Wednesday, June 10, 2015

Fenomena mengumpat di Medsos

Mungkin ini adalah fenomena media sosial. Saya sering melihat orang nyaris tidak dapat lagi membedakan antara kritik dan hinaan.


Banyak saya membaca status-status yang isinya --mohon maaf-- penuh hujatan dan caci maki kepada orang-orang tertentu. Baik dalam kapasitas "rival privasinya" maupun terhadap "public enemy". Tak dapat saya pungkiri, terkadang ada juga rasa jengkel dan eneg melihat tingkah maupun kebijakan the common enemy ini, ya you know who-lah ya, gak usah dimentioned namanya.... cuma saya berusaha untuk mengontrol kata maupun tulisan saya tersebut.


Hal itu bukan perkara UU ITE atau hal-hal lainnya, itu mah sepele, urusan dunia. Tak perlu ditakuti. Makhluk kok ditakuti? UU ITE itu khan juga buatan makhluk. Yang pantas untuk ditakuti itu cuma Allah Azza Wajalla, bukan makhluk-Nya.


Saya semata melakukannya karena tidak ingin pahala dari amal baik yang saya lakukan satu demi satu dialihkan pada orang tersebut. Bayangin tuh, tiap buka beranda FB atau TW, pasti banyak saja yang nulis atau share berita berisi caci maki pada orang yang sama. Wah, enak bener orang itu. Sudah buat dosa, zalim eh dapat transferan pahala lagi. Ujung-ujungnya dia yang bikin dosa eh dia yang masuk syurga. Lah, kita... sudah terzalimi eh nyemplung di neraka gara-gara ngata-ngatain ame ngehujat dia melulu.


Kalo saya sih, tak rela amal sholeh saya didonasikan sama orang-orang ntuh. Jikapun ingin menulis sesuatu sebagai ekspresi kebencian kita pada sifatnya, usahakan untuk menempatkan kata-kata sindiran atau kritik yang memperlihatkan bahwa kita seorang muslim terpelajar. Kritik tidaklah mencaci maki, kita mesti dapat membedakan, mana kalimat kritikan dan mana kalimat cacian.




Shahih Muslim 4678: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.'


Sunan Tirmidzi 2342: Dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bertanya: "Tahukah kalian siapa orang yang rugi itu?" mereka menjawab: Orang rugi di antara kami wahai Rasulullah adalah orang yang tidak memiliki dirham dan barang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Orang rugi dari ummatku adalah orang yang membawa shalat, puasa dan zakat pada hari kiamat, ia datang sementara ia dulu pernah mencela si anu, menuduh berzina si anu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu dan memukul si anu. Ia duduk lalu kebaikan-kebaikan si ini diqisas dari kebaikan-kebaikannya, bila kebaikan-kebaikannya habis sebelum sepadan dengan kesalahan-kesalahannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu dibuang kepadanya, setelah itu dia dilempar ke neraka." Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.



Semoga bermanfaat.
Armansyah, Palembang Darussalam.
31 Mei 2015

Monday, June 1, 2015

Pro-Kontra amalan Nisfu Sya'ban (Tanggapan)

Ramai saya menerima BC tentang malam nisfu sya'ban bahkan ada yang bertanya pendapat saya terkait hal tersebut. Secara ringkas, jika saya tidak terlihat mengucapkan atau juga mempostingnya maka dapat dipastikan bila saya tidak mengamalkannya. Ada beberapa hadis dalam Kutubus Sittah menyinggung masalah ini namun hadis-hadis itu berderajat maudhu' (palsu) serta dho'if (lemah), hadis dengan derajat paling kuat adalah hasan.


Hadis-hadis itu antara lain (rantai sanad saya potong untuk memperingkasnya):




Sunan Ibnu Majah 1378: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila malam nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. " ---> Maudhu' / Dhoif Jiddan


Sunan Ibnu Majah 1379: Dari 'Aisyah ia berkata, "Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi' menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: "Wahai 'Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?" ia menjawab, "Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. " Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya'ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. " ---> Dho'if


Sunan Ibnu Majah 1380: Dari Abu Musa Al Asy'ari dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama'ah (murtad). " Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad An Nadlr bin Abdul Jabbar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Az Zubair bin Sualim dari Adl Dlahhak bin 'Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata; aku mendengar Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits. " ---> Hasan


Musnad Ahmad 24825: TDari Aisyah berkata; "Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan Rasul-Nya? ' Aisyah berkata; "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian isteri-isterimu." Beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah Azzawajalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Sya'ban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'."



