ular itu". Maka aku membunuhnya. Kemudian aku bertemu dengan Abu Lubabah lalu dia bercerita kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Janganlah kalian membunuh ular kecuali ular yang berekor pendek dan ular belang karena ular jenis ini dapat menggugurkan kandungan dan merabunkan penglihatan, untuk itu bunuhlah".



Tentunya Muhammad dalam kapasitas beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul Allah tentu telah lebih tahu hakekat sebenarnya dari maksud perintah yang beliau berikan.


Tapi pastinya yang perlu kita tekankan disini adalah, Rasul tidak memerintahkan pembunuhan secara menyeluruh kepada setiap jenis anjing pada masa itu. Olehnya, manusia dijaman manapun tidak boleh menzalimi dan melakukan pembunuhan terhadap anjing secara semena-mena dengan mengatasnamakan sunnah, sebab faktanya sunnah yang diterapkan oleh Rasulullah tidak seperti apa yang dipahami secara umum. Ada kasus yang mengkhususkannya dan berlaku pula secara khusus.


Mgs Armansyah
Penulis buku " Hukum Anjing Menurut Islam "
Silahkan di reposted selama dirasakan bermanfaat.


cover-smashonly


Pemesanan Buku ini bisa langsung kontak saya sebagai penulisnya karena buku ini tidak didistribusikan ke toko buku.


Harga buku 50rb
Khusus pengiriman Jakarta dan Palembang free-ongkir


Tambah 25 ribu untuk ongkir diluar Jakarta dan Palembang
Kirim Nama lengkap, alamat, Hp, JlhPesanan


Kirim via SMS/WhatsApp ke 0816355539 atau IDLine: arman.syah atau Pin BB: 5756345F.


Dana dapat ditransfer ke nomor rekening:
Mandiri : 1130002034746 a/n. Armansyah
BCA : 8570045327 a/n. Armansyah

Sunday, September 6, 2015

PAN, PKS, Pembelotan dan Saya

Saya paham maksud dari manuver politik PAN yang menyeberang ke pemerintah sehingga berkesan mengkhianati KMP. Namun pertanyaannya apakah massa akar rumput yang telah berjuang menjadikan PAN sebagai salah satu kekuatan politik negeri ini juga paham dengan tindakan kaum elitnya itu? Apalagi dari sejumlah sumber pemberitaan nyata sekali bila keputusan tersebut sama sekali tidak melibatkan seluruh wilayah didaerah.


Andaikata yang melakukan ini adalah PKS, maka jujur saja saya akan mengharamkan suara yang sudah saya berikan kepada partai ini saat pemilu lalu. Saya memilih PKS atas dasar kesamaan ideologis perjuangan serta kesepemahaman ijtihad politik. Setiap rupiah yang masuk kedalam darah daging wakil-wakil rakyat yang saya pilih itu akan menjadi harta harom buat mereka karena telah mengkhianati amanah. Kelak sayapun akan menuntut pertanggung jawaban mereka di padang mahsyar dihadapan pengadilan Allah. Jadi jangan dianggap sepele atau main-main perkara amanah ini. Oleh sebab itulah menurut Rasulullah, orang yang ingkar terhadap janji dan tidak amanah merupakan orang-orang munafik.




Musnad Ahmad 13919: Dari Abdurrahman bin Sabith dari Jabir bin Abdullah Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ka'b bin' Ujroh, "Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh", (Ka'b bin 'Ujroh Radliyallahu'anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda: "Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku...... Wahai Ka'b bin Ujroh sesungguhnya tidak akan masuk syurga daging yang tumbuh dari hal yang di murkai Allah (haram), dan neraka adalah paling tepat untuknya, Wahai Ka'b bin 'Ujroh manusia berpagi dengan dua keadaan; yaitu ia terjual dirinya kemudian ia membebaskannya atau ia menjual dirinya kemudian ia menghancurkan dirinya".


Tetapi Alhamdulillah, PKS sampai hari ini tetap istiqomah pada konstituennya. Ya, akhirnya mari kita hormati saja pendirian kaum elit PAN yang telah memutuskan arah jalannya tersebut. Mudah-mudahan apa yang digadang-gadang oleh mereka membuahkan hasil dan bukan malah larut atau tenggelam didalam arus kemunafikan serta kemungkaran.


Shahih Bukhari 1959: Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Abu Musa dari bapaknya radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap".


Salam dari Palembang Darussalam.


Armansyah,