Friday, July 20, 2007

Menjawab Hambran Ambrie (1)

Menjawab Hambran Ambrie


Oleh : Armansyah


 


Cat : HA = Hambran Ambrie ; AR = Armansyah


-----------------------------------------------------------------------


HA :


DARI PENULIS:



Begitu besar kasih Allah akan hamba-Nya yang bersaksi ini, tidak dapat
saya lukiskan dengan kata-kata, maupun didalam tulisan secara sempurna.


Mungkin lebih dari 40 tahun saya telah menyangkal ke-llahi-an Yesus
Kristus. Tetapi begitu besar Kasih Allah saya diselamatkan untuk
mendapatkan kehidupan yang kekal di alam sorgawi itu. Allah sudah
pilihkan buat saya ''Hidup Baru Dalam Kristus''. dan karenanya sebagai
tanda pengucapan syukur, saya buatlah kesaksian ini.


Saya megahkan kesaksian ini, bukanlah disebabkan kecerdasan saya juga
bukan karena kepintaran saya memahami Alkitab, juga bukanlah disebabkan
bujukan orang lain; tetapi saya bermegah, disebabkan Allah Yang Maha
Kasih akan keadilan dan kebenaran itu telah menjemput saya untuk menjadi
pengikut Kristus, satu-satunya jalan untuk menuju kepada kebenaran dan
Hidup Yang Kekal.


Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan
kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. (Kis. 4:12).

Haleluya.



Hormat dan salam kasih
Penulis:

Hamran Ambrie


 


AR :


 


Segala puji untuk Allah, Tuhan bagi kerajaan langit dan bumi .... Tuhan yang Rahmat dan Berkat-Nya tidak terbatasi oleh sekat-sekat yang menghalangi kepada tujuan-Nya. Dia-lah Allah dengan segala kesucian atas diri-Nya, Allah yang bersih dari kemakhlukan, Allah yang tidak pernah memiliki serikat, tidak juga pernah memiliki istri maupun anak dalam wujud, sifat, khayalan maupun penafsiran seperti apapun.


 


Saya bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk mereguk indahnya Islam dan mengecap nikmatnya berdekatan dengan-Nya, baik secara akal rasio indrawi maupun secara batiniah, nafs dan ruh.


 


Saya bukanlah siapa-siapa dibandingkan Hambran Ambrie yang pengalaman organisatorisnya begitu banyak, sayapun bukan seorang kyai yang hafidz al-Qur'an dan menguasai begitu banyak hadis maupun tafsirnya, tetapi saya hanyalah seorang Muslim yang " kebetulan " disapa Allah dan mendapat " percikan setetes ilmu-Nya " untuk menjawab tuntas semua tuduhan maupun isyu-isyu yang sudah dihembuskan oleh Hambran Ambrie ditengah-tengah umat Islam Indonesia.


 


Bila tujuan Hambran Ambrie adalah mendapatkan kehidupan yang kekal di alam sorgawi sebagaimana diutarakannya dibagian atas, saya justru tidak terlalu memandang penting akan keabadian hidup yang notabene baru sebatas dogma diatas kertas itu. ; Ini bukan bentuk penyangkalan mengenai hakekat hidup sesudah mati, akan tetapi dalam pemandangan saya, tujuan hidup yang ingin dicapai oleh Hambran Ambrie tersebut hanya menjadi sebuah metafora ataupun imajinasinya belaka, tujuan hidup seperti ini tidak lain adalah sebuah bentuk ke-egoisan diri yang berusaha menjadikan wujudnya kekal sebagaimana halnya Tuhan.


 


Tidak ...


Tujuan akhir hidup saya bukanlah kehidupan sorgawi yang kekal ....


Sebab memang sorga dan neraka bukan sesuatu yang kekal abadi ....keduanya adalah nisbi, keduanya bukan tujuan ....


 


al-An’am


 


Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. -Qs. 11 Huud : 108


 


Itulah kita, selalu diliputi oleh angan-angan untuk selalu menjadi sesuatu yang abadi, sesuatu yang tidak pernah pudar, sesuatu yang bisa eksis melewati batasan ruang dan waktu, padahal yang demikian hanyalah bagi Allah saja.


 


Tujuan hidup yang sebenarnya adalah menggapai keridhoan Tuhan ...


 


al-An’am 162


 


Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam -Qs. al-An'am 6:162


 


Surga dan neraka hanya sebuah konsekwensi atas perbuatan kita terhadap sistematika yang sudah ditentukan-Nya, Dia berkenan membagi sedikit keabadian diri-Nya kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya akan tetapi bagaimanapun juga yang Maha Abadi, yang Alpha dan Omega tetaplah Dia. Pada saatnya, keabadian yang Dia berikan itu akan Dia ambil kembali.


 


a0032.png


Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin ... - Qs. 57 al-Haadid : 3


 


Karena itu tepat kiranya apa yang dinyanyikan oleh Chrisye dalam lagunya : Jika surga dan neraka tidak pernah ada apakah kita masih mau taat kepada-Nya ? atau jika surga dan neraka tidak pernah eksis, apakah kita masih mau berbuat baik dan menebarkan kebenaran Tuhan ... ? atau kita justru saling berbuat keonaran, menyebarkan keserakahan, kesombongan, kekejian dan sebagainya ?


 


Jika semua perbuatan baik yang sudah kita lakukan hanya mengharap surga dan kehidupan kekalnya, maka kita sama seperti seorang kuli atau buruh ataupun karyawan yang bekerja demi upah ... kita tidak lebih dari sekedar robot ... padahal Allah menjadikan surga dan neraka hanya sebagai pemicu semangat agar kita bisa bersikap ikhlas dalam beribadah dan menebarkan kebaikan kepada orang lain ...


 


Hambran Ambrie juga menyatakan bahwa keselamatan hanya ada jika seseorang mau menjadi pengikut Kristus dalam pengertian menerima sifat ke-ilahian Yesus ... ini sebuah pernyataan yang subjektif dan naif serta secara historis bertentangan dengan semua hakekat pengutusan para Nabi dan Rasul sebelumnya sebagaimana yang tertuang dalam kisah-kisah pada Perjanjian Lama dimana sosok Yesus dalam perwujudan phisiknya baru ada setelah ia dilahirkan oleh Maria jauh hari pasca kenabian Abraham, Musa, Daud dan sebagainya.


 


Dalam hal ini, al-Qur'an jauh lebih realistis dibandingkan teori keselamatan yang ada dalam teologi Kristen tersebut ...


 


a062.png


 


Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) meereka bersedih hati. -Qs. 2 al-Baqarah: 62


 


Alhamdulillah wala ilaaha illallah ....


 


- Armansyah


 


 


HA :


Saya mengaku percaya akan kebenaran Alkitab dan Jesus Kristus Anak Allah, Tuhan dan Juru selamat umat manusia, adalah melalui (atau disebabkan) Al--Quran. Sungguh ajaib! Tetapi memang demikianlah sebenarnya.



Saya mendapatkan kebenaran ajaran Kristen ini, sama sekali bukanlah disebabkan kepandaian atau kecerdasan mempelajari Alkitab terlebih dahulu. Juga tidak disebabkan penerangan para pendeta atau penginjil manapun. Hal ini dapat dimaklumi, karena saya sendiri tadinya adalah seorang Muslim, anggota/pengurus Muhammadiyah, mubaligh Islam. Dalam tahun 1947 saya adalah salah seorang pelopor/Ketua Kongres Um-mat Islam se- Kalimantan di Amuntai, bersama-sama dengan saudara K.H. Idham Chalid. Dalam tahun 1950-51, adalah sebagai Imam Tentera Pusroh Islam Angkatan Darat di Banjarmasin dengan pangkat Letnan-II. Juga sebagai
penulis Muslim dalam pelbagai majalah Islam antara lain: Mingguan Adil di Solo, Mingguan-Risalah Jihad di Jakarta, Mingguan Anti Komunis di Bandung, dan lain-lain. Lebih dari itu, saya adalah juga salatl seorang Anti Kristen yang agresif sejak tahun 1936 di Muara Teweh Barito);



hingga tahun 1962 termasuk salah seorang bersimpati untuk mendirikan Negara Islam di Indonesia, yang sekaligus bermakna Anti Kristen.
Karena itu tidal lah mungkin sama sekali bagi saya untuk dapat memahami isi Alkitab itu secara baik dan wajar. Alkitab, memang sudah saya miliki sejak tahun 1936, Saya membaca Alkitab bukanlah untuk mencari kebenarannya, melainkan hanya untuk mencari ayat-ayat .yang dapat menunjang pendirian saya sebagai seorang Muslim yang Anti Kristen, untuk menyerang iman Kristen itu sendiri.

Sampai berumur 40 tahun, saya adalah penghujat Jesus Kristus. Saya tidak percaya bahkan menolak ke-Ilahi-an Jesus Kristus itu sebagai Anak Allah, Tuhan dan Juruselamat. Pelbagai cara yang sudah saya lakukan untuk menghinakan menolak kebenaran Jesus Kristus.


 


AR :


 


Latar belakang kehidupan seseorang tidak bisa dijadikan jaminan ataupun parameter utama dalam menentukan sejauh mana tingkat kedalaman ilmu agama ataupun keimanan serta kebesaran jiwa orang tersebut.


 


Bisa saja seorang yang tadinya hidup sebagai penjahat besar, pembunuh, pemabok, perampok dan lain sebagainya tiba-tiba sadar dan berbalik menjadi seorang alim, entah itu kyiai atau pendeta atau semacamnya. Demikian juga sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan seseorang yang berangkat dari latar belakang pesantren, hafidz quran, menjadi ketua yayasan Islam anu dan anu lalu secara serta merta dijustifikasi sebagai seorang yang memiliki ilmu agama tinggi atau memiliki hubungan dekat dengan Allah.


 


Bukti nyata atas diri Hambran Ambrie sendiri, dia seperti pengakuannya memiliki banyak sekali pengalaman dalam berbagai ormas Islam ... tetapi lihatlah kembali, yang ada dihatinya hanyalah kebencian demi kebencian kepada orang-orang Kristen dan berusaha terus melakukan hujatan demi hujatan kepada mereka dengan teori " menyerang dengan meminjam tenaga lawan " yaitu menghina melalui ayat-ayat Bible sendiri.


 


Padahal ini bukanlah sikap seorang Muslim sejati ....


Dalam bersosialisasi dengan orang lain, apalagi kita ini tinggal dalam masyarakat yang majemuk maka sangat tidak bijak untuk bersikap kasar dalam menjalin komunikasi atau berinteraksi satu dengan yang lainnya, sekalipun itu kepada orang yang akidahnya berbeda dengan diri kita.

Ada etika dan tata krama tertentu yang harus kita pegang dalam berhubungan dengan individu lainnya dan ini adalah merupakan tuntunan yang benar dari Allah dan Rasul-Nya ...


Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka sahabat hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka sebagai sahabat, dan jangan (pula) sebagai penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. - Qs. 4 an-Nisaa' 89-90


Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. - Qs. 8 al-Anfaal : 61



Bersikap ketus, tidak tenggang rasa antar sesama manusia, bukan ajaran dari para Nabi dan bukan juga ajaran hidup yang benar ...



Justru dari titik paling kecil ini saja sudah semakin membuka jati diri seorang Hambran Amrie sebagai orang yang sama sekali belum paham akan ilmu agama, yang ada dikepalanya hanyalah kebencian dan kebencian kepada orang lain, pokoknya bila orang itu tidak sejalan dengan dirinya, tidak mau ikut pemikirannya, menolak bergabung dengan kelompoknya, maka dia itu harus dikerasi dan tidak berlaku prinsip lemah lembut atau tata krama pergaulan sehat sebagaimana yang disampaikan oleh al-Qur'an.