Memang ada hadis yang menyebutkan tentang berpuasa di bulan Sya'ban, namun tidak dinyatakan tanggal tertentu. Misalnya:




Musnad Ahmad 23368: Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah ditanya tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka (Aisyah) Berkata: "Beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) berpuasa Sya`ban dan sangat menjaga puasa senin dan kamis."


Musnad Ahmad 23781: Dari Abdullah Al-Bahy dari Aisyah berkata; "Saya tidak pernah mengqodlo` puasa ramadhan kecuali di bulan sya`ban hingga Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam wafat."


Musnad Ahmad 23797: 'Abdullah bin Abi Musa berkata; Mudrik atau Ibnu Mudrik telah mengutusku kepada Aisyah supaya saya bertanya beberapa hal kepadanya. ('Abdullah bin Abi Musa) Berkata; ... Saya bertanya kepada (Aisyah) tentang hari yang diperselisihkan dari bulan Ramadhan, maka dia berkata; "Berpuasa satu hari dari Sya`ban lebih saya sukai dari pada saya tidak puasa satu hari dari bulan Ramadhan."



Tentang berpuasa diluar Romadhon sendiri, Rasulullah diberitakan senantiasa melakukannya dan menganjurkan umat beliau untuk juga mengamalkannya.




Shahih Bukhari 1845: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Abu At-Tayyah berkata, telah menceritakan kepada saya Abu 'Utsman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Kekasihku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mendirikan shalat Dhuha dua raka'at dan shalat witir sebelum aku tidur".


Sunan Abu Daud 2094: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari 'Ashim dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan.



Puncaknya, ada pula hadis lain berderajat shahih yang justru melarang orang untuk berpuasa karena menyambut Romadhon.




Sunan Tirmidzi 669: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muhammad dari Al 'Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: " Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya'ban, maka janganlah kalian berpuasa." Abu 'Isa berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits diatas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya'ban baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan." Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan.



Demikian kiranya.... namun seperti biasa, terhadap kawan-kawan yang mengamalkan puasa di Nishfu Sya'ban, saya tak mungkin juga melarangnya. Silahkan melakukan apa yang diyakini kebenarannya. Saya menghormatinya meskipun saya tidak mengamininya. Ini adalah pendirian dan keyakinan saya.


Semoga bermanfaat dan menjelaskan.
Palembang Darussalam. 01 Juni 2015


Armansyah.

Sunday, May 31, 2015

Karena panas, bolehkah mengakhirkan sholat?

Dalam keadaan suhu udara yang mulai memasuki musim panas seperti sekarang, kita semua tentu merasa gerah dan tidak nyaman, bahkan untuk melakukan sholat sekalipun mungkin akan terganggu. Ada pertanyaan yang masuk kepada saya, bolehkah kita menunda sholat sehingga udara menjadi lebih dingin? Jawabnya boleh.


Dasarnya :



Shahih Bukhari 855:  Anas bin Malik berkata, "Jika hari terasa sejuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyegerakan pelaksanaan shalat, dan bila udara panas beliau mengakhirkannya, yakni shalat Jum'at." Yunus bin Bukair berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Khaldah menyebutkan dengan lafadz 'shalat' saja dan tidak menyebutkan kata 'jum'at'. 

Shahih Muslim 973: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika hari sangat panas, maka tangguhkanlah shalat hingga suhu agak dingin, sebab panas yang menyengat berasal dari uap Jahannam."


Shahih Bukhari 502: Dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa keduanya menceritakan kepadanya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Jika udara sangat panas menyengat maka tundalah shalat, karena panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api neraka jahannam."

Shahih Muslim 976: Dari Abu Dzar dia berkata; Mu'adzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengumandangkan adzan zhuhur, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangguhkanlah hingga suhu agak dingin, tangguhkanlah hingga suhu agak dingin." -atau dengan redaksi- "Tunggu dulu, tunggu dulu." Lalu beliau melanjutkan sabdanya: "Panas yang menyengat berasal dari uap jahannam, jika panas menyengat, maka tangguhkanlah shalat hingga suhu agak dingin." Abu Dzar mengatakan; "Hingga kami lihat bayangan benda yang telentang (maksudnya beliau akhirkan sekian lama, dan benda yang telentang sangat jarang mempunyai bayangan selain setelah matahari sekian condong sekian banyak -pent)."

Sunan Darimi 1303: Dari Bakr bin Abdullah dari Anas ia berkata, "Kami pernah melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada waktu yang sangat panas, apabila salah seorang di antara kami tidak mampu menempelkan keningnya di tanah maka ia menghamparkan kain dan melakukan shalat di atasnya." 

