Thursday, October 30, 2014

Integritas: Sebuah Film Pendek

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=QC3NCKsTwCg]

Tuesday, October 28, 2014

The Four vs Undercover Agent (Review Film Mandarin Klasik)

Status kali ini saya buat sedikit beda.... jarang-jarang saya mau cerita tentang film khan? Nah meski saya tak suka dengan sosok Ahok bukan berarti saya tidak menyenangi semua hal yang berbau china.


Dulu, sekitar tahun 85-86 ada satu judul film china klasik yang sangat saya sukai. Judulnya: Si Da Ming Bu atau diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Under Cover Agent.


Kisah film ini tentang 4 pendekar golongan putih yang bergelar Emotionless (si kejam), Iron Hands (Tangan besi), Life Snatcher (Pengejar Nyawa) dan Cold Blood (si darah dingin). Mereka ditugaskan oleh gurunya, tuan Wong, untuk menjaga keselamatan kaisar Hui dari para pemberontak kerajaan.


undercoveragent

Friday, September 19, 2014

Tak perlu menggugat Jodha Akbar!

logo_jodha_akbar_india

Beberapa waktu terakhir, saya sering membaca banyaknya pihak-pihak tertentu yang memprotes keberadaan mini seri Jodha Akbar yang tayang di salah satu televisi swasta.  Kisah tersebut dianggap menyudutkan Islam.


Sebenarnya jika saya melihat sejarah aslinya, maka menurut saya pribadi tak perlu ada yang harus di protes disana. Tokoh Jalal atau aslinya Jalāl ud-Dīn Muhammad Akbar pada faktanya bukanlah penganut Islam yang benar. Dia bahkan membentuk satu agama baru yang merupakan perpaduan antara Islam, Hindhu, Zoroaster dan Jainism yang disebut sebagai Din-i-Ilahi (cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Din-e_Ilahi).


Kisah Jalal adalah kisah tentang seorang tokoh yang memang pernah ada dalam sejarah dunia di India. Kita tidak dapat menafikannya atau menolaknya. Cukup jadikan pelajaran saja apa yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebaliknya mana yang baik dari tokoh tersebut, tidak pula haram untuk kita ambil hikmahnya.


 

Demikian ....

Palembang Darussalam,

 

Armansyah

 

 

 

Rekaman Ceramah di Majelis Ta'lim: Salam

Silahkan di unduh jika berkenan... judulnya: "Salam".

Ceramah saya di salah satu majelis ta'lim

Link:

https://db.tt/vxKsGH2o

Format MP3, lama: 25 menit (download langsung dari akun Dropbox saya, tidak pakai survey atau iklan apapun).

Sedikit sinopsis:

Banyak dari kita umat Islam yang tidak mengerti tentang arti salam kita sendiri, akhirnya kita suka-suka dalam menggunakan salam. Ada yang menyingkatnya, ada yang menjadikannya ucapan "slang" dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.

 

Friday, September 12, 2014

Antara konsep Khilafah dan Pilkada tak langsung

Oleh : Armansyah


Ditulis di TL FB, 12 September 2014


Berbicara tentang rencana kembalinya pemilihan kepala daerah oleh anggota DPRD, pada hakekatnya saya sepakat dan setuju. Hal ini jika kita tinjau dari sistem Khilafah didalam Islam maka konsep pilkada tak langsung itulah yang lebih mendekatinya, walaupun sudut pandang dan dasar pijakannya tetap saja jauh berbeda, dimana yang satu berpijak pada syari'at Islam dan satunya lagi pada konsep demokrasi.


Pada sistem khilafah, seorang Khalifah dipilih berdasarkan musyawarah diantara para fuqaha, kurang lebih mirip-mirip anggta dewan tertinggilah ya. Dalam konsep ini masyarakat atau umat tidak terlibat secara langsung dalam prosesnya tapi setelah kemufakatan terjadi diantara para fuqaha itu maka umat wajib untuk sami'na wa-atho'na, taat. Meski demikian, sesuai dengan contoh yang ada pada masa Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, jika ada diantara masyarakat yang menolak berbaiat, mereka tidak dipaksa apalagi dihukum, kecuali bila mereka pada akhirnya membuat kekacauan didalam masyarakat.


Pada konsep khilafah, wilayah faqih tentu tidak dapat sembarang orang memasukinya, Tidak mungkin rakyat yang tak paham ilmu agama dipilih dan duduk disidang fuqaha seperti halnya konsep demokrasi. Menurut konsep wilayah faqih ini jika hal itu terjadi, maka seluruh konsep keagamaan dan kenegaraan yang berkaitan dengan hukum-hukum ilahi serta kemanusiaan akan kacau balau. Sementara menurut kaidah demokrasi, siapa saja asal mampu mempengaruhi banyak orang untuk memilihnya maka, entah apakah dia mampu atau tidak mampu, berilmu atau tidak berilmu, beriman atau tidak beriman... pokoknya sah dan dapat menjadi anggota legislatif. Ujung-ujungnya untuk mempengaruhi banyak orang ya harus banyak duit.


Jika ingin melihat konsep yang agak cenderung mendekati khilafah misalnya ada pada Iran hari ini, tentunya terlepas dari konsep pemahaman keagamaan yang dianut oleh mayoritas umat disana..


Kembali lagi pada soal pilkada.... saya seratus persen insyaAllah setuju dengan penjabaran Yusril Ihza Mahendra berikut (sumber kutipan saya sertakan di bagian akhir).