Sungguh bertolak belakang sekali dengan sikap Rasul yang senantiasa tersenyum, lapang dada dan berjiwa besar menghadapi perbedaan yang ada diantara para sahabatnya dan bahkan kepada para musuhnya sekalipun.



Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. -Qs. al-Ma'idah 5:8



Hambran Ambrie menyebutkan bahwa sampai umurnya 40 tahun dia adalah penghujat Yesus, padahal Nabi Muhammad Saw sendiri dalam berbagai pernyataannya baik yang diabadikan dalam al-Qur'an maupun melalui hadis-hadisnya begitu menghormati sosok Yesus dan tidak pernah melakukan penghujatan kepada beliau as sehingga kelakuan dari Hambran Ambrie dalam hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diteladankan oleh " bekas Nabinya " sendiri, pantas saja akhirnya dia malah berbalik menjadi kafir.



InsyaAllah bersambung ...


Wassalam.,



Armansyah


http://armansyah.swaramuslim.net

Tiga Agama Samawi(2)

Tiga Agama Samawi


 Lanjutan


 


Kita perlu sadar bahwa ketiga agama Semitik/Samawi menyembah El/Allah yang sama yang disembah Abraham/Ibrahim yang sama pula. Yang membedakan adalah pengajaran/aqidah mengenai Allah yang sama itu berbeda. Agama Yahudi mempercayai Allah Abraham yang memberikan perjanjian melalui Abraham, Ishak dan Yakub (sesuai kitab suci Tenakh/Perjanjian Lama). Agama Kristen mempercayai hal itu namun juga penggenapannya dalam Tuhan Yesus Kristus (Perjanjian Lama & Baru), ini diragukan keotentikannya oleh agama Yahudi. Agama Islam secara implisit beriman pada kitab-kitab Yahudi & Kristen (QS 2:136) namun secara eksplisit meragukan keotentikannya, dan beriman pada Allah Ibrahim namun juga wahyu yang dipercayai diterima oleh Nabi Muhammad. Wahyu ini diragukan keontentikannya oleh agama Yahudi maupun Kristen.


 


Memang benar bahwa nama 'Allah' pada masa jahiliah pernah merosot ditujukan kepada dewa berhala kafir, namun Islam ingin mengembalikan pengertian itu pada 'Allah' kaum Hanif yang menganut ajaran Ibrahim. Demikian juga dalam sejarah Yahudi, nama 'Elohim' dan 'Yahweh' juga pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Keluaran 32:1-6 & 1Raja 12:2Cool namun Musa ingin mengembalikan pengertian itu kembali kepada 'Yahweh, Elohim Israel.' (Keluaran 32:26-27).


 


Perlu disadari bahwa bahasa Arab sebagai salah satu dialek Semitik, dan nama Allah dalam bahasa Arab terutama lisan sebelum ada budaya tulis, sudah lama ada sebelum agama Islam hadir, maka sekalipun Islam sekarang menjadi agama mayoritas yang dianut orang Arab, tentu tidak bisa mengklaim bahwa nama itu adalah nama eksklusif milik agama tertentu, padahal nabi Muhammad dalam Al-Quran dan orang Arab sendiri mengakuinya sebagai milik bersama para penganut agama Semitik/Samawi (yang notabena diturunkan dari bahasa Semitik dan Aram itu).


 


Nama Allah dalam bahasa Arab sudah masuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, dan Alkitab bahasa Indonesia sudah menggunakan nama itu seperti saudara/i Kristen di tanah Arab selama 4 abad dan tidak ada masalah selama itu dan andaikan ada konflik antar agama isu nama Allah tidak pernah menjadi penyebab. Karena itu kalau sekarang timbul anggapan bahwa masalah nama sesembahan itu dijadikan isu seakan-akan mengganggu kerukunan beragama, tentu patut disayangkan sebab di Malaysia sendiri sudah tidak dipermasalahkan lagi, bahkan di negara-negara berbahasa Arab sendiri tidak pernah dipersoalkan. Baru ketika kelompok Kristen yang terpengaruh Yudaisme dan yang kurang mengerti sejarah Arab dan bahasanya mempersoalkannya isu ini naik kepermukaan.


 


Sekalipun berbeda dalam ajaran/aqidah, kesamaan Allah semitik/samawi yang disembah ketiga agama semitik/samawi itu seharusnya bisa menjadi perekat kesatuan bangsa Indonesia yang selama ini berdampingan secara damai. Seharusnya kita sadar bahwa gerakan fanatisme Yudaisme melalui orang-orang tertentu yang mau meresahkan hubungan dengan disatu sisi meremehkan sesembahan tertentu dan disisi lain menyalahkan penganut tertentu, bisa kita hadapi dengan hati-hati dan panjang hati. Dengan demikian kerukunan beragama menjadi nyata dan kesatuan bangsa Indonesia tercapai tanpa kita harus menghilangkan identitas pengajaran/aqidah agama masing-masing.


 





Sehubungan dengan artikel 'Satu Allah Tiga Agama' dan sebagai kelanjutan Diskusi-diskusi sebelumnya mengenai judul 'Satu Allah', berikut ada diskusi tentang tanggapan seorang dosen Kimia dari Yogyakarta.

 




(Tanggapan-1) Bukankah terlalu gegabah jika berkesimpulan bahwa umat Yahudi dan Yesus menggunakan Septuaginta. PL Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Septuaginta (LXX) di lakukan di Aleksandria suatu kota di Mesir di mana terdapat perkampungan Yahudi yang memang lebih fasih berbahasa Yunani, dan untuk keperluan mereka inilah terjemahan dilakukan (baca Atlas Alkitab). Jelas bahwa Septuaginta bukanlah konsumsi masyarakat Yahudi di Israel pada umumnya. Dugaan bahwa umat Yahudi dan Yesus menggunakan septuaginta disebabkan oleh pandangan bahwa (1) PB Yunani merupakan satu-satunya sumber otentik untuk PB, bahkan (2) percakapan Yesus berlangsung dengan bahasa Yunani; peninggalan Dead Sea Scroll, Coin, Surat Ba-Kobha, Kesaksian Sejahrawan Yosephus membuktikan bahwa pada zaman Yesus bahasa Ibrani merupakan bahasa popular. Tambahan pula Septuaginta sebelum tahun 200-an, nama YHWH tidak diterjemahkan melainkan muncul dalam huruf Paleo-Hebrew. Baru setelahnya YHWH diterjemahkan Kurios. Peristiwa Pentakosta disampaikan oleh rasul Yahudi (Petrus) pastilah dalam bahasa Ibrani, namun terdengar secara ajaib menurut bahasanya masing-masing pendengar!

 




(Jawab-1) Perlu disadari bahwa bahasa Yunani sudah dibudayakan dengan gencar sejak abad-4 sM ketika Alexander menguasai daerah yang luas di Timur Tengah, dari Yunani di Eropah sampai Mesir dan memasuki India di Timur. Dan setelah Alexander maka wangsa Yunani Ptolomeus di Mesir dan Seleuceus di Syria melanjutkan peng'yunanian' itu dimana Palestina terjepit di antaranya. Bahasa Yunani sudah menjadi bahasa rakyat bersama bahasa Aram sebagai bahasa ibu selama berabad-abad dan sekalipun sejak abad-1sM Romawi berkuasa, bahasa Yunani tetap menjadi bahasa umum (koine) sampai dilibas bahasa Arab setelah Islam lahir. Sekalipun kita menjunjung tinggi bahasa Ibrani, kita perlu terbuka akan fakta bahwa bahasa Ibrani sudah mati sebagai bahasa percakapan jauh sampai ke masa Ezra dan hanya dijadikan bahasa tulisan kitab suci agama. Perlu disadari bahwa Yesus, Para Rasul dan Sinagoga umumnya menggunakan Septuaginta karena naskah itulah yang komunikatip dan ketika Yesus membaca kitab suci di sinagoga (Luk.4) Ia membaca naskah Septuaginta. 80% kutipan PL dalam PB dikutip dari Septuaginta, sisanya dari fragmen lain. Kalau dalam Alkitab disebut 'bahasa Ibrani' itu bahasa aslinya 'hebraisti' (lidah Ibrani) atau 'hebraidi dialekto' (dialek Ibrani) yang maksudnya bahasa Aram. Yosephus sendiri menulis karyanya 'Perang Yahudi' dalam bahasa Aram (hebraisti). Petrus di hari Pentakosta kemungkinan besar berkotbah dalam bahasa campuran Aram dan Yunani karena keduanya dikenal umum kecuali orang-orang asing yang hadir, yang jelas ia tidak berbicara bahasa Ibrani yang saat itu tidak digunakan dalam percakapan dan hanya terdiri dari konsonan itu dan sudah tidak dikenal umum sejak zaman Ezra (Neh.8:9).

 


Gambar-gambar bukti mengenai Septuaginta yang menulis tetragramaton dalam bahasa Ibrani biasanya dikutip dari literatur Saksi-Saksi Yehuwa (a.l. brosur 'NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya' dan 'Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru'). Kalau kita mengamati dengan teliti, kita dapat melihat bahwa kata 'tetragramaton' disitu dicanggokan ke dalam kalimat oleh pemuja nama Yahweh, karena terlihat jelas perbedaan besaran font, kepekatan tinta, gaya tulisan dibandingkan kalimatnya. Perlu diingat bahwa bahasa Yunani ditulis dari kiri ke kanan dan bahasa Ibrani dari kanan ke kiri. Kalau penulis Septuaginta mau menulis tetragramaton, tentunya bukan HeWahHeYod (dengan huruf Ibrani dari kiri ke kanan), melainkan 'Iaoue' dengan huruf Yunani. Kata Ibrani Heleluyah (Mzm.111:1) yang masih dipertahankan dalam Septuaginta tidak ditulis 'AlleluHeYod' melainkan 'Alleluea.'


 




-----


(T-2) Apa maksudnya pernyataan 'kelompok Pemuja Nama Yahweh memaksakan kehendak'? Fatwa mati jelas melanggar HAM. Cara-cara kelompok"mapan" menanggapi "perubahan-perbedaan" dengan menganggap fanatisme sempit sesungguhnya mirip dengan sikap Gereja Katolik ketika menghadapi Martin Luther dengan sekitar 300 thesisnya yang ditempel-tempelkan di dinding-dinding Gereja sebagai protes ketidak-setujuannya yang kemudian mengganggapnya sebagai anti-christ bagi para Lutheran.

 




(J-2) 'Memaksakan Kehendak' bisa dilihat dari fakta ucapan menghakimi yang biasa keluar dari pemuja nama Yahweh, memaksakan tafsiran sendiri yang masih mentah, memaksa LAI untuk mengganti semua nama 'Allah' dan 'TUHAN' dari Alkitab, dan ketika ditolak karena kurang kuat dasarnya, menjiplak begitu saja karya LAI dan memaksa mengganti semua kata 'Allah' dan 'TUHAN' tanpa izin. Soal 'fatwa mati' memang tidak dibenarkan namun melihat peristiwanya bisa dimaklumi karena ucapan-ucapan Suradi dalam kaset dan tulisannya memang sarkastis sekali dan memaksakan diri. Umat Kristen tidak keberatan kalau digunakan nama 'Yahweh' tetapi jangan dengan memaksa orang lain untuk menggantinya. Adalah terhormat kalau pemuja nama 'Yahweh' (yang sering menyatakan diri sebagai ahli bahasa Ibrani dan Yunani) menerjemahkan sendiri naskah Alkitab dari bahasa aslinya daripada memaksa terjemahan orang lain dan mengganti sendiri. Soal Martin Luther, coba belajar lagi, karena jumlah thesis Martin Luther Cuma '95' bukan '300.'