Semoga bermanfaat.
Salam dari Palembang Darussalam.


31 Mei 2015, Armansyah.



Friday, May 29, 2015

Beragama secara plagiator

Dulu banyak orang yang beragama dengan model ikut-ikutan, entah cara beragama yang ia anut itu salah ataukah benar, sama sekali mereka tidak peduli. Terpenting apa yang ia dapati nenek moyangnya atau orang tuanya atau gurunya atau juga masyarakatnya menganut model dan amaliyah tertentu maka ia akan latah mengekornya. Padahal Nabi-nabi Allah sudah datang dan mengajak mereka untuk melakukan hal-hal yang benar secara syari'at. Sekarang pun sama. Masih juga terulang dijaman modern kita ini.


Orang banyak melakukan penyimpangan dari petunjuk yang telah diajarkan oleh Rasulullah, padahal agama ini sudah sempurna dengan status Muhammad sebagai Khotamannabi. Sedangkan perbuatan penyimpangan tersebut tidaklah dapat dikategorikan sebagai hal yang terbuka untuk ikhtilafiyah. Kok bisa? Jawabnya ya karena begitulah sunnatullahnya. Akan selalu terjadi pengulangan sejarah meskipun tidak harus persis sama wujudnya.


Islam ini adalah ajaran ilmu. Berbeda dengan agama lain diluarnya yang lebih kepada dogmatis-statis, menolak campur tangan akal hingga referensi yang jadi rujukan amaliyahnya. Sebagai agama ilmu, maka Islam sejak awal ia diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril membuka dirinya untuk menjadi pusat kajian secara ilmiah. Silahkan Iqro. Jangan cuma sibuk berkontemplasi saja, merenung dan bermuhasabah diri tapi melepaskan kewajiban fi'liyah beramar ma'ruf nahi mungkar. Wahay Ayyuhuhal Mudzammil, orang-orang yang berselimut, bangunlah. Jangan terus menerus terjebak dalam goa pemikiran yang sempit, gelap dan sedikit mendapat cahaya.


Jika kita menulis karya ilmiah seperti skripsi, tesis atau disertasi saja mesti jelas dan dapat dipertanggungjawabkan isinya dihadapan para penguji diruang sidang. Ada standar yang mesti dipenuhi agar tulisan tersebut bisa lulus uji sehingga kita dinyatakan layak menyandang gelar keilmuan tertentu. Nah begitupula dengan agama.


Al-Qur'an mengajarkan kita untuk mau berpikir kritis terhadap berbagai fenomena yang ia sampaikan bahkan juga termasuk untuk melakukan uji komparatif terhadap literatur sejenis diluarnya, seperti Injil dan Taurat. Beranjak dari hal-hal ini, selanjutnya para ulama mengembangkan ilmu musthalah hadits untuk mengevaluasi akurasinya dengan menggunakan kritik sanad dan matn.


Timbullah apa yang kita kenal istilah Mutawatir, Shahih, Hasan, Dho'if dan Ma'udhu. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang bersikap membebek sebagaimana halnya kaum terdahulu. Bukan beramaliyah secara kritis penuh keilmuan tetapi berdasarkan tradisiyah. Mereka tidak dapat memisahkan mana hal yang boleh untuk diperselisihkan serta mana juga hal yang menuntut sikap sami'na wa-atho'na. Andai dulu sewaktu merampungkan tesis S2 juga dapat melakukan hal yang sama, just copy paste tanpa peduli akan kejahilan plagiatisme... sayangnya dosen-dosen saya terlalu idealis dan penuh dedikasi sehingga sayapun jadi tidak melakukannya. Entahlah mereka yang memperoleh ijasah sarjana dengan penuh kecurangan.


Satu hal yang menjadi pemikiran saya sekaligus penutup status ini: Jika urusan tesis yang notabene urusan duniawiyah saja mesti begitu akuratnya maka bagaimana mungkin untuk urusan akhirat dan ketuhanan kita malah bersikap masa bodoh dan mencukupkan diri sebagai plagiator.


Palembang Darussalam, 10 Sya'ban 1436H.


Armansyah, S.Kom, M.Pd
Original posted: FB.

Rekaman Khutbah Jum'at 29 Mei 2015: Sangkakala dan Muhasabah

Oleh: Armansyah


Link download rekaman Mp3nya : https://soundcloud.com/armansyah-abi-daffa/khutbah-29052015


Berikut isi khutbahnya, silahkan di copy paste hal-hal yang mungkin dirasa perlu.