 




-----

 




(T-3) Ditinjau dari kronologi yang tercatat Alkitab berikut: YHWH disebut namaNya sejak pada zaman Enos (Kej. 4:26), Leluhur bs Israel berkomunikasi dengan Elohim dengan melibatkan nama YHWH. Nuh berkomunikasi dengan YHWH dan mebangun mezbah YHWH (Kej.8:20), dan memuji YHWH (Kej 9:26). Abraham juga berkomunikasi dengan YHWH, dan mendirikan mezbah YHWH (Kej. 12:7) dan kemudian memanggil namaNya (ay8). Abraham bersumpah demi YHWH, Elohim yang Maha Tinggi, Pencipta langit dan bumi (Kej 14:22). Abraham menjawab, "Ya Adonai YHWH, ...." (Kej. 15:2, Cool Yakub bertempur melawan YHWH dan kemudian mendirikan Betel (Kej.28:19-22). Jadi aneh jika Yahweh dianggap sebagai Tuhannya khas orang Israel. Yahweh memang kemudian diakui secara nasional sebagai Nama Tuhan mereka mulai eksodus. (Barangkali justru betul jika Allah itu apa Tuhannya bs Arab?). Sebutan Elohim mendominasi Kej.1, YHWH-Elohim (tepatnya Elohim YHWH) secara bersamaan (20 kali) mendominasi Kej 2 -3; Selanjutnya Kej. 4 - Maleakkhi, nama YHWH (totalnya sekitar 68000 kali) jauh mendominasi ketimbang sebutan El, Elowah, Elohim (total ketiganya kurang dari 3000 kali).

 




(J-3) Perlu disadari bahwa Kitab Pentateuch ditulis Musa setelah ia diperkenalkan dengan nama 'Yahweh.' Bila kita mempelajari sifat-sifat Tuhan 'El' dan 'Yahweh', sekalipun keduanya memiliki teologi sama, dapat dilihat bahwa ada sifat baru yang ditunjukkan nama 'Yahweh,' yaitu sebagai Tuhan yang menyelamatkan/membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir yang dikenal dimasa Keluaran, ini menunjukkan bahwa nama itu baru dikenal bangsa Israel melalui Musa. Tuhan 'Yahweh' adalah khas Israel, Tuhan yang dinamis, yang memberikan keteguhan iman bagi Israel dan yang menyatukan mereka menghadapi penindasan perbudakan di Mesir. Tuhan yang menyatakan diri dengan nama baru khas padang gurun 'Sinai' itu bisa kita lihat petunjuknya di banyak kitab lain dalam Tenakh yang tidak bergantung satu dengan lainnya (a.l. Hos.2;13:4; Yes.43:3; Yer.2:1 dst; Yeh.20; Am.2:10 dst; 5:25; dan yang juga dinyatakan penyair kuno Israel yang menyanyikan nyanyian kemenangan seperti nyanyian Debora (Hak.5) dan Mzm.68:8 dst.).

 


Dalam proses penulisan dan penyalinan ada intervensi teologis kaum Yahwis untuk memasukkan nama yang baru dikenal itu dalam sumber kitab Kejadian, dimana kemudian nama 'Yahweh' tidak sekedar disebut secara eksklusif sebagai 'Tuhan Israel' tetapi diperpanjang sampai ke ayat Kejadian dan disebut bahwa "Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN" (Kej.4:26. Enos artinya manusia) untuk menunjukkan bahwa Yahweh juga Tuhan umat manusia. Bahkan keberadaan nama 'Yahweh' itu kemudian dikaitkan dengan "Penciptaan langit dan bumi" (Kej.2:4-7), dan kemudian menghiasi banyak halaman kitab Kejadian.


 


"Yahwis mempunyai pandangan lain. Menurutnya, Yahweh adalah Allah seluruh umat manusia sejak awal kejadian dunia, dan 'ibadat kepada Yahweh' didirikan oleh Enos, sebagai wakil umat manusia pada zaman awal sekali (Kej.4:26). Pandangan yang demikian tidak sesuai dengan kepercayaan bahwa Yahweh baru bertemu dengan israel di padang gurun. Tampaknya, pandangan Yahwis itu merupakan pandangan teologis dan bukan ingatan historis. Pandangan teologis ini sesuai dengan cara pemikirannya, yaitu bahwa penyataan yahweh bersifat universal dan berlaku untuk seluruh dunia." (Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, h.125).


 


Petunjuk lain bahwa Tuhan dengan nama 'Yahweh' belum dikenal di kitab Kejadian bisa dilihat dari fakta bahwa selama berada di Kanaan, para leluhur dengan Tuhan mereka yang bernama 'El' rukun-rukun saja berdampingan dengan ilah-ilah Kanani (Baal), padahal sesudah Keluaran generasi Israel secara tegas dengan pimpinan Tuhan 'Yahweh' membumi-hanguskan orang-orang Kanani tanpa ampun. Bahwa Abraham juga belum mengenal nama 'Yahweh' bisa dilihat dari fakta bahwa ia memberi nama kepada anaknya dengan nama 'El' bukan 'Yah', Ismael (El telah melihat. Kej.16:11) mengandung nama 'El.' Absennya nama yang mengandung nama 'Yah' dalam kitab Kejadian (Abi'yah', Eli'yah', Yesa'yah'), tetapi hanya nama-nama yang mengandung nama 'El' seperti a.l. Bab 'El' (gerbang El), Mehuya'el' & Metusa'el' (Kej.4:1Cool, dan Isra'el' (El yang bergumul. Kej.32:2Cool, menunjukkan bahwa di masa kitab Kejadian kenyataannya hanya dikenal 'El elohe Yisrael' (Kej.33:20) dan Ialah 'El Beth 'El'' (Kej.35:7). Yahweh adalah El yang kasih dan adil, tetapi rupanya fanatisme Yahwis menjadikan mereka militan.


 




-----

 




(T-4) Mengapa pengenalan nama Yahweh atau paling tidak Elohim dari Abraham-Hagar-Ismail tidak bisa berlanjut pada bangsa Arab yang bahkan menetapkan "Allah" sebagai ganti nama"ilah" (Tuhan); cukup aneh bs Arab tidak mengenal nama Yahweh.

 




(J-4) Ujian iman Abraham (yang dirayakan Islam sebagai 'Idul Adha') dan bahwa nama 'Yahweh' tidak dikenal dalam jalur bangsa Arab keturunan 'Ismael' menunjukkan bukti tambahan bahwa memang nama 'Yahweh' belum dikenal Abraham, bahkan Hagar menamai Tuhannya 'El Roi' (El yang melihat), dan anaknya tidak diberi nama Isma'yah' oleh Abraham melainkan Isma'el'. Ini memperkuat bukti bahwa nama 'Yahweh' belum dikenal pada saat Abraham dan baru sesudah Musa keturunan Ishak-Yakub-lah nama 'Yahweh' dikenal dalam jalur bangsa Israel. Kenyataan ini menunjukkan indikasi bahwa nama Tuhan semula adalah 'El' (Allah dalam dialek Arab) dan baru dalam masa Keluaran dinyatakan nama kedua 'Yahweh,' namun sekalipun demikian nama 'El' masih terus digunakan sebagai sinonim Yahweh sesudah Keluaran (Bil.23:4,8,19,22-23;Mzm.85:8-9;Yes.42:5). Demi menguduskan nama Yahweh, Yahweh sering digantikan nama 'Adonai' yang bisa berarti 'Yahweh', 'Tuhan' atau 'Tuan.' Yesus diberi dua nama yang mengandung kedua nama itu, yaitu 'Imanuel' (El menyertai kita. Mat.1:23) dan 'Yesus' (Yahweh adalah keselamatan. Mat.1:21).

 




-----

 




(T-5) Mengapa LAI menerjemahkan Hebrew-OT dan Greek-NT lebih mengacu pada pemakaian vocabulary Arab ketimbang Ibrani. Jika memang "Allah" (Arab) itu mempunyai equal meaning dengan Elohim (El, Eloah) kenapa tidak dibiarkan begitu saja yakni tetap Elohim? Rasanya setiap insan yang mengaku muslim di seluruh dunia ini pasti mengenal "Allah"sebagai "Allah" yang tidak akan diterjemahkan.

 




(J-5) Perlu disadari bahwa penerjemahan Alkitab Indonesia tidak dimulai dari nol melainkan ada proses sejarah dibelakangnya. Sejak zaman Ezra Taurat sudah diterjemahkan dan pada abad-3sM Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Spetuaginta) oleh para utusan imam besar Eliezer di Yerusalem. Tidak ada bukti Allah Bapa melarang penggunaan terjemahan nama'Nya' bahkan Yesus dan para Rasul menggunakan terjemahan Septuaginta, dan Roh Kudus sendiri membimbing penerjemahan 'lidah' para Rasul ke bahasa-bahasa asing termasuk 'Arab.' Ketika Cornelius Ruyl (1629) pertama kali menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan menggunakan nama'Allah' tentu ia tidak asal menggunakan nama itu. Sebagai orang Eropah ia sudah paham benar bahwa nama 'Allah' sudah digunakan orang-orang Kristen di negara-negara berbahasa Arab jauh sebelum masa Jahiliah/Islam, dan di Indonesia setidaknya Islam sudah empat abad sebelumnya menyebar di Nusantara sekaligus menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa lokal termasuk kata Allah, karena itu penerjemahan 'Theos' menjadi Allah justru paling tepat dibandingkan misalnya diterjemahkan dengan 'theos,' 'el/elohim/eloah,' atau 'god'. Kita juga jangan berpandangan sempit seakan-akan orang Islam hanya menggunakan nama 'Allah' sebab dalam terjemahan Al-Quran dalam bahasa Eropah mereka juga menggunakan istilah 'God,' 'Deux', dll.

 


Umat Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah lama menggunakan nama 'Allah' sebelum lahir agama Islam di abad-7. Pada abad-6 ditulis inskripsi Ummul Jimmal oleh orang kristen yang dimulai dengan kalimat 'Allah gafran' (Allah mengampuni), dan di tahun 1881, ditemukan inskripsi Zabad (512) yang ditulis penganut Kristen yang dimulai dengan ucapan 'Bism al-Ilah' (Dengan nama Allah), bahkan pada saat Konsili Efesus (431) sudah ada uskup Arab Harits yang bernama 'Abd Allah' (Hamba Allah). Ini menunjukkan bahwa kata 'Allah' dan 'Bism al-Ilah' bukan kata-kata Islam tetapi kata-kata bahasa Arab dan sudah digunakan oleh orang Kristen Arab lebih dahulu sebelum Islam lahir, karena itu di Alquran dan Muhammad sendiri menyebut nama 'Allah' dipakai bersama oleh orang 'Yahudi, Nasrani, Kristen, dan Islam' (QS.2:136;22:40), itulah sebabnya pula di dunia Arab sekarang sebutan Allah oleh orang Kristen dan Islam tidak menjadi masalah. Ulil Absar Abdala dalam seminarnya di LAI menyebut bahwa sekitar 70% isi Al-Quran berasal dari tradisi agama Yahudi dan Kristen (termasuk kitab sucinya).


 


Gejala purifikasi nama 'Allah' adalah gejala baru di kalangan Islam tertentu, namun gejala purifikasi nama 'Yahweh' memang sudah lama di kalangan pemuja nama Yahweh dan baru dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di Indonesia.



Tiga Agama Samawi(1)

SATU ALLAH TIGA AGAMA


 


Dalam dua dasawarsa terakhir ini ada gejala menarik di kalangan Kristen dimana banyak umat mengunjungi Israel untuk melihat situs-situs yang diceritakan dalam Alkitab. Diantara para peziarah itu ada yang kemudian terpengaruh adat-istiadat Yahudi kemudian mempraktekkannya di gereja mereka di Indonesia seperti perayaan Pondok Daun dan juga tari-tarian Yahudi. Namun, diantara mereka ada juga yang terpengaruh fanatisme sekte ortodox Yahudi fundamentalis yang kemudian mengganti nama mereka dengan nama Ibrani (seperti ben Abraham), ada yang terpengaruh Yudaisme kemudian menggugat amanat agung penginjilan (Matius 28:19), dan puncaknya ada yang memuja nama 'Yahwe' (sebutan yang tepat adalah Yahweh) dalam bahasa asli Ibrani dan tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun.


 


Perlu disadari bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa surgawi, dan kenyataannya Tenakh (Kitab Suci Yahudi yang kemudian diterima Kristen sebagai Alkitab Perjanjian Lama) sekitar abad-3sM, dengan restu Imam Besar Eliezer di Yerusalem, diterjemahkan di Aleksandria ke dalam bahasa Yunani dalam bentuk Septuaginta (LXX) dimana nama Yahweh diganti menjadi 'Kurios' dan El/Elohim menjadi 'Theos.' Septuagintalah yang digunakan Yesus dan umat Yahudi pada masa Yesus hidup (selain bahasa rakyat Aram), mengingat bahwa bahasa Ibrani kala itu hanya terdiri dari huruf mati sehingga sulit menjadi bahasa percakapan dan hanya menjadi bahasa suci di Bait Allah. Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani mengikuti kaidah dalam Septuaginta, dan firman Pentakosta disampaikan Rasul didengar dalam bahasa lokal termasuk Arab (Kisah 2:7-11).


 


Namun, kelompok pemuja nama Yahwe ini kemudian ingin memaksakan kehendak mereka dengan mengganti semua nama Tuhan dalam Alkitab Indonesia dan menggantinya dengan 'Yahwe' dan Allah dengan 'Eloim.' Bagi pemuja nama Yahwe, nama Allah dianggap nama 'Dewa Air atau Bulan' (lihat brosur 'Siapakah Yang Bernama Allah Itu' yang diterbitkan oleh Bet Yeshua Hamasiah) sehingga kalau umat menggunakan nama itu, itu berarti menghujat Yahwe. Semangat anti-Arab ini sempat membuat marah kalangan Islam tertentu (lihat 'Fatwa Mati Untuk Seorang Penginjil', Gatra, 10 Maret 2001), namun ada juga kalangan Islam tertentu yang menganggap serius masalah ini dan menganggap bahwa nama 'Allah' adalah milik Islam dan melarang umat Kristen menggunakannya.


Benarkah klaim-klaim demikian, ataukah pandangan itu fanatisme sempit yang justru merupakan masalah dan bukan masalah sebenarnya? Untuk mengerti lebih dalam soal ini ada baiknya kita mempelajari siapa Allah sesembahan Semitik/Samawi itu. Kita perlu menyadari bahwa ketiga agama Yahudi, Kristen maupun Islam, disebut sebagai agama Semitik/Samawi karena ketiganya berasal dari rumpun yang sama yang mendasarkan diri pada tradisi keturunan Sem, anak Nuh. Lebih dekat lagi ketiganya bisa disebut agama Abrahamik karena ketiganya berasal dari Abraham (Ibrahim dalam Islam) yang dikenal sebagai 'Bapa Orang Beriman' (Juga disebut bapak Monotheisme).


 


'IL' Semitik





Tuhan El (dengan padanannya Elohim & Eloah), nama Tuhan yang pertama digunakan dalam Alkitab Kejadian, sebenarnya berasal dari sesembahan 'il' Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam dialek-dialek suku-suku keturunan yang kemudian terpencar dari sumber itu. Kita perlu menyadari bahwa para leluhur yang diceritakan dalam kitab Kejadian sebelum migrasi Terah, tinggal di Mesopotamia sekitar sungai Efrat dan Tigris (lihat daftar suku-suku dalam Alkitab Kejadian 10-12). Kemudian Terah dan keluarganya termasuk anaknya Abram (kemudian menjadi Abraham) meninggalkan Mesopotamia dan bermigrasi ke Kanaan (Kejadian 11:31).



Sebagai nama sesembahan, istilah 'il' Semitik lebih banyak digunakan sebagai 'sebutan/panggilan/gelar' pada awal bahasa rumpun Semitik. Kenyataan ini ditunjukkan dengan jelas di Semitik Timur, Akkadian Kuno (ilu) dan dialek-dialek di bawahnya sebelum masa Sargon (pra 2360sM) dan berlanjut sampai masa Babilonia Akhir. Penggunaan sebagai sebutan juga terlihat di Semitik Barat Laut, di Amorit (ilu, ilum, ila), Ugarit, Ibrani (el), dan Funisia. Di Semitik Selatan sebutan 'il' umum dipakai dalam dialek-dialek Arab Selatan, tetapi di Arab Utara, il disebut 'ilah.'



Ternyata di kalangan Semitik 'ilu' dan 'el' juga digunakan sebagai nama diri. Penemuan teks Ugarit pada tahun 1929, menunjukkan bahwa ternyata dalam pentheon Kanaan, 'il' adalah nama diri kepala pantheon dan penggunaan sebagai sebutan jarang digunakan. Di Semitik Timur juga dijumpai penggunaan 'il' sebagai nama diri sesembahan, juga di Akkadian Kuno. Nama diri ini juga disebut sebagai 'ilu' dan 'ilum'. Seringnya penggunaan 'il' sebagai nama diri dalam tulisan ketuhanan di Akkadian menunjukkan bahwa sesembahan 'il' (kemudian 'el' semitik) adalah tuhan kepala di dunia Semitik Mesopotamia pada masa pra-Sargon.



Penemuan penggalian di Amorit menunjukkan bahwa pada abad-18sM, tuhan 'il' memiliki peran besar, dan acapkali dipanggil sebagai 'ila' atau 'ilah.' Di Arab Selatan, juga banyak dijumpai 'il' sebagai nama diri. Dapat disimpulkan bahwa sejak masa awal bahasa-bahasa Semitik di Semitik Timur, Semitik Barat Laut, dan Semitik Selatan, 'il/el' sudah digunakan bersama baik sebagai sebutan maupun nama diri, sebagai Bapak dan Pencipta Kosmos.



Dari fakta-fakta di atas kita dapat mengetahui bahwa 'il' atau 'el' memang berasal dari sejarah Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam berbagai dialek menjadi il, ilu, ilum, ila, ilah', yang dalam dialek Ibrani menjadi 'el' yang adalah pencipta langit dan bumi dan yang mengutus Abraham. Kelihatannya untuk membedakan dengan nama sesembahan lain, kepada Musa kemudian dinyatakan nama kedua yaitu 'Yahweh' (Keluaran 6:1-2) sebagai Tuhannya khas orang Israel yang keluar dari Mesir, namun selanjutnya, nama diri 'El' juga masih digunakan sebagai sinonim Yahweh (bandingkan El Elohe Yisrael, Kejadian 33:20 dengan Yahweh Elohe Yisrael, Yosua 8:30).



Dalam dialek Semitik Arab, 'il' disebut 'ila' atau 'ilah' (Allah = al-ilah, ilah itu. Dalam dialek Semitik Ibrani penggunakan kata sandang untuk 'el' tidak umum). Kita mengetahui bahwa dari sumber Islam maupun Kristen bangsa Arab adalah keturunan dari empat jalur Semitik, yaitu melalui keturunan Aram (anak Sem - Palestina Timur Laut), keturunan Yoktan (anak Eber - Arab Selatan), keturunan Ismael (anak Abraham - Arab Utara), dan juga melalui keturunan Ketura (selir Abraham). Dari sini kita dapat melihat bahwa bangsa Arab dapat disebut termasuk rumpun Semitik (keturunan Aram anak Sem), Ibranik (keturunan Quathan/Yoktan anak Eber), dan juga Abrahamik (keturunan Adnan, keturunan Ismael anak Ibrahim), jadi bersaudara dengan orang Israel yang juga termasuk rumpun Semitik (keturunan Arphaksad anak Sem), Ibranik (keturunan Pelek anak Eber), dan Abrahamik (keturunan Ishak anak Abraham).



Dari kitab suci Yahudi (Tenakh/Perjanjian Lama), Kristen (Perjanjian Lama & Baru), maupun Islam (Al-Quran), kita dapat melihat nama-nama yang menunjuk orang-orang yang sama sekalipun dengan dialek berbeda (Abraham/Ibrahim, Yesus/Isa), dan pengajaran/aqidah yang berbeda pula. Peringatan Idul-Adha jelas terlihat menunjuk pada nama sesembahan yang sama yaitu El Abraham (Ibrani) atau Allah Ibrahim (Arab), namun berbeda dalam pengajaran/aqidahnya. Perjanjian Lama (Kejadian 22:1-2) maupun Perjanjian Baru (Ibrani 11:17-19) menyebut Ishak yang dikorbankan Abraham, Al-Quran (QS.37:99-113) tidak secara eksplisit menyebutkannya tetapi tradisi Arab menyebut nama Ismael sebagai yang dikorbankan Ibrahim.



Persaudaraan Yahudi dan Arab tidak bisa disangkali dari fakta sejarahnya. Sumber Islam mengakui bahwa bangsa Arab adalah termasuk rumpun Semitik, jadi bersaudara dengan Yahudi:



"Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia ... . Masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab tersebar di sepanjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan ... . Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupakan keturunan dari seorang nabi bernama Quahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Utara yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk keturunan Isma'il, putra Ibrahim ... . Istilah Arab berarti "Nomads". Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quahthan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta'arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-'Aribah (Arab Asli) ... . Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh." (Bangsa Arab' dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, 49-50)




"Adnan. Anak turunan Nabi Isma'il yang menjadi nenek moyang suku-suku Arabia Utara ... nenek moyang suku Arabia Selatan adalah Quahthan, yang dalam Bibel disebut Joktan." ('Adnan' dalam Glasse, 12-13)




Sedangkan sumber Kristen pun juga mengakui bahwa sebenarnya bangsa Arab bersaudara dengan bangsa Yahudi:
"Berita Alkitab yang pertama yang memberikan penjelasan mengenai penduduk Arabia adalah Daftar Bangsa-Bangsa dalam kitab Kejadian 10, yang mencantumkan sejumlah orang-orang Arab Selatan sebagai keturunan Yoktan dan Kusy. Kemudian hari sejumlah suku-suku dari Arab Utara disebut sebagai keturunan Abraham melalui Keturah dan Hagar (Kejadian 25). Lagi di antara keturunan Esau (Kejadian 36) sejumlah orang Arab disebut. Di masa Yakub, dua kelompok keturunan Abraham yaitu orang-orang Ismaili dan Medianit dijumpai sebagai pedagang-pedagang caravan (Kejadian 37:25-36)." ('Arabia' dalam The New Bible Dictionary, 54)



"orang Arab mencakup keturunan Aram (Kejadian 10:22), Eber (Kejadian 10:24-29), Abraham dari Keturah (Kejadian 25:1-4) dan dari Hagar (Kejadian 25:13-16) ... Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup beberapa suku Arab (Kejadian 10:26-29)." ('Arabians' dalam The Interpreter's Dictionary of the Bible, vol-1, 182)





Jadi, apakah ada yang mau menerima atau tidak, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dan Arab adalah saudara sedarah dengan adanya nenek moyang yang sama, dan dengan demikian sesembahan nenek moyang mereka adalah sama dengan nama 'Allah' dalam dialek Arab, sekali pun ajaran/aqidahnya berbeda karena perbedaan dalam menerima wahyu yang tercantum dalam kitab suci masing-masing yang dianggap masing-masing sebagai benar dan berotoritas.


Allah, 'IL' dialek Arab





Memang nama tuhan 'il' semitik yang disebut dengan berbagai dialek pada suku-suku keturunan Sem yang menyebar bisa menyimpang dari aqidah aslinya, namun dalam suku Israel dan Arab kesamaan itu masih besar melalui tiga jalur keturunan penting, apalagi ketiga agama semitik/samawi mempercayai 'el/ilah' Abraham/Ibrahim sebagai bapak Orang Beriman atau bapak Monotheisme. Jadi penggunaan dialek 'ilah' sudah lama digunakan suku-suku Arab, baik pra Abraham/Ibrahim maupun sesudah masa Abraham/Ibrahim, jauh sebelum masa Kristen (abad-1) dan masa Islam (abad-7). Penggunaan dialek 'ilah' (yang ditekankan menjadi 'Allah' dengan kata sandang definitif) dikalangan Arab pada masa pra-Islam dipergunakan oleh suku-suku Arab baik yang menganut agama Yahudi, Kristen maupun kaum Arab 'hanif' yang menganut agama Abraham/Ibrahim (terutama suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah).



Di kalangan bangsa Arab masakini yang mayoritasnya menganut agama Islam, penggunaan nama 'Allah' digunakan secara luas secara bersama bahkan dalam Al-Quran nama itu disebut digunakan bersama baik oleh umat Islam maupun Nasrani seperti dalam kutipan berikut:



"Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah diatas bumi (Adam). Maka jawab mereka itu: Adakah patut Engkau jadikan diatas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguh-nya Aku mengetahui apa2 yang tiada kamu ketahui". (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.2:30)



"Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah". (Yunus, QS.2:136).



"(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah ter-hadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang meno-long (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS.22:40)



Saat ini ada empat Alkitab dalam bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama 'Allah', dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak menjadi masalah (dalam Alkitab bahasa Aram-Siria Peshita, disebut 'Alaha'). Memang di Malaysia pernah ada negara bagian yang melarang penggunaan nama 'Allah' sehingga Alkitab dalam bahasa Indonesia pernah dilarang masuk ke Malaysia, namun sekarang Alkitab berbahasa Indonesia yang memuat nama Allah sudah bebas masuk ke Malaysia, dan sekarang juga terbit terjemahan Alkitab dalam Bahasa Melayu (BM) yang juga menggunakan nama Allah.





Alm. Nurcholish Majid, cendekiawan Muslim dari universitas 'Paramadina,' mengenai banyaknya umat Islam Indonesia yang mengira bahwa istilah "Allah" itu khusus Islam, Cak Nur mengingatkan bahwa selain claim itu bertentangan dengan Qur'an sendiri (QS.12:106), juga bertentangan dengan kenyataan bahwa dari dahulu sampai sekarang, di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok non-Islam, yaitu Yahudi dan Kristen dan mereka juga menyebut Allah." (Islam, Doktrin dan Peradaban, h.xcv)



Olaf Schumann, doktor teologi yang memperdalam Islamologi di Universitas Al-Ashar - Mesir selama tiga tahun, jadi tahu dengan benar situasi apa yang terjadi di negara Arab, mengungkapkan dengan jelas bahwa nabi Muhammad sendiri mengakui bahwa orang Kristen menggunakan nama yang sama unuk sesembahan mereka namun memang ada masalah di sini:



"Hal itu diakui pula dalam Al-Quran sendiri di mana nabi Muhammad dalam percakapan dengan orang Kristen dan Yahudi menggunakan pula kata Allah dan dengan sendirinya dicatatlah dalam buku suci umat Islam itu bahwa orang Yahudi dan Kristen menggunakan kata yang sama. Dalam tradisi Islam berbahasa Arab pun tidak pernah dipersoalkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menggunakan istilah yang sama dengan orang Islam untuk menyatakan Dia yang menjadi tujuan ibadah dan amal mereka. ... Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya." (Keluar Dari Benteng Pertahanan, 175,177).




Sekalipun faktanya penggunaan nama 'Allah' oleh orang Arab penganut agama Yahudi & Kristen dan orang Arab 'hanif' keturunan Ibrahim dan Ismael sudah lama terjadi sebelum kelahiran agama Islam, belakangan ini di Indonesia mulai ada kelompok tertentu baik di kalangan Kristen maupun Islam yang terlalu menekankan simbol-simbol agama daripada esensi agama itu, dan yang sekarang mulai lagi mempersoalkan hal itu (dengan kata lain menganggap peringatan Idul-Adha yang menceritakan tentang 'Allah' Ibrahim (QS.37:99-113) dianggap berbeda dengan 'Allah' Abrahamnya orang Arab penganut agama Yahudi & Kristen (Alkitab Kejadian 22:1-2/Ibrani 11:17-19)).
Ensyclopaedia Britannica menyebut bahwa nama 'Allah' dipergunakan baik oleh orang Kristen maupun Islam:



"Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonim for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." (dibawah kata Allah).



Banyak kalangan Islam di Indonesia sendiri terbuka pemikirannya untuk mengerti kebenaran sejarah dan menyadarinya, bahkan Ensiklopedia Islam menyebut:



"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. (Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.50).




"Kata "Allah" merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan, yang melalui kata tersebut dapat memanggil-Nya secara langsung. Ia merupakan kata pembuka menuju Esensi (hakikat) ketuhanan, yang berada di balik kata tersebut bahkan yang tersembunyi di balik dunia ini. Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan; misalnya nama Abd al-Allah (hamba Allah), nama Ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan." (Glasse, hlm.23).

Analisa Doktrin Trinitas

Analisa Doktrin Trinitas


Telah umum dalam pemahaman orang-orang Kristen bahwa Tuhan dikonsepkan menjadi 3 oknum, yaitu : Tuhan Bapa (God the Father), Tuhan anak (Jesus the Christ) dan Tuhan Roh Kudus (The Holy Spirit); Dan ketiga-tiga oknum ini didalam keyakinan mereka merupakan sehakikat dan satu dalam kesatuannya.



Adanya kehadiran Jesus yang disebut sebagai Tuhan anak (The Son of God) didalam salah satu unsur ke-Tuhanan Kristen, tidak hanya dipandang sebagai kiasan (metafora), namun lebih cenderung dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena perkataan Tuhan anak disini digunakan dalam arti yang sebenarnya, maka perkataan "Tuhan Bapa" disini seharusnya juga digunakan pula dalam arti "Bapa" yang sesungguhnya, sebab dengan demikian pemahaman ini menjadi benar.



Namun hal ini akan menjadikan suatu hal yang mustahil untuk dapat diterima oleh akal sehat !



Karena diri "anak" yang sebenarnya dari sesuatu, adalah mustahil akan memiliki suatu zat dengan diri sang "Bapa" yang sesungguhnya dari sesuatu itu juga.



Sebab pada ketika "zat" yang satu itu disebut anak, tidak dapat ketika itu juga "zat" yang satu ini disebut sebagai Bapa. Begitupula sebaliknya, yaitu pada ketika zat yang satu itu disebut sebagai Bapa, tidak dapat ketika itu kita sebut zat yang sama ini sebagai anak dari Bapa itu.




Ketika zat yang satu ini kita sebut sebagai Bapa, maka dimanakah zat anak ?
Tentunya kita semua sepakat bahwa kata apapun yang kita pakai dalam membicarakan Tuhan itu semata sebagai pengganti kata DIA (yaitu kata ganti yang tentu saja memang ada kata yang digantikannya), dan kata ZAT dalam konteks pembicaraan kita disini bukanlah kata zat yang dapat dibagi menjadi zat zair, padat dan gas.


Oleh karena dunia Kristen memiliki konsep pluralitas Tuhan dalam satu zat, maka disini telah terjadi suatu dilema yang sukar dan untuk menjawab hal ini, mereka selalu melarikan diri pada jawaban : "Misteri Tuhan yang sulit diungkapkan."



Suatu pernyataan yang mencoba menutupi ketidak berdayaan penganut Kristen didalam memberikan pemahaman mengenai doktrin keTuhanan mereka yang bertentangan dengan akal sehat.



Disatu sisi mereka memberikan kesaksian akan ke-Esaan dari Allah, namun pada sisi lain mereka juga dipaksa untuk menerima kehadiran unsur lain sebagai Tuhan selain Allah yang satu itu, logikanya adalah, jika disebut zat Tuhan Bapa lain dari zat Tuhan anak, maka akan nyata pula bahwa Tuhan itu tidak Esa lagi tetapi sudah menjadi dua (dualisme keTuhanan dan bukan Monotheisme).



Begitu pula dengan masuknya unsur ketuhanan yang ketiga, yaitu Roh Kudus, sehingga semakin menambah oknum ketuhanan yang satu menjadi tiga oknum yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga mau tidak mau pengakuan tentang ke-Esaan Tuhan (prinsip Monotheisme) akan menjadi sirna.



Khusus mengenai diri Tuhan Roh Kudus sendiri, didalam kitab Bible (di-Indonesia sering disebut al-kitab) kadangkala digambarkan sebagai api, sebagai burung dan lain sebagainya. Dan Tuhan Roh Kudus ini menurut kitab Perjanjian Lama (bagian awal dari al-Kitab) sudah seringkali hadir ditengah-tengah manusia, baik sebelum kelahiran Jesus, masa keberadaan Jesus ditengah para murid-muridnya hingga masa-masa setelah ketiadaan Jesus pasca penyaliban.



Dan menghadapi hal ini, kembali kita sebutkan bahwa unsur Tuhan sudah terpecah kedalam tiga zat yang berbeda. Sebab jika tetap dikatakan masih dalam satu zat (satu kesatuan), maka ketika itu juga terjadilah zat Tuhan Bapa adalah zat Tuhan anak kemudian zat Tuhan anak dan zat Tuhan Bapa itu adalah juga zat dari Tuhan Roh Kudus.




Pertanyaannya sekarang, sewaktu zat yang satu disebut Bapa, dimanakah anak ?
Dan sewaktu zat yang yang satu disebut sebagai Tuhan anak, maka dimanakah Tuhan Bapa serta Tuhan Roh Kudus ? Oleh sebab itu haruslah disana terdapat tiga wujud Tuhan dalam tiga zat yang berbeda.



Sebab yang memperbedakan oknum yang pertama dengan oknum yang kedua adalah 'keanakan' dan 'keBapaan'. Sedang anak bukan Bapa dan Bapa bukan anak !
Jadi nyata kembali bahwa Tuhan sudah tidak Esa lagi.


Oleh karena itulah setiap orang yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan baik dan benar akan menganggap bahwa ajaran Trinitas, bukanlah bersifat Monotheisme atau meng-Esakan Tuhan melainkan lebih condong kepada paham Polytheisme (sistem kepercayaan banyak Tuhan).



Dengan begitu, maka nyata sudah bahwa ajaran itu bertentangan dengan ajaran semua Nabi-nabi yang terdahulu yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah Esa dalam arti yang sebenarnya.



Kita dapati dari kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru (khususnya 4 Injil) sampai kepada kitab suci umat Islam yaitu al-Qur'an, tidak didapati konsep pluralitas ketuhanan sebagaimana yang ada pada dunia Kristen itu sendiri.



Pada masanya, Adam tidak pernah menyebut bahwa Tuhan itu ada tiga, demikian pula dengan Abraham, Daud, Musa, dan nabi-nabi sebelum mereka sampai pada Jesus sendiri juga tidak pernah mengajarkan asas ke-Tritunggalan Tuhan, apalagi dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.



Lebih jauh lagi bila kita analisa konsep Trinitas ini menyebutkan bahwa oknum Tuhan yang pertama terbeda dengan Ke-Bapaan, karena itu ia disebut sebagai Tuhan Bapa (Dia dianggap sebagai Tuhan yang lebih tua), sementara oknum Tuhan kedua terbeda dengan Keanakan yang lahir menjadi manusia bernama Jesus dalam pengertian singkatnya bahwa Tuhan anak baru ada setelah adanya Tuhan Bapa, karena itu ia disebut sebagai sang anak.



Hal yang paling menarik lagi adalah tentang oknum Tuhan ketiga yaitu Roh Kudus yang justru terbeda sifatnya dengan keluarnya bagian dirinya dari Tuhan Bapa dan Tuhan anak, sehingga Bapa bukan anak dan anak bukan pula Bapak atau Roh Kudus.



Apabila sesuatu menjadi titik perbedaan sekaligus titik keistimewaan pada satu oknum, maka perbedaan dan keistimewaan itu harus juga ada pada zat oknum tersebut. Misalnya, satu oknum memiliki perbedaan dan keistimewaan menjadi anak, maka zatnya harus turut menjadi anak.



Artinya zat itu adalah zat anak, sebab oknum tersebut tidak dapat terpisah daripada zatnya sendiri. Apabila perbedaan dan keistimewaan itu ada pada zatnya, maka ia harus adapula pada zat Tuhan, karena zat keduanya hanya satu.



Oleh karena sesuatu tadi menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum maka ia tidak mungkin ada pada oknum yang lain.




Menurut misal tadi, keistimewaan menjadi anak tidak mungkin ada pada oknum Bapa.
Apabila ia tidak ada pada oknum Bapa, maka ia tidak ada pada zatnya.
Apabila ia tidak ada pada zatnya, maka ia tidak ada pada zat Allah.
Karena zat Bapa dengan zat Tuhan adalah satu (unity).


Dengan demikian terjadilah pada saat yang satu, ada sifat keistimewaan tersebut pada zat Tuhan dan tidak ada sifat keistimewaan itu pada zat Tuhan.




Misalnya, Tuhan anak lahir menjadi manusia.
Apabila Tuhan anak menjadi manusia, maka zat Tuhan Bapa harus menjadi manusia karena zat mereka satu (sesuai dengan prinsip Monotheisme). Namun kenyataannya menurut dunia kekristenan bahwa Tuhan Bapa tidak menjadi manusia. Dengan demikian berarti zat Tuhan Allah tidak menjadi manusia.


Maka pada saat zat Tuhan Allah akan disebut menjadi manusia dan zat Tuhan Allah tidak menjadi manusia, maka ini menjadi dua yang bertentangan dan suatu konsep yang mustahil.



Ajaran Trinitas yang mengakui adanya Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus hanya dapat dipelajari dan dapat diterima secara baik hanya jika dunia Kristen mendefenisikannya sebagai 3 sosok Tuhan yang berbeda dan terlepas satu sama lainnya, dalam pengertian diakui bahwa Tuhan bukan Esa, melainkan tiga (Trialisme).



Siapapun tidak akan menolak bahwa Tuhan bersifat abadi, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir, namun keberadaan Tuhan yang menjadi anak dan lahir dalam wujud manusia telah memupus keabadian sifat Tuhan didalam dunia Kristen, karena nyata ada Bapa dan ada anak alias telah ada Tuhan pertama yang lebih dulu ada yang disebut sebagai Tuhan tertinggi dan ada pula Tuhan yang baru ada setelah Tuhan yang pertama tadi ada.



Akal manusia dapat membenarkan, jika Bapa dalam pengertian yang sebenarnya harus lebih dahulu ada daripada anaknya.



Akal manusia akan membantah bahwa anak lebih dahulu daripada Bapa atau sang anak bersama-sama ada dengan Bapa, sebab bila demikian adanya tentu tidak akan muncul istilah Bapa maupun anak.



Apabila Tuhan Bapa telah terpisah dengan Tuhan anak dari keabadiannya, maka Tuhan anak itu tidak dapat disebut 'diperanakkan' oleh Tuhan Bapa. sebab Tuhan Bapa dan Tuhan anak ketika itu sama-sama abadi, Alpha dan Omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak ada yang lebih dahulu dan yang lebih kemudian hadirnya.



Apabila ia disebut diperanakkan, maka yang demikian menunjukkan bahwa ia adanya terkemudian daripada Bapa. Karena sekali lagi, anak yang sebenarnya harus ada terkemudian daripada Bapa yang sebenarnya.



Apabila antara Tuhan Bapa serta Tuhan anak telah terbeda dari kekekalan, maka Tuhan Roh Kudus pun telah terbeda pula dari kekekalannya masing-masing, mereka bukan satu kesatuan tetapi 3 unsur yang berbeda.



Kenyataan ini justru didukung penuh oleh kitab Perjanjian Baru sendiri, bukti pertama bisa kita baca dalam Injil karangan Matius pasal 3 ayat 16 sampai 17 :



"Sesudah dibaptis, Jesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia (Jesus) melihat Roh Allah seperti burung merpati hinggap ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari sorga (apakah sorga = langit? :-red) yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:16-17)



Pada ayat diatas secara langsung kita melihat keberadaan 3 oknum dari zat Tuhan yang berbeda secara bersamaan, yaitu satu dalam wujud manusia bernama Jesus dengan status Tuhan anak, satu berwujud seperti burung merpati (yaitu Tuhan Roh Kudus) dan satunya lagi Tuhan Bapa sendiri yang berseru dari sorga dilangit yang sangat tinggi.



Dengan berdasar bukti dari pemaparan Matius diatas, bagaimana bisa sampai dunia Kristen mempertahankan argumentasi paham Monotheisme didalam sistem ketuhanan mereka ?



Bukti lainnya yang menunjukkan perbedaan antara masing-masing zat Tuhan didalam dunia Kristen yang semakin membuktikan keterpisahan antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lainnya dalam kemanunggalan mereka.



"Maka kata Jesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu !; dan sesudah berkata demikian, ia (Jesus) menghembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus" !." (Johanes 20:21-22)



Ayat Johanes diatas sebagaimana juga Matius pasal 3 ayat 16 dan 17, memaparkan mengenai keterbedaan zat Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus sehingga semakin jelas bahwa antara Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus tidak ada ikatan persatuan dan tidak dapat disebut Tuhan yang Esa, masing-masing Tuhan memiliki pribadinya sendiri, inilah sistem kepercayaan banyak Tuhan (Pluralisme ketuhanan) sebagaimana juga yang diyakini oleh orang-orang Yunani maupun Romawi tentang keragaman dewa-dewa mereka.



Konsep ini sama dengan konsep 3 makhluk bernama manusia, ada si Amir sebagai Bapa, ada si Jhoni sebagai anak dan adapula si Robin, ketiganya berbeda pribadi namun tetap memiliki kesatuan, yaitu satu dalam wujud, sama-sama manusia, tetapi apakah ketiganya sama ? Tentu saja tidak, mereka tetaplah 3 orang manusia.



Tuhan Bapa, Tuhan anak maupun Tuhan Roh Kudus adalah sama-sama Tuhan namun mereka tetap 3 sosok Tuhan yang berbeda, inilah sebenarnya konsep yang terkandung dalam paham Trinitas atau Tritunggal pada dunia Kristen.



Sebagai akhir dari Bab ini, maka kita kemukakan dua hal penting lain sebagai pengantar pemikiran kritis bagi orang-orang yang meyakini ide Trinitas dan mempercayai akan kemanunggalan Jesus dengan Allah.



Pertama, dunia Kristen Trinitas meyakini bahwa Jesus merupakan anak Tuhan sekaligus Tuhan itu sendiri yang lahir menjadi manusia untuk menerima penderitaan diatas kayu salib demi menebus kesalahan Adam yang telah membuat jarak yang jauh antara Tuhan dengan manusia.



Sekarang, bila memang demikian adanya, bisakah anda menyatakan bahwa pada waktu penyaliban terjadi atas diri Jesus maka pada saat yang sama Tuhan Bapa (Allah) telah ikut tersalibkan ?



Hal ini perlu diangkat sebagai acuan pemikiran yang benar, bahwa ketika Tuhan telah memutuskan diri-Nya untuk terlahir dalam bentuk manusia oleh perawan Mariah maka secara otomatis antara Jesus dengan Tuhan Bapa tidak berbeda, yang disebut Jesus hanyalah phisik manusiawinya saja tetapi isi dari ruhnya adalah Tuhan sehingga hal ini menjadikan diri Jesus disebut Tuhan anak.



Dalam keadaan apapun selama tubuh jasmani Jesus masih hidup dan melakukan aktivitas layaknya manusia biasa, pada waktu itu Ruh Tuhan pun tetap ada dalam badan jasmani tersebut dan tidak bisa dipisahkan, sebab jika Ruh Tuhan telah keluar dari badan kasarnya maka saat itu juga Jesus mengalami kematian, karena tubuh jasmani telah ditinggalkan oleh ruhnya.



Jadi logikanya, sewaktu tubuh jasmaniah Jesus disalibkan, maka zat Tuhan juga telah ikut tersalib, artinya secara lebih gamblang, Tuhan Bapa telah ikut disalib pada waktu bersamaan (sebab mereka satu kesatuan).



Pada waktu tubuh jasmani Jesus bercakap-cakap dengan para murid serta para sahabat lainnya maka pada waktu yang bersamaan sebenarnya Tuhan-lah yang melakukannya dibalik wadag tersebut.



Dan sekarang bila Jesus mengalami kejadian-kejadian tertentu seperti mengutuki pohon Ara karena rasa laparnya namun ia tidak menjumpai apa-apa disana selain daun (Matius 21:18-19) maka hal ini menyatakan ketidak tahuan dari diri Jesus mengenai segala sesuatu dan implikasinya bahwa Tuhan yang mengisi jiwa dari wadag manusia Jesus pun bukanlah Tuhan yang sebenarnya, sebab ia tidak bersifat maha mengetahui sedangkan pencipta alam semesta ini haruslah Tuhan yang mengenal ciptaan-Nya sekalipun itu dalam wujud makhluk paling kecil dan hitam yang tidak tampak secara kasat mata berjalan pada malam yang paling kelam sekalipun.



Dan pada waktu Jesus merasa sangat ketakutan sampai peluhnya membasahi sekujur tubuhnya bagaikan titik-titik darah yang berjatuhan ketanah (Lukas 22:44) maka pada saat yang sama kita menyaksikan Tuhan yang penuh kecacatan, betapa tidak, Tuhan justru frustasi dan kecewa sampai Dia mau mati (Matius 26:38) akibat ketakutan-Nya kepada serangan para makhluk ciptaan-Nya sendiri yang seharusnya justru menjadi lemah dan bukan ancaman menakutkan dimata Tuhan.



Dan didetik-detik tersebut kita dapati pada Matius pasal 26 ayat 36 sampai 39 Jesus telah memanjatkan doa yang ditujukan kepada Tuhan. Sungguh suatu kejanggalan yang sangat nyata sekali, betapa Tuhan telah menjadi makhluk dalam bentuk manusia dan Tuhan itu masih memerlukan bantuan dari pihak lain (dalam hal ini Tuhan itu butuh bantuan Tuhan juga), disinilah sebenarnya kita melihat kenyataan bahwa Jesus itu sendiri bukan Tuhan, dia hanyalah makhluk dan sebagai makhluk maka seluruh dirinya terlepas dari unsur-unsur ketuhanan, baik jasmani maupun rohaninya.



Karena itu dia pasti membutuhkan bantuan Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang Maha Tahu, Tuhan yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dari ciptaan-Nya serta Tuhan yang Maha Gagah.



Silahkan anda sebagai penganut paham Trinitas memikirkan hal-hal ini secara lebih kritis lagi. Adapun sekarang hal kedua yang ingin saya kemukakan sebagai penutup Bab pertama ini adalah sehubungan kembali dengan dakwaan Trinitas akan kemanunggalan Jesus dengan Tuhan dan mereka itu dianggap sebagai satu kesatuan, sehingga Jesus disebut sebagai Tuhan itu sendiri (makanya dikenal sebagai Tuhan Jesus).



Dalam banyak kitab dan pasal pada Perjanjian Baru, kita sebut saja misalnya Matius 26:64, Kisah Para Rasul 7:55-56, Roma 8:34 dan sebagainya telah disebut bahwa Jesus sebagai Tuhan anak telah duduk disebelah kanan Tuhan Bapa, artinya mereka berdua (antara Tuhan Bapa dengan Tuhan anak) merupakan dua Tuhan yang berbeda, tidakkah ini menyalahi sendiri konsep kemanunggalan Jesus pada Tuhan Bapa yang diklaim oleh pihak Trinitas sendiri ?



Bukankah semakin jelas kita melihat ada dua Tuhan dan bukan satu Tuhan, dan jika paham satu Tuhan disebut sebagai Tauhid atau Monotheisme maka sistem banyak Tuhan (lebih dari satu Tuhan) disebut sebagai Pluralisme Tuhan atau Polytheisme.



Semoga hal ini bisa membawa anda kepada pemikiran yang benar, logis serta penuh kedamaian kembali kepada ajaran yang bisa anda terima secara lurus... ISLAM.



Wassalam.

Thursday, July 19, 2007

Jihad ?


Assalamu'alaykum Wr. Wb.,


 



Ajaran Jihad adalah ajaran yang mulia, didalamnya ada pesan-pesan moral dan hukum yang saling terintegrasi satu dengan yang lain.
Orang yang berjihad adalah orang yang berperang, dan fakta bahwa hidup ini pun merupakan sebuah peperangan, baik perang dalam arti phisik maupun
ideologi, baik dalam makna senjata atau makna mempertahankan kelangsungan hidup.

 


Jihad identik dengan peperangan antara kebenaran melawan kejahatan, antara yang hak dan yang batil karena itu istilah Jihad pun identik pula dengan perang suci, dan secara logika, jika sesuatu disebut dengan perang maka didalamnya harus ada dua orang atau lebih yang saling berhadapan dan saling berlawanan, saat sesuatu itu hanya bersifat sebelah tangan saja maka dia tidak bisa disebut dengan berjihad.


 


Beranjak dari sini maka patut dikaji lebih jauh apakah aksi-aksi pengeboman termasuk aksi bunuh diri terhadap orang-orang yang notabene tidak ada sangkut paut dengan permusuhan yang terjadi antara pihak kebenaran dan pihak kebatilan bisa dikategorikan dengan jihad yang diajarkan oleh Islam ?


 


Saat katakanlah misalnya negara Amerika sebagai negara yang paling bertanggung jawab atas berbagai kejahatan kemanusiaan diberbagai penjuru dunia Muslim, maka tindakan pemboikotan atas produk-produk Amerika, pembunuhan atas semua orang-orang Amerika yang berada dinegara lain yang sama sekali tidak terlibat dalam semua tindakan, perilaku maupun pengambilan keputusan pemerintahan dinegara Amerika itu sendiri bisa disebut sebagai jihad ?


 


Jika ini dijawab benar maka saya menyatakan bahwa keadilan didalam Islam tidak lebih dari sekedar lips service saja, tidak berbeda dengan konsep cinta kasih yang sering diumbar oleh orang-orang Kristen, semua hanya menjadi postulat-postulat yang sama sekali kosong makna,  lain kulit lain isinya dan agama memang hanya sekedar candu sebagaimana dikatakan oleh Karl Marx.


 


Ini adalah cara pandang yang amat sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, Islam tidak demikian, ajaran Islam begitu mengedepankan nilai-nilai keadilan, nilai-nilai rahmat, cinta kasih dan obyektifitas. Saat Islam identik dengan kekerasan yang subyektifitas maka saat itu juga Islam melepaskan baju Rahmatan lil'alaminnya, Islam is war, Islam is terorist religion and Islam is a hoax.


 


Dimasa awal wahyu turun kepada Nabi Muhammad, perang dalam arti bentrokan phisik yang berdiri dibawah satu komando belum menjadi satu syariat yang diwajibkan, masing-masing orang berperang dengan cara mereka masing-masing. Karena itu sejarah Islam dalam periode Mekkah dipenuhi dengan berbagai penderitaan para sahabat yang dizalimi oleh kaum Kafir Quraisy. Sebut saja contoh penderitaan Bilal bin Rabah yang dipanggang diatas panasnya gurun pasir berikut beban batu besar diatas tubuhnya oleh majikannya sendiri bernama Umayah bin Khalaf, lalu Amar bin Yasir beserta kedua orang tuanya yang diseret dengan keji oleh Bani Makhzum, lalu ada juga kisah Habab bin al-Arat yang disiksa tuannya dengan api dan besi panas yang ditusukkan kepunggungnya dan sebagainya.


 


Atas semua perlakuan tersebut Nabi Muhammad belum menyerukan kepada umatnya untuk melakukan peperangan terbuka, disamping wahyu untuk ini memang belum turun kepada Nabi, situasi dan kondisi umat Islam juga memang sangat tidak memungkinkan untuk terjadinya peperangan. Dari fakta sejarah ini umat Islam pun diajar bagaimana menyikapi perlakuan orang-orang Kafir terhadap dirinya saat situasi memang tidak mendukung. Disini Jihad dalam makna lebih luas diperlukan, Jihad tidak hanya berbuat sesuatu secara phisik tetapi juga secara non phisik, baik berupa materi maupun non materi.


 


Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. -Qs. 9 at-taubah :20


 


Inilah yang sudah pula dicontohkan oleh generasi Muslim pertama yang berlatar belakang saudagar seperti Khadijjah al-Kubra, Abu Bakar dan Usman bin Affan yang melakukan jihad melalui harta kekayaan mereka untuk kemajuan umat, untuk membebaskan umat dari belenggu kekafiran, belenggu penyiksaan phisik dan batin serta melepaskan umat dari kejumudan.


 


Adalah sangat tidak benar apabila kita membenci sesuatu kaum atas ulah pemerintahannya yang bersifat subyektif terhadap umat Islam dibeberapa negara dengan melakukan pembalasan-pembalasan semacam boikot produk, pengeboman ataupun teror-teror yang pada hakekatnya mengintimidasi rakyat dari kaum tersebut yang sekali lagi tidak terlibat dalam urusan politik negaranya. Banyak saja rakyat Amerika yang tidak setuju dengan cara dan perilaku politik George Bush, banyak juga rakyat Australia yang keberatan dengan tindakan John Howard yang membantu misi perang Amerika di Irak, begitu juga rakyat Inggris yang tidak sependapat dengan keputusan Tony Blair dan seterusnya dan sebagainya.


 


Mereka adalah manusia-manusia biasa, rakyat biasa sama halnya dengan kita dan saudara-saudara kita yang seringkali terjebak dalam situasi sulit atas ulah pemerintahan kita sendiri yang zalim. Okelah misalnya dari sisi akidah mereka berbeda dengan kita namun itu tetap tidak menjadikan alasan untuk melakukan perbuatan anarkis terhadap mereka. Apa yang dilakukan oleh katakanlah seperti McDonald, Kentucky Fried Chicken, California Fried Chicken, Texas dan berbagai perusahaan importir serta waralaba luar negeri di Indonesia pada prinsipnya adalah menyangkut bisnis, menyangkut sisi ekonomi dan selama kita tidak bisa membuktikan bahwa diluar prinsip ini mereka menyimpan motif tersembunyi, maka sejauh itu kitapun harus mengedepankan prinsip obyektifitas Islamiah.


 


Saya mempunyai gambar-gambar seperti iklan Coca-Cola yang menggunakan masjid al-Aqsha sebagai latar belakangnya dengan membuat kubah masjid itu berwarna merah dan bertuliskan Coca-Cola, sayapun mempunyai gambar Pepsi yang menampilkan iklan seorang anak yang baru saja mengalami kekerasan dari pihak Israel sebagai latar belakangnya namun saya masih belum yakin jika itu memang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan. Ini adalah masalah bisnis, didalam bisnis saling jatuh menjatuhkan sesama pesaingnya melalui berbagai macam cara adalah sesuatu yang lumrah, bisa saja gambar-gambar itu sengaja direkayasa oleh mereka yang tidak ingin perusahaan tersebut maju, rasanya dari sisi logika ekonomi, tindakan pemasangan iklan semacam itu hanya akan menimbulkan dampak merugikan bagi perusahaan itu sendiri, omset jelas akan menurun, produk-produknya kemungkinan besar akan diboikot malah bisa saja semua cabang atau perwakilannya dinegara-negara Muslim akan dihancurkan ... jelas sekali lagi ini menyalahi prinsip ekonomi.


 


Sekali lagi, kita harus bersikap obyektif, selama kita tidak bisa membuktikan validitas dari tuduhan kita maka selama itu juga kita harus adil terhadap mereka.


 


Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan. -Qs. al-Ma'idah 5:8


 


Sekali anda bertindak tidak adil apapun alasannya maka saat itu juga anda sendiri melawan ayat al-Qur'an diatas.


 


Islam memiliki syarat-syarat tersendiri didalam menerapkan hukum berjihad, dan dari sisi logika berpikir, semua persyaratan tersebut sangatlah manusiawi dan tidak menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan.


 


"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar." -Qs. 22 al-Hajj : 39-40


 


Disini berperang (khususnya secara phisik) wajib bagi orang-orang Islam yang negaranya diserang oleh negara lain, dalam tahapan ini umat Islam harus mempertahankan dirinya, harus mempertahankan hak mereka atas negara yang mereka diami dari manuver-manuver asing yang berusaha merebut dan mengusir kependudukan kita diatas negara kita sendiri.


 


Karenanya beranjak dari ayat ini, wajib atas orang-orang Palestina, orang-orang Chechnya, orang-orang Iraq, orang-orang Afganisthan dan sebagainya untuk melakukan perang, mengobarkan semangat Jihad terhadap agresor tanah air mereka..


 


Lalu bagaimana dengan umat Islam yang lain diluar negara-negara tersebut, apakah mereka pun dikenakan kewajiban yang sama sebab didalam Islam persaudaraan itu amatlah penting ?


 


Pertama, ayat diatas merujuk pada kewajiban yang sangat mutlak bagi rakyat yang negaranya diserang atau dijajah saja, implikasinya, rakyat yang berada diluar daerah atau negara tersebut secara hukum tidak terbebani secara mutlak untuk ikut membantunya. Dalam bahasa agama, kewajiban membela tanah air adalah fardhu 'ain atas masyarakat Islam yang negaranya diserang oleh negara-negara agresor, dan menjadi Fardhu Kifayah atas masyarakat Islam diluarnya untuk ikut membela negara tersebut.


 


Kita bisa ikut berjihad atas nama persaudaraan Islam dengan dua cara :


Jalan pertama kita berangkat secara phisik kenegara yang bersangkutan dan ikut mengangkat senjata terhadap negara dan pendudukan asing, jalan kedua melakukan jihad dengan harta benda dan pemikiran yang kita miliki. Misalnya dengan jalan membantu penyaluran dana, pemasokan senjata terhadap pejuang-pejuang Palestina, Chechnya, Iraq, Afganisthan dan sebagainya itu, melakukan kecaman dan protes kepada negara-negara agresor melalui perwakilannya dinegara kita masing-masing atau juga secara kenegaraan menghimbau diadakan perdamaian melalui forum dunia seperti PBB, NATO, OKI, OPEC dan sejenisnya.


 


Dalam situasi dan kondisi global seperti sekarang ini, adalah tidak mudah bagi suatu negara untuk secara terbuka melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara-negara adidaya karena negara yang bersangkutan terlibat konflik atau aksi kemanusiaan berdarah dinegara lainnya, apalagi bila negara adidaya ini begitu memegang peranan didalam percaturan politik dunia, baik dalam teknologi, komunikasi, persenjataan, perekonomian dan lain-lainnya. Ditambah antar negara-negara Islam sendiri hampir tidak ada kata persaudaraan, semuanya mementingkan diri sendiri, sehingga sebagaimana faktanya, hancurlah rezim Taliban di Afganisthan, porak-porandalah Iraq berikut rezim Saddam Husiennya, kusut masainya kondisi Palestina bersama gerakan Hamasnya, carut-marutnya situasi dinegara-negara bekas Uni Soviet dan lain sebagainya.


 


Semua fakta dan hal-hal yang melatar belakanginya inilah yang langsung maupun tidak langsung ikut menentukan pengambilan keputusan yang sifatnya crusial secara kenegaraan terhadap negara-negara agresor semacam Amerika, Australia, Prancis dan Inggris.


 


Olehnya Jihad tidak selalu harus dilakukan secara phisik, apalagi bila itu tidak secara langsung berhubungan dengan diri atau negara kita, setidaknya dari sisi immateri kita juga bisa berdoa kepada Allah agar kemenangan selalu diberikan kepada kaum Muslimin yang berjuang untuk negaranya.


 


Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). -Qs. an-Nisa'  4:84


 


Orang-orang Islam yang melakukan pengeboman di Indonesia dengan kedok membalas dendam terhadap ulah negara-negara agresor menurut hemat saya sudah salah sasaran, sebab notabene yang menjadi korban bukan lawan yang memang memerangi kita, lihatlah korban-korban yang jatuh, disana ada anak-anak, ada wanita, ada orang tua, ada satpam, ada pengendara motor yang sedang melintas, ada orang yang sedang berjualan mencari nafkah dan ada orang-orang tak berdosa lainnya. Ini bukan takdir jika mereka berbicara masalah takdir, ini adalah konsekwensi dari ulah perbuatan mereka yang salah, jika semuanya dilarikan atas nama takdir, maka orang akan mudah menyalahkan Tuhan dan ini satu ketimpangan berpikir.


 


Secara sederhana saja saya akan bawa anda pada analogi-analogi yang diberikan al-Qur'an :


 


"Kamu tidak dibalas melainkan apa yang sudah kamu kerjakan "- Qs. 36 Yasin : 54


"Bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain, dan seseorang tidak akan mendapat ganjaran melainkan apa yang telah dia kerjakan" - Qs. 53 an-Najm : 39


 


Artinya, seorang tidak menanggung beban orang lain, jika yang salah bapaknya maka bukan anaknya yang harus dihukum tetapi tetap sibapaknya, jika anda menabrak seseorang dijalan raya, maka yang ditangkap oleh pak polisi tentu bukan istri anda, bukan anak anda, tetapi anda, karena anda yang menabrak. Saat anda melakukan perbuatan yang salah dan keluarga anda yang harus menjadi terdakwanya, maka ini bukan hukuman yang adil.


 



Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah pula anak dihukum mati karena ayahnya; Setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri."
(Ulangan 24:16)




"Orang yang berbuat dosa, itulah yang harus mati. Anak tidak akan ikut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah pun tidak akan ikut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung diatasnya.
(Yehezkiel 18:20)

 


Itulah sebagai tambahan dari ayat-ayat dalam Perjanjian Lama.


 


Anda bukalah al-Qur'an, hampir semua ayat berjihad selalu digandeng dengan kata "..dengan harta dan jiwa mereka ..." ini semua mengisyaratkan bahwa Jihad tidak harus dalam makna perang phisik, adu kekerasan. Saat misalnya kita sedang mencari nafkah untuk anak istri kita, itu merupakan jihad, saat anda yang masih kuliah melakukan proses belajar mengajar, itupun jihad dalam rangka mencari ilmu memenuhi perintah Allah, seorang TNI yang mengabdi pada negara, menjaga misalnya kepulauan Ambalat agar tidak direbut oleh Malaysia, maka itupun jihad namanya. Saat kita melakukan perang pemikiran melawan misi Kristenisasi itupun sudah jihad. Jadi intinya kata jihad itu maknanya luas sekali dan memang secara terminologi kata Jihad berarti bersungguh-sungguh.


 


Nabipun pernah bersabda sepulang dari perang Badar :


 


Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju pada jihad yang besar yaitu jihad melawan hawa nafsu - Hadis Riwayat al-Khatib dari Jabir


 


Sesungguhnya musuh paling besar manusia ini adalah nafsunya sendiri, dia bisa saja berceramah panjang lebar pentang ayat dan kitab tetapi seringkali ia tidak mampu mengekang nafsunya untuk berlaku aniaya, bersyahwat, berlaku sombong, merasa diri paling alim, paling benar sendiri, paling kaya, paling hebat dan serba paling lainnya.


 


Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. -Qs. 12 Yusuf :53


 


Ada juga segelintir orang yang memahami ayat al-Qur'an mengenai Jihad secara salah sehingga amalnya pun bukan menjadi rahmat tetapi menjadi bencana untuk orang lain.


 


Perangilah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang sudah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. - Qs. 9 at-Taubah : 29


 


Padahal ayat ini berkorelasi dengan ayat berikut :


 


Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka sahabat hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka sebagai sahabat, dan jangan (pula) sebagai penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. - Qs. 4 an-Nisaa' 89-90


 


Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. - Qs. 8 al-Anfaal : 61


 


Artinya : Selama orang-orang kafir itu membuat permusuhan dengan kita, melakukan intimidasi, agresi dan semacamnya maka berhak atas kita untuk mengobarkan peperangan terhadap mereka sampai mereka mundur dari penyerangannya itu, dan tidak benar bagi kita untuk mengangkat mereka sebagai sahabat, sebagai partner kerja sebagai rekan bisnis apabila mereka berusaha menghalang-halangi kita dari jalan Allah, mencegah kita agar tidak sholat, tidak berhaji dan lain sebagainya. Akan tetapi bila orang itu berlaku arif, tidak mengambil sikap bermusuhan dengan kita maka disini sikap toleransi pun harus dikembangkan sebagaimana isi surah al-Anfaal ayat 61.


 


Arti Jizyah memang semacam upeti, tetapi saya memahaminya sebagai cara kepatuhan terhadap sistem hukum yang berlaku dinegara yang memang menjadikan Islam sebagai ideologi negara, diluar ayat tersebut, untuk negara yang tidak menjadikan Islam sebagai ideologi utamanya (misalkan saja negara kita Indonesia ini) maka saat misalnya seseorang membayar pajak kepada negara (baik itu pajak bangunan, pajak motor, pajak penghasilan) maka orang itu bisa disebut sudah tunduk terhadap sistem kenegaraan dan konsekwensinya orang itupun berhak menikmati pembangunan jalan, sarana rumah sakit dan lain-lainnya dan diapun berhak untuk mendapatkan pengayoman, perlindungan dan perdamaian, itu semua selaras dengan ayat 29 dari surah at-Taubah tadi.


 


Islam mengatur hukum-hukum dan perundang-undangan yang keras terhadap penganutnya, ini semua bertujuan untuk kebaikan simanusianya itu sendiri agar tidak salah jalan, tidak berbuat zalim, tidak berbuat mungkar, dan agar manusia bisa melakukan kontrol diri, tidak larut dalam gelimang nafsu duniawi semata.


 


Saat seseorang menyatakan diri sebagai Muslim maka saat itu juga semua syariat Islam secara teoritis menjadi satu kesatuan dalam hidupnya.


 


Adalah logis bila Islam tidak berhak mengatur terlalu jauh kehidupan orang non-Muslim, makanya syariat Islam itu hanya berlaku bagi orang Islam saja dan tidak berlaku bagi orang diluarnya. (Karenanya saya pribadi merasa lucu jika orang-orang Kristen meributkan piagam Jakarta).


 


Sholat hanya wajib atas orang yang Islam, orang Kristen meski dia satu negara, satu daerah atau satu keluarga dengan kita dia tidak dibebani kewajiban seperti seorang Muslim, demikian pula hukuman cambuk, hukuman potong dan seterusnya.


 


Tetapi tetap harus ada satu cara yang bisa mencegah terjadinya dis-integrasi umat, tidak mentang-mentang dia non-muslim, tidak percaya kepada Allah, tidak menghiraukan pantangan memakan babi, berlaku riba, melegalkan porno aksi, pornografi atau berbuat haram lainnya maka dia bisa seenak-enaknya saja bertingkah ditengah umat Islam, sebab inipun akan menimbulkan kekacauan dalam hidup keagamaan, bermasyarakat dan berbangsa.


 


Untuk itu mereka di-ikat dengan perjanjian perdamaian untuk hidup saling menghormati, mereka harus patuh terhadap sistem atau nilai-nilai peradaban yang ada dilingkungan mereka. We are not alone, we lived as a nation not between person to person only.


 


Ini normal sekali.


Sebab tanpa sistem maka tidak ada keaneka ragaman masyarakat.


Karenanya kita bisa melihat dari sejarah betapa banyak orang-orang Kafir yang tinggal diseputar Madinah sama sekali tidak diganggu oleh Nabi, mereka tunduk terhadap sistem, mereka mengembangkan sikap saling menghormati, demikian juga dijaman Umar dan Ali.


 


Bahwa kebenaran agama itu mutlak milik Allah adalah sesuatu yang tidak perlu dipungkiri, bahwa Allah pun sejak awal tidak ingin hidup ini kaku dan beku dengan menjadikan semuanya sama, semuanya Islam, semuanya bersatu ini juga fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahkan dalam memilih beragama sekalipun Allah tidak memberlakukan hak veto-Nya ini juga suatu fakta, karena itu kita harus pandai menganalisa dan pandai dalam memikirkan ayat-ayat Allah, sekali kita memahaminya secara salah maka saat itu juga kita akan terjebak dalam dunia subyektifitas.


 


Bila ayat 29 surah at-Taubah ini hanya dipahami tanpa melakukan korelasi dengan ayat-ayat lainnya maka tidak heran jika aksi bom bunuh diri, aksi pembantaian umat non Muslim yang tidak terlibat permusuhan secara langsung dengan umat Islam menjadi berita disurat kabar setiap harinya, sama seperti kasus orang memahami surah al-Maa'uun 107 ayat 4 tentang kecelakaan bagi orang-orang yang sholat, jika ini dipahami seperti ini maka niscaya ibadah sholat pasti akan ditinggalkan oleh umat Islam, padahal jika kita sedikit pintar dan mau belajar tidaklah demikian adanya.


 


Semoga kita bisa lebih bijak dalam bersikap dan berpikir,


Wassalam,


 


Armansyah


http://armansyah.swaramuslim.net