Mukaddimah


ayatsambunganpembuka



Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala pujian di akhirat. Allah Maha mengetahui setiap perkara ghaib maupun hal yang nyata. Mulai dari semut hitam yang berjalan diatas batu licin berlumut dimalam yang kelam hingga setiap lintasan niat yang tergores dalam pikiran setiap insan.


Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Allah adalah Sang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun kepada makhluk-Nya.


Mari kita sama-sama bertadabbur, sama-sama bersyukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang pada hari ini masih memberikan nikmat-Nya kepada kita semua sehingga dapat berkumpul dimasjid ini guna menjalankan salah satu syari’at dalam agama kita, yaitu sholat Jum’at berjemaah. Diberi-Nya kita kesehatan, kekuatan dan kemampuan untuk mendatangi masjid ini, duduk dan mendengarkan khutbah secara tenang dan damai.


Jika kita melihat kondisi dan nasib saudara-saudara kita, para pengungsi dari Rohingya, banyak dari mereka yang terlunta dilautan dan sebagian telah diselamatkan oleh Allah di Aceh, Sumatera Utara, Turki hingga Arab Saudi akibat dari keganasan rezim yang berkuasa dinegaranya. Mereka didera oleh begitu banyak ujian sehingga harus pergi dan terusir dari rumah mereka, dari masjid-masjid yang mereka cintai dikampung halamannya. Berpisah dengan sanak famili yang mungkin saja diantaranya sudah mati terbunuh.


Semoga Allah merahmati dan memberikan perlindungan serta keistiqomahan iman kepada mereka. Aamiin.


Wednesday, May 27, 2015

Suara aneh nan misterius dari langit (Tanggapan)

Kehebohan media nasional memberitakan adanya suara aneh yang misterius dari berbagai langit diseluruh dunia sebenarnya saya katakan sudah ketinggalan. Sebab saya sudah membaca dan melihat berbagai videonya sejak 2012 lalu di youtube.


[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=ox5saU4Xnmc&ab_channel=DeonVSearth]


Sejauh ini saya belum bisa memberikan komentar atau tanggapan tertentu terkait masalah ini karena memang saya pribadi --selain melalui youtube atau sejenisnya-- belum pernah mendengar secara langsung suara tersebut. Pertimbangan lainnya adalah untuk menghindari keterjebakan pada anekdot, kejadian rekayasa hingga mengkait-kaitkannya dengan hal-hal yang berbau mistis sehingga boro-boro memberikan explanation/pencerahan yang ada nantinya malah ikut menjerumuskan.


Pihak-pihak yang saya anggap berkompeten untuk menjelaskannya secara rasional dan ilmiah seperti NASA sudah memberikan statement resmi terkait kasus tersebut (malah sejak tahun 2001 lalu).




[caption id="attachment_5077" align="aligncenter" width="468"]Penjelasan dari NASA (http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2001/ast19jan_1/) Penjelasan dari NASA
(http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2001/ast19jan_1/)[/caption]

If humans had radio antennas instead of ears, we would hear a remarkable symphony of strange noises coming from our own planet. Scientists call them "tweeks," "whistlers" and "sferics." They sound like background music from a flamboyant science fiction film, but this is not science fiction. Earth's natural radio emissions are real and, although we're mostly unaware of them, they are around us all the time.


"Everyone's terrestrial environment almost literally sings with radio waves at audio frequencies," says Dennis Gallagher, a space physicist at the Marshall Space Flight Center (MSFC). "Our ears can't detect radio waves directly, but we can convert them to sound waves with the aid of a very low frequency (VLF) radio receiver."



Akan tetapi berhubung masalah ini sering dikait-kaitkan oleh publik terhadap nash agama yang berbicara tentang salah satu tanda awal dari kiamat adalah ditiupnya sangkakala, maka saya mencoba untuk ikut memberikan sedikit sumbangsih pemikiran agar tidak terjebak pada hal-hal yang keliru.


Benar didalam nash al-Qur'an dan hadist yang muktabar disampaikan akan adanya suara "tiupan terompet" sebagai salah satu pertanda awal terjadinya proses kiamat kubro. Pada status ini saya lampirkan contoh nash al-Qur'an yang berbicara masalah ini (surah Az-Zumar dan Yaasin).


azzumar


Akan tetapi ada sedikit catatan yang perlu sama-sama kita perhatikan.


Pertama. Jika tiupan terompet itu ingin diartikan secara harfiah maka sesuai dengan nash-nash keagamaan tadi, semua makhluk yang bernyawa akan langsung mati. Dan bila kita lalu mengaitkannya dengan suara aneh/ misterius yang sekarang menjadi fenomena diseluruh dunia, ya mestinya saat ini kita semua sudah mati. Fakta kita hari ini masih bernafas, masih dapat membaca status facebook (blog) saya ini meskipun suara itu mendengung-dengung sejak 2012 lalu, itu artinya hal tersebut cuma pembenaran yang dihubung-hubungkan semata.


Poin kedua, Istilah yang digunakan oleh al-Qur'an untuk "tiupan terompet " ini tidak tunggal. Sebagai contoh, pada surah Az-Zumar ayat 69 digunakan istilah "Suuri" namun pada surah Yaasin digunakan istilah "Shoyhatan" yang memiliki arti "teriakan".


yaasin


Perbedaan redaksional al-Qur'an terhadap satu kejadian yang sama, akhirnya dapat menimbulkan multi interpretasi terkait penafsiran kejadian tersebut itu nantinya. Bahwa boleh jadi yang dimaksud dengan tiupan terompet atau teriakan ini merupakan bentuk majas atau kiasan dari luar biasa dahsyatnya gemuruh suara kehancuran dunia pada hari kiamat itu. Entah itu karena adanya benda-benda langit yang menghujani bumi seperti di film-film Science fiction atau sebab-sebab lainnya. Wallahua'lam bisshawab.


infithar


Pastinya, tanpa bermaksud untuk menafikan atau juga menolak nya, saya pribadi untuk saat ini menganggap masih terlalu dini untuk mengaitkan fenomena suara misterius itu terhadap nash-nash agama, khususnya Islam.


Semoga Allah ta'ala melindungi dan mengampuni kita.
Salam dari Palembang Darussalam.
26 Mei 2015 | 08 Sya'ban 1436H


Armansyah Azmatkhan, S.Kom, M.Pd


Sebagai tambahan, berikut ada video yang dapat dijadikan tambahan informasi:


[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=kJpXfLjs3yw&ab_channel=7771cvetenceto]

Selektif dalam meneruskan dan membaca berita

Selektif dalam menerima dan meneruskan berita! Apalagi jika berita tersebut terkait agama.


Contohnya adalah tentang berita berikut yang saya temukan sedang melintas di beranda saya karena dishared oleh salah seorang teman maya. Perhatikan tulisan yang saya lingkari dengan warna merah.


contoh_berita_ttg_dajjal


Dalam artikel diatas ditulis :




Allah (s.w.t) telah berkata di dalam al-Qur’an bahawa seorang bayi yang kelihatan seperti dajjal akan dilahirkan di israel dan itu adalah petanda hari perhitungan. Telah dinyatakan juga di dalam al-Qur’an bahwa tanda ini adalah sebagian daripada tanda-tanda sebelum berlakunya hari pembalasan. Oleh karena itu, para muslimin dan muslimat seharusnya sudah mulai berubah dan menunaikan solat.



Pertanyaannya adalah : Tolong sebutkan didalam surah apa dan ayat berapa pada al-Qur'an tentang apa yang ditulis tersebut diatas?


Begitupula yang ini : 




Nabi Muhammad S.A.W. berkata:
‘Siapa saja yang menyebarkan berita ini kepada orang lain,akan aku tempatkan dia di dalam Jannah pada hari pembalasan….


Mari kita lihat jika syaitan menghentikannya
(mungkin bermaksud = menghentikan penyebaran pesan ini).



Pertanyaannya adalah : Tolong sebutkan hadis tersebut dengan redaksi diatas, bisa ditemukan dalam kitab apa, hadis nomor berapa dan siapa rantai sanadnya.


Niscaya sipenulis berita tidak akan dapat membuktikannya pada kita karena memang tidak ada didalam al-Qur'an ditulis tentang Dajjal sesuai dengan apa yang mereka tulis pada website tersebut, begitupula halnya dengan apa yang katanya bersumber dari dalam hadist Rasulullah sehubungan dengan penerusan pesan itu.


Hendaklah kita takut dengan pesan Rasulullah berikut:




Musnad Ahmad 2820: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abdul A'la dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berhati-hatilah terhadap hadits dariku, kecuali yang betul-betul kalian ketahui, karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di Neraka. Dan barangsiap yang berdusta atas nama Al Qur'an tanpa berdasarkan ilmu, hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka."